Partaiberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Love Scamming Banyak Sasar Korban Usia 45-60 Tahun, Psikolog Ungkap Penyebabnya

Published Agustus 14, 2026 · Updated Agustus 14, 2026 · By Jennifer Miller - partaiberita.com

Foto : Jennifer Miller - partaiberita.com

Love Scamming Banyak Sasar Korban Usia 45-60 Tahun

Partaiberita.com – Modus penipuan yang memanfaatkan kedekatan emosional dan romantis ini ternyata tidak hanya mengincar mereka yang dianggap kurang melek teknologi. Love Scamming Banyak Sasar Korban berusia 45 hingga 60 tahun menjadi kelompok yang paling sering terjebak. Menariknya, korban-korban ini umumnya memiliki tingkat pendidikan dan kecerdasan yang memadai, sehingga bukan sekadar faktor usia yang menjadi penyebab utama. Fenomena ini semakin mengkhawatirkan karena menunjukkan pola yang konsisten dalam target penipu.

Mekanisme Pembentukan Kedekatan Emosional

Pelaku scamming cinta biasanya memulai pendekatan secara bertahap. Melalui komunikasi yang intens, mereka memberikan perhatian lebih, pujian, dan membuat korban merasa memiliki hubungan istimewa. Yang menjadi poin penting, korban tidak selalu buta terhadap tanda-tanda keanehan. Bahkan dalam situasi tertentu, seseorang bisa saja curiga sedang berhadapan dengan penipu, namun tetap memutuskan untuk melanjutkan interaksi.

Menurut Psikolog Klinis Dewasa, Hersa Aranti, kondisi psikologis individu yang telah menginjak usia 45 tahun ke atas menjadi faktor krusial. Hersa menyampaikan hal ini dalam program Morning Zone yang disiarkan melalui YouTube Okezone. Penjelasan ini memberikan wawasan mendalam tentang mengapa kelompok usia tertentu lebih rentan terhadap modus penipuan ini.

Fase Kehidupan yang Beragam dan Kebutuhan Tersembunyi

Usia 45 tahun ke atas merupakan periode kehidupan yang sangat bervariasi. Setiap orang memiliki pengalaman dan situasi hidup yang berbeda-beda. Namun, bagi sebagian individu, fase ini dicirikan oleh stabilitas dan struktur yang lebih baik dibandingkan masa muda. Kesibukan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, rutinitas harian, serta perubahan dalam lingkaran sosial membuat seseorang jarang mendapatkan pengalaman yang memberikan sensasi spontan atau kegembiraan seperti dulu.

Hersa menjelaskan bahwa di usia ini, banyak perempuan yang merasa ada kekosongan emosional yang belum terisi. Kehidupan yang sudah mapan justru bisa membuat seseorang merasa kurang mendapat perhatian yang tulus.

Di usia 45 tahun ke atas, sudah berada di usia yang beragam dan variatif hal-hal yang terjadi dalam kehidupannya. Biasanya sudah tidak muda lagi, tidak banyak sparks atau hal-hal yang berwarna. Sudah berada di usia yang lebih settle dan stabil.

Kebutuhan Emosional yang Terpenuhi Melalui Hubungan Virtual

Dalam kondisi semacam ini, kehadiran seseorang yang memberikan perhatian intensif dapat membangkitkan kembali perasaan yang mungkin sudah lama terabaikan. Ucapan selamat pagi, pesan sebelum tidur, pujian rutin, atau sekadar teman yang selalu siap mendengarkan cerita bisa memberikan nuansa baru. Bagi banyak korban, perhatian ini bukan hanya tentang romantisme semata.

Ada kebutuhan emosional yang turut terpenuhi, seperti keinginan untuk didengarkan, dihargai, ditemani, dan merasa memiliki seseorang yang peduli. Inilah yang menurut Hersa menjadi alasan mengapa korban tetap melanjutkan hubungan meskipun sebenarnya sudah muncul kecurigaan.

Bisa jadi sebenarnya sudah sadar bahwa ini scamming, tetapi tetap dilanjutkan karena ternyata bisa mengisi kekosongan itu. Enak juga setiap hari ada yang mengajak ngobrol, setiap hari ada yang memberikan ucapan-ucapan manis, sehingga akhirnya tetap dilakukan.

Tanda-Tanda dan Cara Mencegah Love Scamming

Untuk menghindari modus penipuan ini, penting untuk mengenali tanda-tanda awal. Pelaku biasanya menghindari pertemuan langsung dalam waktu lama, sering meminta bantuan finansial, dan memiliki profil yang tidak konsisten. Baca juga: Tips Menghindari Penipuan Online bagi Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang cara melindungi diri.

Penting untuk tetap waspada dan tidak terburu-buru dalam memberikan kepercayaan. Komunikasi yang jujur dan transparan dapat membantu mengidentifikasi apakah seseorang benar-benar tulus atau hanya berkepentingan. Dengan memahami psikologi korban, kita bisa lebih bijak dalam membangun hubungan, baik secara online maupun offline.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Love Scamming

Apa itu love scamming? Love scamming adalah modus penipuan yang memanfaatkan kedekatan emosional dan romantis untuk mendapatkan keuntungan finansial dari korban.

Mengapa perempuan usia 45-60 tahun menjadi target? Kelompok ini memiliki kebutuhan emosional yang belum terpenuhi, stabilitas finansial, dan sering kali merasa kesepian meskipun memiliki kehidupan yang mapan.

Bagaimana cara mengenali love scammer? Perhatikan tanda-tanda seperti menghindari pertemuan langsung, sering meminta bantuan uang, dan profil yang tidak konsisten atau terlalu sempurna.

Apakah korban harus malu jika terjebak? Tidak. Love scamming bisa menargetkan siapa saja, termasuk mereka yang berpendidikan tinggi dan cerdas. Yang penting adalah belajar dari pengalaman dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Related Reading