Erick Thohir Beri Peluang Larangan Suporter Tandang Dicabut di Super League 2026-2027
Latar Belakang Larangan Suporter Tandang
Key Strategy – Larangan suporter yang menghadiri pertandingan di luar kota di Super League Indonesia telah diterapkan sejak 2022. Kebijakan ini lahir setelah tragedi Kanjuruhan pada 29 Oktober 2022, di mana 135 penonton kehilangan nyawa akibat kekacauan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Insiden tersebut memicu revisi kebijakan yang bertujuan meminimalkan risiko keamanan dan memastikan keselamatan para penonton. Namun, kebijakan ini juga memicu kontroversi, terutama di kalangan suporter yang merasa dibatasi akses ke stadion dan perluasannya kemungkinan akan diubah.
Erick Thohir dan Strategi Pemulihan Kebijakan
Kini, Erick Thohir, Ketua Umum PSSI, telah membuka peluang untuk mencabut larangan suporter tandang di musim 2026-2027. Dalam wawancara dengan media, termasuk Okezone, pada Senin (6/7/2026), Erick menyatakan bahwa keputusan ini akan dipertimbangkan setelah ada kesepakatan antara PSSI, operator liga, dan FIFA. “Liga (operator Liga) sudah bicara dengan kami, mereka coba (mencabut larangan suporter tandang) dilakukan pada saat nanti liga,” jelas Erick. Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari Key Strategy untuk meningkatkan keterlibatan suporter dan menarik lebih banyak penonton ke stadion.
Key Strategy yang diusung Erick Thohir melibatkan beberapa aspek krusial. Selain perubahan kebijakan larangan suporter tandang, ia juga menekankan pentingnya peningkatan fasilitas stadion, pengaturan alur masuk penonton, serta kerja sama erat dengan pihak keamanan. “FIFA memberi catatan yang cukup kompleks dan mengingatkan noda hitam yang pernah terjadi di Indonesia mengenai sepakbola kita, dan itu juga di dunia, harus tetap diingat,” tambah Erick. Ia menegaskan bahwa Key Strategy ini tidak hanya tentang kebijakan, tetapi juga tentang komitmen operator liga dan klub untuk menjaga standar keselamatan yang lebih tinggi.
Implementasi Key Strategy ini diharapkan bisa memperbaiki citra sepakbola Indonesia di tingkat internasional. Erick Thohir mengungkapkan bahwa PSSI telah mengusulkan perubahan kebijakan tersebut ke FIFA, dan saat ini sedang dalam proses evaluasi. “Artinya, saya sudah ingatkan liga, PSSI sudah berupaya, FIFA terbuka, dan saya minta liga serta klub bertanggung jawab dengan keputusannya kalau ini ada away dan sewaktu-waktu bisa dicabut kembali,” ujarnya. Menurutnya, penghapusan larangan suporter tandang bukanlah langkah spontan, tetapi hasil dari serangkaian analisis dan diskusi yang berkelanjutan.
Key Strategy ini juga mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi. Larangan suporter tandang sejak 2022 telah mengurangi pendapatan klub yang bergantung pada tiket penonton dari luar kota. Erick Thohir menyebutkan bahwa dengan Key Strategy yang lebih fleksibel, bisa ditingkatkan keterlibatan suporter lokal maupun nasional. Namun, ia menekankan bahwa perubahan ini harus disertai dengan mekanisme pengawasan ketat. “Kalau kita terlalu cepat, bisa jadi terjadi lagi insiden serupa. Key Strategy ini harus dirancang dengan rapi dan dipastikan efektivitasnya,” kata mantan Presiden Inter Milan tersebut.
Dalam Key Strategy yang diusungnya, Erick Thohir juga menyoroti pentingnya kolaborasi antarlembaga. PSSI bekerja sama dengan operator liga, seperti PT Liga Indonesia Baru (LIB), serta pihak keamanan seperti Polri dan Mabes Pol. “PSSI sudah berkomunikasi intens dengan pihak liga dan klub untuk menyesuaikan Key Strategy ini dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing,” jelas Erick. Ia menambahkan bahwa sejumlah syarat akan diterapkan, seperti jumlah maksimal penonton per pertandingan, penggunaan sistem tiket digital, serta protokol kesehatan yang ketat. Langkah ini diharapkan bisa menjaga kualitas pertandingan sekaligus memastikan keamanan bagi semua pihak.
Key Strategy yang dirancang Erick Thohir juga mencakup peningkatan kualitas pertandingan. Dengan larangan suporter tandang dicabut, klub diharapkan bisa merangkul suporter lokal dan meningkatkan kebersamaan dalam komunitas sepakbola. “Kita ingin Key Strategy ini tidak hanya tentang keselamatan, tetapi juga tentang keberlanjutan sepakbola Indonesia sebagai industri yang berkembang,” ungkapnya. Erick menekankan bahwa keputusan untuk mencabut larangan akan diambil setelah ada bukti bahwa semua persyaratan telah dipenuhi, termasuk peningkatan kinerja operator liga dan klub dalam menjaga ketertiban di stadion.
