Partaiberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kisah Unik Pebulu Tangkis Gloria Emanuelle Widjaja, Pernah Latihan Pakai Tutup Panci!

Published September 30, 2026 · Updated September 30, 2026 · By Richard Thomas - partaiberita.com

Foto : Richard Thomas - partaiberita.com

Gloria Emanuelle Widjaja Memulai Perjalanan Bulu Tangkis dari Depan Rumah

Partaiberita.com – Karier Gloria Emanuelle Widjaja sebagai pebulu tangkis profesional ternyata memiliki awal yang sangat sederhana. Sebelum terbiasa dengan raket, lapangan, dan jadwal latihan teratur, atlet kelahiran Bekasi itu mengenal olahraga tersebut melalui kebersamaan bersama keluarganya di depan rumah.

Pengalaman masa kecil itu dibagikan Gloria ketika hadir sebagai narasumber GenZone Talks dalam iNews Campus Connect 2026 di Universitas Tarumanagara (Untar), Rabu, 30 September 2026. Ia mengingat bulu tangkis menjadi salah satu kegiatan santai keluarga pada sore hari, jauh sebelum dirinya masuk klub dan menekuni olahraga itu secara serius.

Berkenalan dengan Bulu Tangkis pada Usia Tujuh Tahun

Gloria mengungkapkan bahwa ayahnya memperkenalkan bulu tangkis saat ia berusia sekitar tujuh tahun. Permainan tersebut melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk ibu dan saudara perempuannya. Aktivitas yang awalnya hanya menjadi hiburan di rumah itu kemudian membawa Gloria ke jalur prestasi.

“Jadi momen itu papi aku, cici aku, semua sama mami tuh kadang kita sore-sore suka, ‘Main badminton yuk!’” ujar Gloria.

Suasana bermainnya pun tidak selalu seperti latihan bulu tangkis pada umumnya. Keluarga Gloria membeli shuttlecock secara satuan dari warung, lalu memakainya untuk bermain bersama. Sementara itu, alat pengganti raket yang digunakan Gloria kecil justru berasal dari perlengkapan dapur.

Tutup Panci sebagai Pengganti Raket

Gloria mengenang bahwa ia pernah menggunakan tutup panci ketika bermain bulu tangkis. Bukan tutup panci modern seperti yang banyak ditemui saat ini, melainkan model lama yang berbentuk bulat dan dibuat dari besi. Bagian tengahnya dapat dilepas, sehingga tangan bisa masuk dan menjadikannya lebih mudah digenggam.

“Pakainya tutup panci,” katanya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap olahraga dapat tumbuh dari sarana yang sederhana. Pada masa itu, tujuan Gloria dan keluarganya bukan mengejar prestasi atau mempersiapkan pertandingan. Mereka hanya menikmati waktu bersama pada sore hari, dengan shuttlecock dari warung dan tutup panci sebagai perlengkapan bermain.

Meski demikian, permainan rutin tersebut tampaknya memberi kesempatan bagi ayah Gloria untuk melihat kemampuan putrinya. Dari aktivitas yang awalnya dilakukan tanpa tuntutan, muncul perhatian bahwa Gloria mungkin memiliki potensi lebih dalam bulu tangkis.

Mulai Menjalani Latihan yang Lebih Terarah

Seiring berjalannya waktu, ayah Gloria mengajaknya berlatih dengan lebih serius. Keputusan itu menjadi titik penting dalam perjalanan atlet yang memiliki tinggi badan 182 sentimeter tersebut. Gloria kemudian mengikuti pelatihan bulu tangkis di wilayah Bekasi.

“Sudah jadi berjalannya waktu cuma main-main di depan rumah mungkin pada saat itu bokap ngelihat kali ya, kok kayaknya anak gue ada potensi,” tutur Gloria.

Peralihan dari permainan rumahan menuju latihan terstruktur membuat rutinitasnya berubah. Pada tahap awal, Gloria berlatih dua sampai tiga kali dalam seminggu bersama anak-anak lain. Intensitas itu perlahan berkembang seiring dirinya semakin mendalami olahraga tepok bulu.

“Jadi selama seminggu bisa tiga kali atau dua kali untuk awal-awal. Tambah lama seminggu kali kan, selebihnya pagi sekolah. Pagi sekolah, siang ke sore atau sore ke malam aku latihan,” ujarnya.

Jadwal tersebut menggambarkan proses yang perlu dijalani seorang atlet sejak usia muda. Pagi hari Gloria tetap bersekolah, sedangkan waktu setelahnya digunakan untuk latihan. Keseimbangan antara pendidikan dan latihan menjadi bagian dari fase pembentukan kemampuan sebelum seorang pemain mampu berkembang lebih jauh.

Mengasah Pengalaman dari Berbagai Pertandingan

Setelah kemampuan dasarnya makin terbentuk, Gloria tidak hanya berlatih di klub. Ia juga mulai merasakan atmosfer pertandingan dalam berbagai lingkup, terutama kompetisi yang melibatkan klub-klub lokal di sekitar Bekasi. Pengalaman bertanding menjadi pelengkap dari rutinitas latihan yang sudah dijalaninya.

Gloria menceritakan fase itu dengan nada santai dan penuh humor. Ia menyebut siap mengikuti pertandingan dari level lingkungan hingga antarklub, sebagai bagian dari prosesnya mengumpulkan pengalaman di lapangan.

“Antar-nasional, antar-klub, antar-RT, RW, semua gua jabanin,” kata Gloria sambil bercanda.

Perjalanan Gloria memperlihatkan bahwa fondasi seorang atlet tidak selalu dibangun melalui fasilitas lengkap sejak awal. Ketekunan, kesempatan untuk bermain, dukungan keluarga, serta keberanian mengikuti pertandingan dapat menjadi bagian penting dari perkembangan seorang pemain. Dari halaman rumah di Bekasi, raket pengganti berupa tutup panci, hingga latihan yang dijalani setelah sekolah, langkah-langkah kecil itu akhirnya mengarahkan Gloria menuju dunia bulu tangkis profesional.

Bagi anak-anak yang baru tertarik mencoba bulu tangkis, cerita Gloria juga menegaskan pentingnya memulai dari rasa senang. Peralatan yang layak tentu dibutuhkan ketika latihan menjadi lebih serius, tetapi kegemaran terhadap olahraga sering kali bertumbuh lebih dulu dari momen sederhana bersama orang-orang terdekat. Dalam kisah Gloria, ajakan bermain pada sore hari menjadi awal dari perjalanan panjang yang kemudian membentuk kariernya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Kisah Unik Pebulu Tangkis Gloria Emanuelle?

Kisah Unik Pebulu Tangkis Gloria Emanuelle is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kisah Unik Pebulu Tangkis Gloria Emanuelle matter?

Kisah Unik Pebulu Tangkis Gloria Emanuelle matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.