Jangan Asal Cukur Habis Bulu Kemaluan, Ini Cara Aman Rawat Area Sensitif
Partaiberita.com – Jangan Asal Cukur Habis Bulu kemaluan hanya demi mengikuti tren perawatan area sensitif. Bagi sebagian orang, merapikan pubic hair bisa menjadi pilihan pribadi untuk alasan kenyamanan atau kebersihan. Namun, mencukur hingga benar-benar licin bukanlah kewajiban medis dan perlu dilakukan dengan hati-hati karena kulit genital cenderung lebih sensitif.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, mengingatkan bahwa bulu kemaluan bukanlah kotoran. Keberadaannya memiliki fungsi alami, salah satunya membantu mengurangi gesekan pada kulit area genital serta memberi perlindungan bagi kulit yang sensitif.
“Pertama, aku mau lurusin dulu, bulu kemaluan itu bukan kotoran. Pubic hair itu punya fungsi alami. Salah satunya adalah membantu mengurangi gesekan pada kulit area genital dan memberikan perlindungan pada kulit yang sensitif,” ujar dr. Aditya.
Karena itu, keputusan untuk mencukur, merapikan, atau membiarkannya tumbuh sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan masing-masing. Tidak ada keharusan untuk menghilangkan seluruh bulu kemaluan. Yang terpenting adalah menjaga kebersihan area sensitif dan memilih cara perawatan yang tidak memicu luka atau iritasi.
Risiko jika mencukur bulu kemaluan terlalu dekat
Menurut dr. Aditya, mencukur bulu kemaluan sampai habis dapat meningkatkan risiko cedera, terutama bila pisau cukur digunakan terlalu menempel pada permukaan kulit. Gesekan dan tekanan pada kulit bisa memicu mikroluka, iritasi, razor burn, folikulitis atau peradangan folikel rambut, hingga ingrown hair atau rambut tumbuh ke dalam.
Riset JAMA Dermatology terhadap 5.674 orang yang melakukan pubic hair grooming menemukan 25,6 persen responden pernah mengalami cedera ketika mencukur atau merapikan bulu kemaluan. Cedera yang paling banyak dilaporkan adalah luka atau laceration, yakni sekitar 61,2 persen dari seluruh cedera yang terjadi.
Selain luka, sebanyak 23 persen cedera berupa burn atau rasa terbakar pada kulit, sedangkan 12,2 persen lainnya adalah ruam. Data tersebut juga menunjukkan bahwa 1,4 persen dari seluruh orang yang melakukan grooming sampai membutuhkan pertolongan medis. Temuan ini menjadi pengingat bahwa perawatan area sensitif tidak bisa dilakukan sembarangan.
“Dan cedera yang paling banyak dilaporkan adalah luka atau laceration, sekitar 61,2%. Kemudian burn itu 23% dan ruam 12,2%. Bahkan, 1,4% dari seluruh groomer sampai membutuhkan pertolongan medis,” terang dr. Aditya.
Ketika lapisan pelindung kulit atau skin barrier di area genital mengalami kerusakan, mikroorganisme penyebab infeksi dapat lebih mudah masuk. Para peneliti juga mengingatkan bahwa cedera pada area genital dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, termasuk infeksi menular seksual. Karena itu, jangan asal cukur habis bulu kemaluan tanpa mempertimbangkan kondisi kulit dan kebersihan alat yang digunakan.
Cara lebih aman merawat area sensitif
Bagi yang ingin tetap melakukan pubic hair grooming, pilihan yang lebih sederhana adalah merapikan panjang rambut tanpa harus mencukurnya sampai licin. Cara ini dapat membantu menjaga penampilan tetap rapi sekaligus mengurangi risiko kulit terkena gesekan pisau cukur secara langsung.
Jika memilih menggunakan pisau cukur, pastikan alat yang dipakai bersih, tajam, dan tidak digunakan bergantian dengan orang lain. Hindari mencukur saat kulit sedang mengalami iritasi, luka, ruam, atau peradangan. Kulit yang sudah sensitif akan lebih mudah mengalami masalah bila terkena gesekan tambahan.
Proses mencukur juga sebaiknya dilakukan perlahan dan tidak terburu-buru. Jangan menekan pisau terlalu keras atau mengulang gesekan berulang kali pada titik yang sama. Setelahnya, perhatikan respons kulit. Bila muncul nyeri hebat, luka, bengkak, ruam yang menetap, atau tanda infeksi, sebaiknya segera mencari bantuan tenaga kesehatan.
Bagaimana dengan waxing?
Waxing merupakan metode yang mencabut rambut hingga ke akar sehingga hasilnya dapat bertahan lebih lama. Namun, metode ini tetap memiliki risiko iritasi atau luka apabila tekniknya tidak tepat maupun kebersihan prosesnya tidak terjaga. Dalam studi JAMA Dermatology, metode waxing pada perempuan dikaitkan dengan tingkat cedera berulang yang lebih rendah dibanding penggunaan pisau cukur manual atau non-elektrik.
Meski demikian, hasil tersebut bukan berarti waxing selalu bebas risiko untuk semua orang. Kondisi kulit setiap orang berbeda, sehingga metode perawatan yang terasa nyaman bagi satu orang belum tentu cocok bagi orang lain. Pertimbangkan untuk menghentikan perawatan bila kulit menunjukkan reaksi yang tidak biasa.
FAQ seputar perawatan bulu kemaluan
Apakah bulu kemaluan harus dicukur sampai habis?
Tidak. Tidak ada kewajiban medis untuk mencukur bulu kemaluan hingga bersih total. Bulu kemaluan memiliki fungsi alami untuk mengurangi gesekan dan membantu melindungi kulit genital yang sensitif.
Apakah bulu kemaluan membuat area intim kotor?
Tidak. Bulu kemaluan bukan kotoran. Kebersihan area intim lebih berkaitan dengan kebiasaan menjaga kebersihan tubuh secara tepat, bukan dengan keharusan menghilangkan seluruh rambut di area tersebut.
Kapan perlu waspada setelah mencukur?
Waspadai luka, nyeri yang tidak membaik, bengkak, ruam berat, atau keluhan yang mengarah pada infeksi. Jangan abaikan kondisi tersebut, terutama karena kulit area genital sangat sensitif. Merapikan dengan aman jauh lebih penting daripada memaksakan hasil cukur yang licin.