Key Issue: PDB Ekonomi Kreatif Masih Didominasi Sektor Kuliner, Kemenperkraf Dorong Hilirisasi Produk Lokal
Key Issue – JAKARTA – Kementerian Perekonomian Kreatif (Kemenperkraf) terus mendorong transformasi sektor ekonomi kreatif Indonesia melalui strategi hilirisasi produk lokal. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri kreatif, yang kini masih didominasi oleh subsektor kuliner. Dengan menekankan penguatan hilirisasi, pemerintah berharap industri kreatif dapat menjadi roda penggerak ekonomi yang lebih mandiri, bukan hanya sebagai pelaku pasar produk asing.
Menurut Yuke Sri Rahayu, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kemenperkraf, kontribusi sektor kuliner terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif mencapai sekitar 41,0 persen hingga Juli 2026. “Ini menunjukkan bahwa sektor makanan dan minuman tetap menjadi tulang punggung perekonomian kreatif Indonesia,” ujarnya dalam wawancara terbaru. Meski dominasi ini menguntungkan, Yuke menekankan bahwa hilirisasi produk lokal harus menjadi fokus utama untuk memastikan pertumbuhan ekonomi kreatif yang lebih seimbang.
Strategi Hilirisasi untuk Mendorong Industri Kreatif
Kemenperkraf sedang mengembangkan berbagai program dan kebijakan untuk meningkatkan proses hilirisasi, yaitu pengembangan nilai tambah dari produk lokal melalui inovasi dan peningkatan kualitas. Dalam konteks Key Issue, hilirisasi dianggap sebagai kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan mendorong ekspor produk kreatif ke pasar internasional. Yuke menuturkan bahwa pemerintah sedang mendorong kolaborasi antar pemain industri, termasuk pengusaha lokal, kreator, dan produsen, agar bisa membangun identitas merek yang kuat.
“Dengan hilirisasi, kita bisa menciptakan produk yang tidak hanya diminati di dalam negeri tetapi juga siap bersaing di tingkat global,” jelas Yuke. “Ini adalah langkah penting dalam menyongsong ekonomi kreatif yang lebih berkelanjutan.”
Langkah-langkah ini mencakup pengembangan infrastruktur, pemberdayaan sumber daya manusia, dan pemberian insentif kepada pelaku usaha yang berkomitmen pada hilirisasi. Kemenperkraf juga bekerja sama dengan berbagai lembaga, termasuk industri pariwisata dan teknologi, untuk memperluas ruang pasar dan menciptakan ekosistem yang lebih solid. Dalam Key Issue ini, kolaborasi lintas sektor dianggap sebagai pilar utama dalam mewujudkan visi perekonomian kreatif yang mandiri.
Peluang dan Tantangan dalam Meningkatkan Nilai Tambah
Sektor kuliner tetap menjadi pendorong utama PDB ekonomi kreatif, tetapi Yuke mengakui bahwa terdapat tantangan dalam mengubah struktur industri tersebut. Salah satu hambatan adalah keterbatasan akses pasar untuk produk lokal, terutama di tengah persaingan ketat dari merek internasional. “Kita perlu membangun daya saing yang lebih baik agar produk kreatif bisa diterima secara luas,” katanya. Dalam Key Issue ini, Kemenperkraf berupaya mencari solusi melalui pemasaran digital dan pengembangan strategi pemasaran yang inovatif.
Di sisi lain, Sherley Ruslie, CEO Rasa Group, menambahkan bahwa hilirisasi produk lokal memerlukan kolaborasi antar pihak. “Dengan memperkuat sinergi antar pemain industri, kita bisa menciptakan produk yang tidak hanya berkualitas tetapi juga memiliki nilai tambah yang tinggi,” katanya dalam wawancara terpisah. Pernyataan ini sejalan dengan pendekatan Kemenperkraf dalam mempromosikan Key Issue ini sebagai prioritas nasional.
Berdasarkan data terbaru, ekonomi kreatif Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh seiring peningkatan investasi dan dukungan pemerintah. Namun, untuk mewujudkan hal ini, perlu ada konsistensi dalam penerapan hilirisasi dan kebijakan yang mendorong inovasi. Key Issue yang sedang dijalankan Kemenperkraf tidak hanya fokus pada sektor kuliner, tetapi juga pada bidang-bidang lain seperti mode, seni, dan teknologi kreatif.
Dalam jangka panjang, Kemenperkraf menargetkan peningkatan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional sebesar 20 persen. Upaya ini diharapkan bisa memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang memiliki sektor ekonomi kreatif yang berdaya saing. Dengan menekankan Key Issue hilirisasi, pemerintah ingin menciptakan ekosistem yang mampu menghasilkan produk lokal yang mewakili identitas nasional serta mampu menarik minat konsumen global.
