News

Kendalikan Karhutla – BMKG Intensifkan Operasi Modifikasi Cuaca di Sumsel

Kendalikan Karhutla, BMKG Intensifkan Operasi Modifikasi Cuaca di Sumsel

JAKARTA

Kendalikan Karhutla – Dalam upaya mencegah dampak serius dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meningkatkan intensitas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Tindakan ini dilakukan sebagai tanggung jawab BMKG untuk mendukung upaya Kendalikan Karhutla yang menjadi prioritas pemerintah daerah dan pusat. Peningkatan operasi ini berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumsel Nomor 235/KPTS/2026 yang menetapkan status darurat asap sejak 22 April 2026, yang menunjukkan tingkat kekeringan dan risiko api yang terus meningkat.

“Musim kemarau dan fenomena El Nino memang berbeda, tetapi keduanya dapat memperparah kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi memicu karhutla. BMKG terus memantau kondisi atmosfer dan mengambil langkah pencegahan untuk meminimalkan dampaknya,” jelas Faisal, Sabtu 9 Mei 2026. Menurutnya, tahun ini terdapat kemungkinan puncak kekeringan terjadi di bulan Agustus 2026, sehingga perlu langkah-langkah intensif seperti Kendalikan Karhutla melalui modifikasi cuaca.

Strategi BMKG dalam Kendalikan Karhutla

BMKG memperkenalkan beberapa strategi untuk menjalankan operasi modifikasi cuaca secara efektif. Salah satu metode utama yang digunakan adalah cloud seeding, di mana partikel seperti iodida perak atau es kering ditembakkan ke awan untuk memicu pembentukan hujan. Teknik ini dirancang untuk mengurangi risiko kekeringan yang mengancam wilayah rawan karhutla, terutama di Sumsel. Selain itu, BMKG juga mengadakan pelatihan dan sosialisasi kepada masyarakat setempat agar mereka memahami cara mencegah kebakaran hutan dan lahan serta mengoptimalkan manfaat dari kegiatan Kendalikan Karhutla.

Menurut data BMKG, Sumsel termasuk daerah yang paling rentan terhadap karhutla akibat kekeringan ekstrem. Dengan kondisi musim kemarau yang berlangsung sejak awal April 2026, pihak BMKG mengaku siap menghadapi tantangan ini dengan mengalokasikan sumber daya lebih banyak. Operasi modifikasi cuaca akan dilakukan secara terus menerus hingga kondisi cuaca membaik, dengan target mengurangi kekeringan sebesar 30% di wilayah yang paling kritis.

Dukungan Pemerintah dan Masyarakat dalam Upaya Kendalikan Karhutla

Para pejabat setempat menegaskan pentingnya sinergi antara BMKG dan pihak terkait dalam upaya Kendalikan Karhutla. Menurut Kepala Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Sumsel, Dinas BPBD menggandeng BMKG untuk mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca sekaligus mengimbangi upaya pengendalian api di lapangan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga memberikan dukungan teknis dan logistik, termasuk pemberian data cuaca secara real-time untuk memastikan operasi berjalan lancar.

BMKG menekankan bahwa keberhasilan Kendalikan Karhutla bergantung pada keterlibatan masyarakat. Masyarakat dihimbau untuk menjaga kebersihan lahan, tidak membuang sampah sembarangan, dan melakukan pembersihan lahan secara berkala. Selain itu, pelatihan kecil-kecilan bagi warga desa dan kampung juga ditingkatkan untuk mengenalkan teknik pencegahan kebakaran yang ramah lingkungan. Dengan kombinasi operasi cuaca dan edukasi masyarakat, BMKG berharap bisa memutus siklus karhutla yang memakan korban besar di tahun ini.

Operasi modifikasi cuaca ini diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp 15 miliar, yang dikelola melalui program penanggulangan bencana nasional. BMKG menyatakan bahwa mereka akan memantau kondisi cuaca secara intensif, termasuk variabilitas presipitasi, kelembapan udara, dan kecepatan angin. Dengan memahami pola cuaca, BMKG bisa mengatur waktu dan lokasi pelaksanaan OMC secara lebih tepat. Selain itu, pihak BMKG juga bekerja sama dengan BMN dan Pusdalstara untuk memastikan keberlanjutan upaya ini.

Kendalikan Karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab BMKG, tetapi juga melibatkan sektor pertanian, perkebunan, dan lingkungan hidup. Para petani diharapkan bisa mengoptimalkan penggunaan air dan mengurangi risiko pembakaran di lahan pertanian. BMKG juga sedang merancang sistem pemantauan kekeringan berbasis teknologi, seperti penggunaan drone dan sensor cuaca, untuk memberikan data lebih akurat kepada para pengambil keputusan. Dengan metode ini, BMKG optimis bisa mencapai target penurunan krisis asap sebelum akhir tahun 2026.

Leave a Comment