News

Announced: MUI Sesalkan Lagu Karya Bupati Purwakarta, Dinilai Tak Sejalan dengan Nilai Budaya Sunda

MUI Sesalkan Lagu Karya Bupati Purwakarta, Dinilai Tidak Sesuai Nilai Budaya Sunda

Announced: Jakarta, 4 Juli 2026 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) secara resmi mengkritik lagu karya Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, atau dikenal sebagai Om Zein. Lagu berjudul “Lalaki Langit Lalanang Bejat” ini dianggap oleh MUI tidak sejalan dengan prinsip budaya Sunda yang mengedepankan welas asih, keadilan, dan nilai-nilai keagamaan. Ketua MUI PRK, Siti Ma’rifah, menyatakan bahwa karya seni tersebut menjadi sorotan karena dinilai mengandung kesan merendahkan perempuan dan bertentangan dengan ajaran agama.

Nilai Budaya Sunda dianggap Terabaikan dalam Karya Seni

Announced melalui pernyataan resmi, Siti Ma’rifah menegaskan bahwa budaya Sunda memiliki peran penting dalam membentuk identitas masyarakat Purwakarta. “MUI merasa prihatin dengan adanya lagu yang diciptakan oleh seorang kepala daerah, karena selain menyimpang dari nilai-nilai budaya, lagu ini juga berpotensi memengaruhi generasi muda,” jelasnya. Menurut Siti, lagu tersebut tidak hanya memperlihatkan ketidakseimbangan dalam representasi gender, tetapi juga dianggap tidak menyampaikan pesan yang sejalan dengan keharmonisan sosial yang diharapkan dari para pemimpin.

Announced dalam penyataannya, Siti Ma’rifah menyoroti bagaimana lirik lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejat” menggambarkan perempuan sebagai objek yang dianggap “bejat” dalam konteks budaya Sunda. “Lirik yang dianggap provokatif ini mencerminkan kurangnya pemahaman tentang identitas budaya, terutama dalam menampilkan peran perempuan yang seharusnya dihormati,” tambahnya. Dalam budaya Sunda, perempuan dianggap sebagai pilar keluarga dan memiliki peran sentral dalam kehidupan sosial dan spiritual.

Analisis Konten Lagu dan Dampak terhadap Budaya Lokal

Announced oleh MUI, kritik terhadap lagu ini tidak hanya berfokus pada lirik, tetapi juga pada alur cerita dan penggunaan bahasa dalam komposisi musik. Siti Ma’rifah menyebutkan bahwa lagu tersebut menggunakan narasi yang dianggap kurang positif, sehingga berpotensi mengubah persepsi masyarakat tentang budaya Sunda. “Announced karya ini perlu dianalisis lebih dalam untuk memastikan tidak ada kesan radikal atau penggembur dalam nilai-nilai yang disampaikan,” tegasnya. MUI menyarankan agar para pejabat daerah lebih berhati-hati dalam menampilkan karya seni yang akan menjadi representasi kebudayaan setempat.

Announced di tengah masyarakat, kritik ini menimbulkan berbagai reaksi. Beberapa pihak setuju dengan tindakan MUI, sementara ada yang menganggap kritik tersebut terlalu berlebihan. “Lagu ini mungkin terkesan dramatis, tapi itu bagian dari ekspresi seni yang seharusnya diperkenalkan dengan konteks yang jelas,” kata salah satu pendukung karya Om Zein. Namun, MUI menegaskan bahwa penggunaan kata “bejat” dalam lirik dinilai sebagai bentuk penyelewengan terhadap nilai-nilai tradisional yang sudah terbukti berhasil membangun keharmonisan dalam masyarakat Sunda.

Kemitraan dan Langkah Pemimpin Daerah

Announced sebagai tanggung jawab kepala daerah, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menyampaikan permintaan maaf atas kritik yang muncul. “Saya memahami kekhawatiran MUI dan akan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki konten lagu ini,” ujarnya dalam pernyataan resmi. Ia juga menyatakan bahwa lagu tersebut ditujukan untuk menjadi perwujudan kebudayaan lokal yang relevan dengan masa kini, bukan untuk merusak nilai-nilai lama. Namun, MUI menekankan bahwa inisiatif ini perlu didukung oleh pemahaman yang mendalam tentang budaya Sunda.

Announced dalam konteks sosial, kritik MUI ini juga diharapkan menjadi momentum untuk menggali lebih jauh tentang peran seni dalam memperkuat nilai-nilai kebudayaan. “MUI tidak ingin membatasi kreativitas, tapi ingin memastikan karya seni tetap menjunjung tinggi identitas budaya yang menjadi warisan bangsa,” imbuh Siti Ma’rifah. Dengan demikian, kritik ini dianggap sebagai bentuk pengawasan terhadap peran para pemimpin dalam mewariskan nilai-nilai yang sesuai dengan norma sosial dan spiritual.

Leave a Comment