Megawati: Bangsa yang Besar, Berani Menatap Sejarahnya Sendiri
Megawati: Keberanian Menghadapi Masa Lalu Menandai Bangsa Besar
Partaiberita.com – Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa ukuran kebesaran sebuah bangsa terletak pada keberaniannya menghadapi seluruh lapisan sejarah — baik yang gemilang maupun yang menyakitkan. Pernyataan itu ia lontarkan ketika bertindak sebagai Inspektur Upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, yang digelar di lapangan Masjid At-Taufiq, kawasan Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, pada Senin (17/8/2026).
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menatap sejarahnya sendiri, bukan hanya sejarah yang indah, tetapi juga sejarah yang pahit. Bukan hanya sejarah yang membanggakan, tetapi juga sejarah yang menyisakan pertanyaan."
Megawati menambahkan bahwa masyarakat yang enggan berhadapan dengan masa lalunya akan terjebak selamanya dalam bayang-bayang masa lalu, tanpa mampu melangkah ke depan.
18 Tahun Isolasi Bung Karno
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan itu menyinggung rekam jejak kelam perjalanan politik Proklamator Kemerdekaan. Bung Karno, menurutnya, harus menanggung total 18 tahun dalam kondisi terisolasi dari kekuasaan — mencakup penjara, pengasingan, hingga tahanan rumah.
Ia merinci rincian periode tersebut: 12 tahun dihabiskan dalam tahanan dan pengasingan di bawah kolonialisme Belanda, dua tahun diasingkan selama revolusi fisik berlangsung, serta empat tahun menjalani tahanan rumah tanpa pernah melalui proses peradilan pada era Orde Baru.
"Coba kamu bayangkan, Bung Karno itu proklamator, terus tiba-tiba pada zaman Orde Baru, ketika zaman Pak Harto itu, beliau karena Pak Harto ingin menjadi presiden, maka Bung Karno itu dilakukan suatu penahanan. Saya pun tidak tahu namanya apa. Hanya ditaruh permulaan di Istana Bogor, setelah itu di Batu Tulis, setelah itu lalu di Wisma Yaso. Tanpa sebuah proses pengadilan."
Megawati mengungkapkan bahwa dirinya beserta anggota keluarga Bung Karno lainnya tidak pernah menerima penjelasan resmi mengenai perlakuan tersebut. Meski demikian, ia menekankan bahwa Bung Karno sendiri tidak membingkai pengalaman itu sebagai penderitaan.
"Namun Bung Karno menegaskan bahwa itu bukan penderitaan, melainkan pengorbanan terhadap cita-cita kita, yaitu Indonesia merdeka yang berdaulat."
(Arief Setyadi)
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Megawati?Megawati is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Megawati matter?Megawati matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.