News

Korban Meninggal Akibat Gempa M6,7 di Sulteng Bertambah Menjadi 3 Orang

Korban Meninggal Akibat Gempa M6,7 di Sulteng Bertambah Menjadi 3 Orang

Korban Meninggal Akibat Gempa M6 7 terus bertambah setelah gempa bumi dengan magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026). Hingga Kamis (18/6), jumlah korban jiwa yang tercatat mencapai tiga orang, menurut data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Gempa ini memicu kepanikan di berbagai daerah, terutama di Kabupaten Sigi, yang menjadi wilayah paling terparah akibat bencana alam tersebut. Sejumlah warga masih berupaya menyelamatkan diri dan mengevakuasi korban yang terjebak di bangunan rusak.

Detail Gempa dan Aktivitas Susulan

Gempa tektonik yang berkekuatan 6,7 terjadi pada pukul 11.27 WITA, dengan pusat gempa berada di darat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, tepatnya di Kabupaten Parigi Moutong. Kedalaman gempa sekitar 10 kilometer, membuat dampaknya lebih terasa di area sekitar. Selain itu, BMKG mencatat sebanyak 703 gempa susulan dalam 48 jam terakhir, dengan magnitudo tertinggi mencapai 5,2 dan terkecil 1,3. Puluhan gempa susulan masih terus dirasakan oleh warga setempat, meski intensitasnya tidak sebesar gempa utama.

Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur

Menurut data BNPB, korban meninggal akibat gempa M6 7 mencapai tiga orang, dengan distribusi korban di tiga desa berbeda. Dalam keterangan tertulisnya, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa rata-rata korban meninggal akibat gempa M6 7 berasal dari wilayah yang rawan kerusakan. Jumlah korban jiwa yang tercatat sejauh ini belum mencapai angka maksimal, tetapi sudah menunjukkan adanya risiko tinggi terhadap kemanusiaan.

“Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang paling terpuruk akibat bencana ini. Tiga korban meninggal akibat gempa M6 7 masing-masing berada di Desa Ampera, Kecamatan Palolo, serta Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki, dan satu korban lainnya yang sudah terkonfirmasi dalam pendataan terbaru,” jelas Abdul Muhari, yang akrab disapa Aam.

Dampak gempa juga merusak fasilitas umum seperti rumah, bangunan sekolah, dan jaringan air bersih. Hingga saat ini, 1.652 unit rumah mengalami kerusakan, dengan perincian 1.472 rumah rusak ringan, 111 rusak sedang, dan 69 rusak berat. Selain itu, 42 rumah ibadah, delapan gedung perkantoran termasuk Kantor Bupati Sigi dan BAPPERINDA, 13 bangunan sekolah, dua rumah adat, serta delapan jaringan air bersih terkena kerusakan. Kerusakan ini memperparah kondisi darurat yang dihadapi masyarakat setempat.

Pemulihan dan Upaya Penanganan Darurat

Pemerintah setempat bersama organisasi penanggulangan bencana sedang bergerak cepat untuk mengevakuasi korban dan memberikan bantuan darurat. Pasca gempa M6 7, para petugas memprioritaskan pencarian korban yang masih terjebak di bangunan runtuh. Jumlah korban meninggal akibat gempa M6 7 yang tercatat hingga saat ini mencerminkan tingkat keparahan bencana, tetapi potensi peningkatan korban masih ada.

Sejumlah kecamatan di Sulawesi Tengah, khususnya Sigi,

Leave a Comment