Partaiberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

PGN Jadi Offtaker Biomethane 150.000 MMBTU dari Limbah Sawit, Integrasikan ke Infrastruktur Gas

Published Oktober 6, 2026 · Updated Oktober 6, 2026 · By Michael Garcia - partaiberita.com

Foto : Michael Garcia - partaiberita.com

PGN Siapkan Penyerapan Biomethane dari Limbah Sawit di Sumatera Selatan

Partaiberita.com – Penggunaan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan mulai memasuki tahap pembangunan fasilitas produksi biomethane di Sumatera Selatan. Proyek tersebut dirancang menghasilkan sekitar 150.000 MMBTU biomethane setiap tahun dan akan dihubungkan dengan jaringan distribusi gas milik PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN.

PGN bekerja sama dengan Toyota Tsusho Indonesia (TTI) serta PT KIS Biofuels Indonesia (KIS) untuk memanfaatkan biomethane yang berasal dari limbah organik pabrik kelapa sawit. Kolaborasi ini ditujukan untuk mendukung ketersediaan energi domestik pada masa mendatang sekaligus memperluas pemanfaatan gas terbarukan bagi sektor industri.

Pada Senin, 5 September 2026, PGN menghadiri groundbreaking fasilitas biomethane yang dikembangkan oleh TTI dan KIS. Pembangunan pabrik tersebut menjadi bagian dari upaya mengolah residu sawit menjadi sumber energi yang dapat disalurkan kepada pengguna industri.

PGN Berperan sebagai Pembeli dan Penyalur

Dalam skema kerja sama ini, PGN bertindak sebagai offtaker atau pembeli utama biomethane yang dihasilkan. Perusahaan juga mengambil peran sebagai transporter, sehingga gas terbarukan tersebut dapat disalurkan melalui infrastruktur pipa PGN.

Biomethane akan diproduksi oleh PT KIS Toyota Tsusho Biomethane Indonesia (KTBI), perusahaan patungan yang dibentuk oleh KIS dan TTI. Setelah diproduksi, energi tersebut direncanakan dialirkan kepada Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) serta pelanggan industri lainnya melalui jaringan pipa PGN.

Model ini menempatkan infrastruktur gas yang telah tersedia sebagai penghubung penting antara lokasi produksi biomethane dan kebutuhan energi industri. Dengan demikian, pemanfaatan limbah sawit tidak berhenti pada proses pengolahan di fasilitas produksi, tetapi dapat masuk ke dalam rantai pasok energi bagi pengguna akhir.

“Kami mengapresiasi TTI dan KIS yang telah memulai pembangunan fasilitas biomethane ini. Bagi PGN, ini adalah langkah penting untuk menghadirkan gas terbarukan dari sumber domestik ke dalam rantai pasok energi nasional. PGN siap mendukung melalui infrastruktur dan kapabilitas niaga yang kami miliki agar biomethane dapat dimanfaatkan oleh sektor industri,” ujar Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Memanfaatkan Potensi Limbah Organik Sawit

Sumatera menjadi lokasi penting bagi pengembangan proyek ini karena kawasan tersebut memiliki banyak pabrik kelapa sawit. Limbah organik dari aktivitas pengolahan sawit menjadi bahan utama yang dimanfaatkan untuk menghasilkan biomethane. Inisiatif ini disebut sebagai proyek pertama di Indonesia yang memproduksi biomethane di Sumatera.

Pengembangan fasilitas tersebut juga menjadi realisasi dari nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara PGN dan TTI mengenai pengembangan biomethane di Indonesia. Kesepakatan itu telah ditandatangani pada 2022, sedangkan pembangunan fasilitas kini menandai kelanjutan konkret dari kerja sama kedua pihak.

Biomethane merupakan gas terbarukan yang dalam pemanfaatannya dapat menggunakan infrastruktur yang juga dipakai untuk gas bumi. Kondisi ini memberi ruang bagi pelanggan untuk beralih ke biomethane dengan kebutuhan modifikasi infrastruktur yang minimal. Bagi industri, ketersediaan jalur distribusi menjadi faktor penting karena penggunaan energi tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada kemampuan energi tersebut mencapai lokasi pemakaian.

Jaringan pipa PGN dalam proyek ini berfungsi sebagai sarana untuk membawa biomethane dari produsen kepada pelanggan. Peran tersebut memungkinkan fasilitas biomethane dan konsumen industri terhubung dalam sistem distribusi yang telah tersedia, tanpa perlu membangun jalur penyaluran baru khusus untuk setiap pengguna.

Tambahan Pilihan Energi bagi Industri

Pengembangan biomethane dipandang dapat melengkapi pemanfaatan gas bumi yang terus meningkat sejalan dengan upaya dekarbonisasi di sektor industri. Kehadiran gas terbarukan dari sumber domestik membuka pilihan energi tambahan bagi pelaku industri yang menggunakan sistem gas dalam kegiatan operasionalnya.

Selain aspek pasokan energi, proyek ini juga menunjukkan pemanfaatan limbah organik sebagai bagian dari rantai nilai energi. Limbah dari pabrik kelapa sawit yang sebelumnya berada di lingkungan produksi dapat diolah menjadi biomethane, kemudian didistribusikan kepada pengguna industri melalui jaringan pipa.

Target produksi sekitar 150.000 MMBTU per tahun menjadi ukuran kapasitas yang direncanakan dari fasilitas tersebut. Realisasinya akan mendukung pasokan biomethane yang dapat diserap PGN sebagai pembeli utama, lalu disalurkan kepada TMMIN dan industri lain yang terhubung dengan infrastruktur distribusi perusahaan.

Kolaborasi PGN, TTI, dan KIS memperlihatkan keterkaitan antara pengelolaan limbah, produksi energi terbarukan, perdagangan gas, serta pengangkutan energi bagi pelanggan. Dengan pabrik biomethane yang mulai dibangun di Sumatera Selatan, proyek ini diarahkan untuk membawa gas terbarukan berbasis sumber daya domestik ke dalam pemanfaatan industri nasional.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is PGN Jadi Offtaker Biomethane 150 000 MMBTU?

PGN Jadi Offtaker Biomethane 150 000 MMBTU is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does PGN Jadi Offtaker Biomethane 150 000 MMBTU matter?

PGN Jadi Offtaker Biomethane 150 000 MMBTU matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.