Korban Kekerasan Tak Selalu Bisa Pergi, Ini Penjelasan Psikolog Forensik
Korban Kekerasan Tak Selalu Bisa Pergi – Kasus dugaan kekerasan yang dialami YTR oleh TH kembali memancing pertanyaan di tengah masyarakat. Banyak orang penasaran, mengapa seseorang bisa tetap bertahan dalam hubungan yang berujung pada penderitaan, meski pelaku menyatakan mencintai korbannya. Sebenarnya, hubungan toksik yang terbentuk biasanya diharapkan segera berakhir. Namun, hal-hal negatif bisa terus terjadi jika korban tidak mampu melepaskan diri. Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam keluarga, tetapi juga dalam hubungan kekasih, rekan kerja, atau bahkan teman dekat.
Mengapa Korban Tidak Segera Mengakhiri Hubungan?
Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menjelaskan fenomena ini dalam acara Morning Zone yang tayang di YouTube Okezone. Menurutnya, kekerasan dalam hubungan, baik rumah tangga maupun pacaran, tidak langka terjadi. Tingkat keparahannya bisa bervariasi, mulai dari ringan hingga sangat intens. “Yang sedang kita bicarakan saat ini adalah fenomena yang jamak terjadi, namun dengan spektrum yang berat,” ujar Reza di acara Morning Zone.
“Tidak semua korban memiliki kekuatan untuk segera mengambil langkah, karena kecemasan, rasa takut, dan emosi negatif bisa menghambat keputusan mereka. Mereka mungkin merasa bahwa hanya dengan bertahan, masalah akan segera selesai,” kata Reza.
Korban Kekerasan Tak Selalu Bisa Pergi sering kali mengalami pola pikir yang mengikis kepercayaan diri mereka. Faktor seperti rasa cinta yang mendalam, ketergantungan finansial, atau kekhawatiran akan masa depan bisa membuat mereka tidak ingin meninggalkan pelaku. Reza menjelaskan bahwa kekerasan tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik, tetapi juga melalui pengendalian emosi, seperti memaksa korban untuk merasa bersalah atau mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
Faktor Protektif dan Tantangan dalam Proses Pemulihan
Kelompok faktor protektif seperti keluarga, teman, atau sumber pertolongan sering menjadi penyelamat bagi korban. Namun, ketika kecemburuan atau rasa tertambat telah mengikat mereka pada pelaku, relasi yang berat bisa terus berlangsung. “Nah, ketika kemudian hati telah tertambat pada seseorang, namun kemudian relasi itu problematik, relasi itu penuh dengan konflik, bahkan relasi itu diwarnai dengan kekerasan, berpulang,” lanjut Reza.
“Korban Kekerasan Tak Selalu Bisa Pergi karena mereka terbiasa dengan kehidupan yang terasa nyaman, meski nyaman itu didasari oleh rasa takut. Jika korban tidak memiliki jaringan pendukung yang kuat, mereka bisa terjebak dalam siklus berulang.”
Penting juga untuk memahami bahwa setiap korban memiliki latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda. Beberapa mungkin mengalami kekerasan sejak kecil, sehingga membangun hubungan dengan pelaku menjadi cara mereka mencari rasa aman. Reza menekankan bahwa kekerasan dalam hubungan adalah hasil dari interaksi antara pelaku dan korban, bukan hanya kesalahan satu pihak saja. Dengan memahami dinamika ini, masyarakat bisa lebih empatik terhadap korban yang tidak mudah pergi.
Peran Masyarakat dalam Membantu Korban Kekerasan
Dalam konteks sosial, masyarakat juga berperan penting dalam mendukung korban Kekerasan Tak Selalu Bisa Pergi. Reza menyebutkan bahwa adanya kesadaran masyarakat akan kekerasan domestik dan kekerasan dalam hubungan bisa memengaruhi tingkat kesadaran korban untuk segera mengambil langkah. “Kita perlu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, agar korban tidak merasa kesepian atau takut dihakimi,” tambahnya.
Menurut psikolog forensik tersebut, korban sering kali membutuhkan dorongan eksternal untuk melepaskan diri. Misalnya, melalui kegiatan keluarga, kesempatan kerja, atau bantuan dari organisasi yang fokus pada perlindungan korban. Dengan adanya pendekatan yang lebih holistik, korban tidak hanya bisa melepaskan diri dari kekerasan, tetapi juga membangun kepercayaan diri yang lebih kuat untuk menjalani kehidupan baru.
Psikologi korban kekerasan juga memperlihatkan bahwa proses pemulihan tidak selalu langsung. Ada tahapan perasaan kecewa, keraguan, hingga keputusan untuk memulai kembali. Reza menekankan bahwa setiap korban perlu waktu, dukungan, dan pengertian untuk memulihkan diri. “Korban Kekerasan Tak Selalu Bisa Pergi karena mereka membutuhkan waktu untuk mengenali diri sendiri dan merasa layak diperlakukan dengan baik,” pungkasnya.
