Partaiberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kurangi Penggunaan BBM, Jaringan LNG untuk Pembangkit 477 MW di Nusa Tenggara Dikembangkan

Published September 15, 2026 · Updated September 15, 2026 · By Nancy Gonzalez - partaiberita.com

Foto : Nancy Gonzalez - partaiberita.com

Jaringan Logistik LNG Disiapkan untuk Pembangkit di Nusa Tenggara

Partaiberita.com – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyiapkan pengembangan LNG Logistics Network Cluster Nusa Tenggara untuk memperluas pasokan gas bagi pembangkit listrik di kawasan kepulauan tersebut. Infrastruktur ini ditujukan melayani pembangkit dengan total kapasitas 477 megawatt (MW) yang tersebar di lima titik, dari Lombok hingga Flores.

Proyek tersebut dirancang sebagai langkah pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) pada pembangkit yang telah memiliki kemampuan menggunakan gas. Selain mendorong pemakaian energi primer yang lebih efisien, peralihan ini diharapkan membantu menurunkan emisi dibandingkan penggunaan BBM.

PLN EPI menargetkan jaringan infrastruktur LNG itu mulai beroperasi pada awal 2029. Cakupan distribusinya meliputi Lombok, Sumbawa, Flores, dan Maumere, dengan tujuan memperkuat ketersediaan bahan bakar pembangkit sekaligus mendukung keandalan sistem kelistrikan di Nusa Tenggara.

Menjawab Tantangan Wilayah Kepulauan

Karakter geografis Nusa Tenggara membuat pengadaan gas bagi pembangkit membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan daerah yang telah tersambung pipa gas. Pasokan tidak cukup hanya mengandalkan sumber gas dari hulu, karena energi tersebut tetap harus diangkut dan disalurkan ke pulau-pulau tujuan melalui fasilitas pengolahan serta distribusi di tengah rantai pasok atau midstream.

Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarahwati menjelaskan bahwa Lombok menjadi salah satu contoh kebutuhan pembangunan infrastruktur tersebut. Pulau ini belum memperoleh aliran gas secara langsung dari sisi hulu, sehingga diperlukan fasilitas yang mampu membawa LNG sampai ke lokasi pembangkit.

“Untuk kasus Lombok, karena tidak ada pasokan gas yang langsung dari upstream, kita harus mengembangkan midstream-nya supaya kita bisa menyediakan sumber gas untuk pembangkit di Lombok,” kata Erma dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Dalam rantai pasok LNG, gas alam dicairkan agar volumenya lebih ringkas saat diangkut melalui laut. Setelah tiba di lokasi penerima, LNG diproses kembali menjadi gas melalui fasilitas regasifikasi sebelum digunakan sebagai bahan bakar pembangkit. Skema ini penting bagi daerah kepulauan yang tidak terhubung jaringan pipa gas antardaerah.

Lima Lokasi Pembangkit Dilayani

Pada fase awal, jaringan LNG Nusa Tenggara akan memasok gas untuk PLTMG Lombok Peaker, PLTMG Lombok-2 Sambelia, pembangkit di Sumbawa, Flores, dan Maumere. Kebutuhan rata-rata gas untuk seluruh jaringan itu diproyeksikan mencapai 39,8 BBTUD.

Pengembangan fasilitas gasifikasi diarahkan untuk memaksimalkan pemanfaatan unit pembangkit yang secara teknis dapat menggunakan gas, tetapi selama ini masih bergantung pada BBM. Perubahan sumber bahan bakar tersebut diposisikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi energi primer dalam operasi kelistrikan kawasan.

“Pembangkit-pembangkit yang sebenarnya bisa menggunakan gas dan selama ini masih menggunakan BBM, ini bisa kita ganti sumbernya dengan gas. Selain lebih efisien, gas juga lebih bersih dibandingkan BBM,” ujar Erma.

Keberadaan jaringan ini juga menempatkan logistik laut sebagai bagian utama dari pasokan energi. Ketersediaan kapal, kapasitas penyimpanan, serta kemampuan regasifikasi di tiap titik menjadi unsur yang saling berkaitan agar bahan bakar dapat tiba dan digunakan sesuai kebutuhan pembangkit.

Kapal LNG dan Fasilitas Penerima

Untuk mendukung pengiriman ke lima lokasi, PLN EPI menyiapkan satu kapal pengangkut LNG berkapasitas 22.000 CBM. Kapal tersebut direncanakan menjalankan perjalanan pulang-pergi sekitar 10 hari dalam satu siklus dan mendistribusikan LNG secara bergiliran ke seluruh titik dalam klaster Nusa Tenggara.

Di sisi penerima, PLTMG Lombok Peaker direncanakan memiliki tangki LNG berkapasitas 8.000 meter kubik dengan kemampuan regasifikasi 32,07 MMSCFD. Fasilitas di PLTMG Lombok-2 Sambelia akan disiapkan dengan kapasitas penyimpanan 5.000 meter kubik dan regasifikasi 23,75 MMSCFD.

Sumbawa dirancang memiliki tangki 7.500 meter kubik dengan kapasitas regasifikasi 29,29 MMSCFD. Untuk Flores, fasilitas yang direncanakan mencakup kapasitas tangki penyimpanan 2.500 meter persegi serta kemampuan regasifikasi 19,08 MMSCFD. Adapun Maumere akan memiliki kapasitas penyimpanan LNG 4.500 meter kubik dan regasifikasi 9,50 MMSCFD.

Rangkaian kapasitas tersebut menunjukkan bahwa tiap lokasi dipersiapkan sesuai kebutuhan operasionalnya. Tangki penyimpanan memberi ruang untuk menjaga persediaan LNG, sementara fasilitas regasifikasi memastikan LNG dapat diubah kembali menjadi gas sebelum dialirkan ke pembangkit.

Dengan target operasi pada awal 2029, proyek ini diharapkan memperluas pilihan bahan bakar pembangkit di Nusa Tenggara. Bagi sistem kelistrikan yang melayani wilayah kepulauan, diversifikasi pasokan energi primer menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan bakar dan menjaga kontinuitas operasi pembangkit.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Kurangi Penggunaan BBM Jaringan LNG?

Kurangi Penggunaan BBM Jaringan LNG is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kurangi Penggunaan BBM Jaringan LNG matter?

Kurangi Penggunaan BBM Jaringan LNG matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.