Partaiberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Tokoh Muda NU Dorong Alat Bantu Seks Boleh di Lapas, Ini Alasannya

Published Oktober 4, 2026 · Updated Oktober 4, 2026 · By Jessica Martinez - partaiberita.com

Foto : Jessica Martinez - partaiberita.com

Ubaidilah Amin Soroti Pengelolaan Kebutuhan Biologis Warga Binaan

Partaiberita.com – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Ubaidilah Amin, mengemukakan pandangannya mengenai pemenuhan kebutuhan biologis bagi warga binaan di lembaga pemasyarakatan. Ia membuka kemungkinan agar penggunaan alat bantu seks dipertimbangkan sebagai salah satu isu yang dapat dibahas dalam lingkungan lapas.

Gagasan tersebut disampaikan Ubaidilah pada Minggu, 4 Oktober 2026. Dalam pandangannya, kebutuhan biologis merupakan persoalan personal karena setiap individu memiliki tingkat dorongan dan hasrat yang tidak sama. Karena itu, ia menilai kebutuhan tersebut perlu dikelola secara tepat agar tidak berkembang menjadi persoalan lain.

“Sudut pandang saya boleh, tapi tidak baik. Kenapa demikian, setiap orang punya hasrat biologis yang berbeda dan tentunya jika hasrat itu tidak dilampiaskan akan menimbulkan penyakit dan tentunya emosi yang tidak terkendalikan,” kata Ubaidilah.

Pernyataan itu menempatkan pembahasan mengenai alat bantu seks di lapas dalam konteks yang lebih luas, yakni pengelolaan kondisi biologis dan emosional warga binaan. Ubaidilah tidak menggambarkan penggunaan alat tersebut sebagai pilihan yang ideal, tetapi menilai isu itu layak dipertimbangkan melalui sudut pandang kebutuhan manusia yang beragam.

Persoalan yang Memerlukan Pertimbangan Menyeluruh

Lembaga pemasyarakatan pada dasarnya menjadi ruang pembinaan bagi orang yang sedang menjalani pidana. Kehidupan di dalam lapas memiliki aturan, pengawasan, serta keterbatasan yang berbeda dibanding kehidupan di luar. Dalam situasi tersebut, berbagai kebutuhan warga binaan dapat menjadi bagian dari pembicaraan yang memerlukan pertimbangan matang, termasuk aspek kesehatan fisik dan kestabilan emosi.

Pandangan Ubaidilah menyoroti pentingnya membedakan antara pembahasan kebutuhan biologis dengan pembenaran tanpa batas. Ia menyampaikan adanya ruang untuk mempertimbangkan alat bantu seks, namun sekaligus menegaskan bahwa pilihan itu bukan hal yang dipandang baik dalam kerangka nilai yang ia pegang.

Perdebatan mengenai isu semacam ini tidak hanya berkaitan dengan keinginan individual. Jika dibahas dalam konteks lembaga pemasyarakatan, sejumlah aspek akan relevan untuk diperhatikan, seperti ketertiban lingkungan, pengawasan, kesehatan, keamanan, serta nilai dan norma yang berlaku. Karena itu, pembicaraan tentang kebijakan tidak dapat dipisahkan dari tujuan pembinaan dan kondisi warga binaan secara keseluruhan.

Ubaidilah menekankan bahwa dorongan biologis yang tidak dikelola dapat berhubungan dengan munculnya gangguan emosional. Pernyataan tersebut menunjukkan fokusnya pada kebutuhan untuk menata respons manusiawi dalam kondisi yang penuh pembatasan, tanpa mengabaikan pertimbangan moral dan agama.

Pandangan dalam Ajaran Islam

Selain mengemukakan pertimbangan mengenai kebutuhan biologis, Ubaidilah juga menjelaskan sikapnya melalui perspektif Islam. Ia menyebut agama telah memberikan tuntunan tentang cara menyalurkan hasrat biologis secara benar.

“Secara pandangan agama Islam, untuk melampiaskan hasrat biologis dengan cara-cara yang sudah diajarkan agama, dengan cara menikah, atau jika belum mampu kita diminta untuk berpuasa,” ujarnya.

Dalam penjelasan itu, pernikahan ditempatkan sebagai jalan yang diajarkan untuk menyalurkan hasrat biologis. Sementara bagi orang yang belum mampu menikah, puasa disebut sebagai bentuk pengendalian diri. Ubaidilah mengaitkan kedua hal tersebut dengan pendekatan keagamaan dalam menghadapi dorongan biologis.

Pandangan keagamaan yang disampaikan Ubaidilah memperlihatkan adanya batas antara pertimbangan praktis dan ideal moral. Ia tidak mengabaikan kenyataan bahwa tiap orang dapat memiliki kebutuhan yang berlainan, tetapi tetap menyatakan bahwa Islam menawarkan pedoman untuk mengatur dorongan tersebut.

Menempatkan Warga Binaan sebagai Subjek Pembinaan

Pembicaraan mengenai warga binaan kerap berpusat pada status hukum dan masa pidana. Namun, kehidupan di lapas juga menyangkut kondisi manusia yang tetap memiliki kebutuhan fisik, emosional, sosial, dan spiritual. Ubaidilah membawa perhatian pada salah satu sisi yang jarang dibicarakan secara terbuka, yaitu pengelolaan hasrat biologis selama seseorang menjalani pembinaan.

Isu ini dapat dipahami sebagai bagian dari diskusi mengenai perlakuan terhadap warga binaan secara manusiawi, tanpa mengesampingkan aturan yang berlaku di lembaga pemasyarakatan. Setiap kebijakan yang menyangkut kehidupan di dalam lapas tentu perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap seluruh penghuni, petugas, dan suasana pembinaan.

Dalam konteks itu, pandangan Ubaidilah tidak berhenti pada soal diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Ia juga menempatkan pengendalian diri sebagai unsur penting. Baginya, kebutuhan biologis memang nyata dan berbeda-beda pada setiap orang, tetapi cara menyikapinya tetap perlu diarahkan melalui pertimbangan kesehatan, emosi, norma, dan ajaran agama.

Diskusi mengenai kebutuhan biologis warga binaan pun membutuhkan ruang yang hati-hati dan proporsional. Pembahasannya perlu menghindari penyederhanaan, sebab isu tersebut berkaitan dengan pengalaman personal, kondisi psikologis, tata tertib lapas, dan nilai yang hidup di masyarakat.

Ubaidilah Amin menyampaikan posisi yang bernuansa: alat bantu seks dapat menjadi hal yang dipertimbangkan, meski ia tidak menilainya sebagai pilihan yang baik. Sementara itu, dalam pandangan Islam yang ia jelaskan, penyaluran hasrat biologis diarahkan melalui pernikahan, atau puasa bagi mereka yang belum mampu menikah.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Tokoh Muda NU Dorong Alat Bantu?

Tokoh Muda NU Dorong Alat Bantu is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Tokoh Muda NU Dorong Alat Bantu matter?

Tokoh Muda NU Dorong Alat Bantu matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.