NewJeans Kembali Dituding Plagiat – Lagu ETA Digugat di AS
Gugatan Hak Cipta dari Amerika Serikat
NewJeans Kembali Dituding Plagiat – Lagu ETA, yang dinyanyikan oleh grup K-pop NewJeans, kembali menjadi sorotan karena dituduh melakukan plagiat terhadap karya musik sebelumnya. Gugatan yang diajukan oleh All Surface Publishing, perusahaan pemegang hak cipta dari Amerika Serikat, membawa masalah ini ke Pengadilan Distrik California. Dalam penyelidikan, para penggugat menyatakan bahwa elemen musik dalam ETA memiliki kesamaan signifikan dengan lagu dance yang rilis dua dekade silam. Isu ini mencuat setelah adanya penggunaan lagu tersebut dalam iklan yang dikelola oleh perusahaan tersebut, yang menurut mereka melanggar hak cipta. Perusahaan menekankan bahwa ETA adalah karya asli yang diproduksi dengan proses kreatif yang terukur, tetapi mengakui adanya kemungkinan penggunaan alat musik yang telah ada sebelumnya.
Kasus ini memperkuat kekhawatiran tentang keterlibatan NewJeans dalam pengambilan ide dari karya musik lain. Para penggugat menyebutkan bahwa melodi horn yang sinkopasi, pola ritme not ke-16, dan struktur bass drum pada ETA menunjukkan kesamaan dengan lagu Samir’s Theme, yang diterbitkan oleh DJ Debonair Samir pada 2005. Dalam dokumen hukum, mereka meminta ganti rugi berdasarkan aturan hak cipta AS, termasuk kompensasi finansial atas keuntungan yang diraih dari penggunaan ETA dalam iklan. Ini menjadi salah satu contoh kasus plagiarisme dalam industri musik yang kian menarik perhatian media dan masyarakat.
Dilansir dari Kbizoom, perusahaan pemegang hak cipta All Surface Publishing melalui pengacara mengajukan gugatan ke Pengadilan Distrik California. Mereka menyebutkan lagu ETA dipakai dalam iklan yang mereka selenggarakan.
Latar Belakang Lagu ETA dan Keterlibatan Artis
Lagu ETA merupakan bagian dari album pertama NewJeans yang dirilis pada 2023, dan sejak awal menjadi salah satu lagu yang mendapat perhatian besar karena gaya musiknya yang unik. Namun, adanya gugatan ini memberikan sorotan baru terhadap keterlibatan para anggota grup dalam proses penciptaan karya musik. Meski ADOR, label yang mengatur produksi NewJeans, menegaskan bahwa ETA dibuat dengan kerja sama tim kreatif dan tidak ada niat untuk menjiplak, gugatan tetap memicu pembicaraan tentang standar kreativitas dalam industri K-pop. Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan tentang apakah penggunaan elemen musik yang umum dianggap sebagai inspirasi atau plagiarisme.
Kasus ini menimbulkan perdebatan di antara para penggemar dan kritikus. Beberapa menilai bahwa kesamaan musik dalam ETA adalah hal yang wajar dalam industri musik modern, sementara yang lain menilai bahwa perusahaan harus lebih teliti dalam memilih lagu untuk digunakan dalam iklan. Selain itu, gugatan ini memperlihatkan bagaimana hukum hak cipta di AS dapat memengaruhi karier artis internasional, terutama yang bekerja dalam konteks kerja sama dengan pemegang lisensi dari negara lain. ADOR juga menegaskan bahwa proses acquisisi lagu ETA melalui Vana, seorang produser yang dipilih oleh mantan CEO mereka, Min Hee-jin, tetap memenuhi persyaratan hukum.
Respons ADOR dan Proses Legal
Sebagai respons terhadap gugatan, ADOR menyatakan sedang meninjau dokumen secara menyeluruh. Mereka menegaskan bahwa ETA adalah hasil dari proses kreatif yang dilakukan oleh tim mereka, dan tidak ada indikasi bahwa lagu tersebut dibuat dengan niat mencuri ide dari karya musik lain. Perusahaan juga berharap bisa menjelaskan bagaimana elemen musik dalam ETA diadaptasi dan dikembangkan menjadi karya baru. Sementara itu, pihak penggugat meminta pengakuan bahwa ETA mengandung penggunaan elemen dari Samir’s Theme, serta kompensasi berdasarkan aturan hukum AS.
Kasus ini menunjukkan kompleksitas peraturan hak cipta di tingkat internasional. Dalam dunia musik, plagiat sering dianggap sebagai hal yang bisa terjadi karena pengaruh dari karya-karya sebelumnya. Namun, penggugat berargumen bahwa ETA memiliki kesamaan yang cukup signifikan untuk dianggap sebagai pelanggaran. Selain itu, gugatan ini menjadi langkah awal dalam proses hukum yang bisa berdampak besar bagi reputasi NewJeans di pasar global. Dengan adanya perusahaan internasional yang mengajukan tuntutan, kasus ini bisa menjadi referensi untuk kasus serupa di masa depan.
Perdebatan seputar ETA juga mencerminkan perubahan paradigma dalam industri musik modern. Banyak kritikus menilai bahwa karya-karya populer sering kali mengandalkan kombinasi elemen dari berbagai genre dan era, sehingga perbedaan antara inspirasi dan plagiat bisa menjadi subjektif. Namun, kasus ini menekankan pentingnya pengakuan formal terhadap karya cipta, terutama ketika melibatkan nama besar seperti NewJeans. Proses penyelesaian gugatan ini akan menjadi penentu bagi keputusan hukum, serta menunjukkan bagaimana industri K-pop dan hak cipta saling berinteraksi di tingkat global.
