Majelis Ulama Iran Serukan ‘Special Plan’ untuk Pembunuhan Trump dan Netanyahu
Special Plan kembali mencuri perhatian publik setelah sejumlah tokoh ulama senior Iran mengeluarkan seruan resmi untuk membunuh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pernyataan yang disebarkan, Majelis Ulama mengatakan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari rencana khusus yang telah dirancang sebagai respons terhadap konflik Timur Tengah yang memanas. Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, yang terus berlanjut setelah serangan teror yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Latar Belakang dan Tujuan Special Plan
Pernyataan ‘Special Plan’ ini dianggap sebagai bagian dari strategi politik dan agama Iran untuk menegakkan keadilan di tengah perang saudara yang berlangsung di wilayah Timur Tengah. Menurut para ulama, Trump dan Netanyahu dianggap sebagai “tokoh yang bertanggung jawab atas pembunuhan rakyat Iran dan penguasaan wilayah yang disengajakan”. Dalam pidato mereka, dijelaskan bahwa tindakan membalas dendam melalui pembunuhan akan membantu mempercepat proses perdamaian dan mengembalikan kekuasaan politik Iran ke pihak yang dianggap lebih layak. Rencana ini juga dikaitkan dengan konsep “mahdur ad-dam” atau individu yang layak menerima hukuman mati dalam hukum syariah.
Krisis negosiasi antara Iran dan AS telah mencapai titik puncak dengan pembatalan kesepakatan perdamaian yang sempat diusahakan. Selama masa 60 hari yang dijanjikan dalam protokol 14 poin, kedua pihak belum mencapai kesepahaman mengenai masa depan program nuklir Iran dan perjanjian perdamaian dengan Israel. Seruan ‘Special Plan’ muncul sebagai tindakan akhir yang diharapkan dapat mengubah keadaan ketegangan tersebut. Dalam pernyataan mereka, ulama menyatakan bahwa Trump dan Netanyahu tidak boleh dibiarkan berada dalam posisi memimpin kebijakan yang dianggap merugikan Iran.
Dalam sebuah pernyataan resmi, Majelis Ulama Iran menegaskan bahwa ‘Special Plan’ adalah instrumen penting dalam mempercepat keadilan di bawah bimbingan agama. Mereka menyebutkan bahwa setiap individu yang terlibat dalam kejahatan terhadap Iran harus dihukum mati, terlepas dari identitas mereka.
Kebijakan ‘Special Plan’ ini juga memperkuat peran ulama dalam menyuarakan keputusan politik dan militer. Selama beberapa tahun terakhir, Majelis Ulama telah mengambil peran aktif dalam mengarahkan kebijakan Iran, termasuk dalam konflik dengan negara-negara Barat. Pernyataan mereka menegaskan bahwa Trump dan Netanyahu merupakan “target yang jelas” dalam upaya mencapai keadilan. Ulama menambahkan bahwa tindakan ini tidak hanya dilakukan sebagai balas dendam atas kematian Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, tetapi juga untuk memastikan kepentingan bangsa Iran terpenuhi.
Selain itu, ‘Special Plan’ ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya mempertimbangkan konflik politik, tetapi juga memasukkan aspek agama dalam strategi mereka. Dengan menyerukan pembunuhan Trump dan Netanyahu, Majelis Ulama berusaha menegaskan bahwa keputusan mereka bersifat konsisten dengan prinsip-prinsip syariah. Pernyataan ini juga menimbulkan perdebatan internasional, terutama mengenai apakah tindakan serupa dapat digunakan sebagai alasan untuk memperluas konflik Timur Tengah ke tingkat global.
