Economy

Buruh Pengupas Bawang Keluhkan Masuk Desil 6, Gaji Rp30 Ribu Sehari

mensos_soal_desil-1EG6_large

Keluhan Warga Soal Desil Mengemuka di Hadapan Mensos

Partaiberita.com – Ratusan warga yang mendatangi Kantor Kementerian Sosial di Jakarta pada Jumat, 18 September 2026, menyampaikan persoalan yang sama-sama berkaitan dengan pemeringkatan desil dan akses bantuan sosial. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menerima perwakilan warga tersebut untuk mendengar keluhan mereka secara langsung.

Dalam pertemuan itu, warga bergantian menjelaskan kondisi hidup yang mereka hadapi. Ada yang merasa tingkat desil dalam data tidak mencerminkan kemampuan ekonomi keluarganya, ada pula yang pernah menerima bantuan namun kini tidak lagi terdaftar sebagai penerima. Sebagian warga juga mengaku telah menempuh pengajuan pembaruan data melalui RT, RW, kelurahan, hingga dinas sosial, tetapi belum melihat perubahan pada status mereka.

Buruh Pengupas Bawang Tercatat di Desil 6

Salah satu cerita datang dari Mardiana, seorang buruh pengupas bawang yang menjadi tulang punggung bagi tiga anaknya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya tercatat berada pada desil 6, sementara pendapatan dari pekerjaannya hanya sekitar Rp30 ribu setiap hari.

Kondisi tersebut membuat Mardiana mempertanyakan penilaian yang menempatkan keluarganya dalam kelompok desil tersebut. Ia juga menggambarkan tempat tinggalnya yang berada di tepi kali sebagai bagian dari realitas ekonomi keluarganya.

“Saya ini orang susah juga. Rumahnya di pinggir kali, Pak,” kata Mardiana kepada Gus Ipul, Jumat (18/9/2026).

Bagi keluarga dengan pendapatan harian yang terbatas, perubahan status dalam data sosial dapat terasa sangat penting. Pemeringkatan desil menjadi perhatian karena warga memandangnya berkaitan dengan peluang memperoleh dukungan pemerintah, terutama ketika kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak tetap harus dipenuhi.

Warga Rusun Pesakih Meminta Kejelasan

Keluhan lain disampaikan Sri Sugiarti, warga Rusun Pesakih, Jakarta Barat. Sri mengatakan telah tinggal di rumah susun tersebut sekitar 14 tahun, tetapi belum pernah menerima bantuan. Saat ini, ia tidak lagi berdagang karena perlu merawat suaminya yang mengalami stroke.

Sri menjelaskan bahwa ia telah mencari jalan keluar melalui berbagai instansi, termasuk Wali Kota dan Dinas Sosial. Namun, upaya itu belum menghasilkan penyelesaian yang ia harapkan. Dalam kesempatan bertemu Menteri Sosial, ia meminta adanya bantuan dan kepastian atas persoalannya.

“Saya sudah ke Wali Kota, Dinas Sosial. Tapi tetap enggak ada solusi. Terus solusinya bagaimana, Bapak Menteri? Tolong dibantu,” kata Sri.

Cerita Sri memperlihatkan bahwa persoalan warga tidak selalu sebatas status penerima bantuan. Proses pengajuan, pembaruan, serta tindak lanjut data juga menjadi bagian yang menentukan. Ketika warga telah mendatangi tingkat lingkungan dan instansi pemerintah tanpa perubahan hasil, kebutuhan akan penjelasan yang mudah dipahami menjadi semakin besar.

Kekhawatiran terhadap Pendidikan Anak

Selain kebutuhan sehari-hari, akses pendidikan anak turut menjadi perhatian. Julia menyampaikan kekhawatirannya mengenai status desil keluarga yang berada pada rentang 6 hingga 10. Ia mencemaskan kemungkinan dampak status tersebut terhadap kesempatan pendidikan anaknya.

Kekhawatiran itu menunjukkan bahwa data kesejahteraan tidak dipandang warga sebagai sekadar angka administratif. Bagi keluarga yang tengah menghadapi keterbatasan ekonomi, data tersebut dapat memengaruhi rasa aman dalam merencanakan kebutuhan penting, termasuk keberlanjutan sekolah anak.

Desil pada dasarnya digunakan untuk mengelompokkan kondisi sosial ekonomi rumah tangga. Karena itu, ketepatan data menjadi hal yang sangat diperhatikan oleh warga. Perbedaan antara catatan administrasi dan keadaan nyata di lapangan dapat menimbulkan pertanyaan, khususnya bagi keluarga yang merasa masih berada dalam situasi sulit.

Pertemuan di Kementerian Sosial memberi ruang bagi warga untuk menyampaikan pengalaman mereka tanpa perantara. Beragamnya keluhan—mulai dari desil yang dinilai terlalu tinggi, bantuan yang terhenti, pembaruan data yang belum berdampak, hingga kecemasan terhadap pendidikan—menegaskan perlunya penanganan yang melihat kondisi masing-masing keluarga secara cermat.

Bagi Mardiana, Sri, dan Julia, harapan mereka berangkat dari kebutuhan yang berbeda, tetapi memiliki titik temu: data sosial diharapkan dapat menggambarkan keadaan keluarga secara lebih tepat. Dengan begitu, warga yang memang membutuhkan dapat memperoleh kejelasan mengenai langkah yang harus ditempuh serta akses bantuan yang sesuai dengan kondisi mereka.

Frequently Asked Questions

What is Buruh Pengupas Bawang Keluhkan Masuk Desil 6?

Buruh Pengupas Bawang Keluhkan Masuk Desil 6 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Buruh Pengupas Bawang Keluhkan Masuk Desil 6 matter?

Buruh Pengupas Bawang Keluhkan Masuk Desil 6 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *