Gejala TBC Bisa Dilihat dari Warna Dahak, Ini Penjelasan Menkes
Gejala TBC Bisa Dilihat dari Warna – Tuberculosis (TBC) adalah penyakit menular yang menyerang sistem pernapasan dan dapat menimbulkan gejala yang mudah diidentifikasi melalui perubahan warna dahak. Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, salah satu ciri awal infeksi TBC adalah dahak yang berwarna merah, yang menunjukkan adanya perdarahan di saluran pernapasan. Menkes memberikan penjelasan ini sebagai bagian dari upaya edukasi masyarakat mengenai cara mengenali gejala TBC lebih dini. Warna dahak menjadi indikator penting karena dapat menunjukkan tingkat keparahan penyakit atau jenis infeksi yang terjadi. Dengan memahami hubungan antara warna dahak dan kondisi kesehatan, individu lebih mudah mendeteksi gejala TBC sebelum berkembang menjadi komplikasi serius.
Macam-Macam Warna Dahak dan Artinya
Menkes Budi menyoroti bahwa ada tiga jenis warna dahak yang bisa muncul saat seseorang mengalami batuk akibat TBC. Dahak yang berwarna putih atau bening biasanya menunjukkan reaksi alergi atau kondisi seperti ludah yang keluar secara alami. Namun, perubahan warna menjadi kuning atau kehijauan seringkali mengindikasikan adanya infeksi di saluran pernapasan, seperti peradangan atau pengendapan lendir. Sementara itu, dahak berwarna merah adalah tanda yang paling kritis, karena menunjukkan adanya perdarahan di paru-paru atau saluran udara.
“Kalau itu bening dan cair mungkin itu ludah atau alergi. Kalau warnanya agak kuning atau kehijau-hijauan dan baunya khas kental, itu artinya ada infeksi. Yang paling bahaya adalah kalau sudah ada darahnya, ini kemungkinan Anda terkena TB,”
kata Budi, yang mengungkapkan hal ini dalam video yang diunggah di Instagram pada hari Sabtu (23/5/2026).
TBC tidak hanya terlihat dari warna dahak tetapi juga dari gejala lain yang sering diabaikan. Gejala umum seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau nyeri dada bisa menjadi tanda awal penyakit. Selain itu, pasien TBC sering mengalami kelelahan yang berlebihan, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, dan demam ringan. Pada tahap awal, gejala ini mungkin tidak terlalu menyakitkan, tetapi jika tidak segera diatasi, TBC bisa menyebabkan kerusakan paru-paru yang irreversible. Warna dahak merah, terutama jika disertai dengan bercak darah atau lendir berbusa, sering menjadi gejala yang menarik perhatian karena lebih mudah dikenali.
Mengenai penyebab perubahan warna dahak, Menkes menjelaskan bahwa hal ini terkait dengan aktivitas bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan inflamasi di paru-paru. Pada tahap awal infeksi, dahak mungkin berwarna bening, tetapi seiring berjalannya waktu, peradangan yang terus-menerus dapat mengubah warna lendir menjadi kuning atau hijau. Perubahan warna ini terjadi karena adanya pusat peradangan dan peningkatan jumlah sel darah putih dalam tubuh. Jika infeksi memburuk, dinding paru-paru dapat rusak, sehingga mengakibatkan dahak yang mengandung darah. Dalam kasus yang parah, TBC juga bisa menyebabkan kanker paru-paru atau kelainan paru-paru yang memengaruhi fungsi pernapasan.
Mengingat keparahan TBC, Menkes menekankan pentingnya pemeriksaan dini melalui gejala seperti perubahan warna dahak. Ia menyarankan masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan, disertai dahak berwarna merah atau berbusa, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan awal bisa dilakukan melalui tes sputum atau radiografi dada untuk menentukan apakah infeksi tersebut tergolong TBC atau penyakit pernapasan lainnya. Menkes juga mengingatkan bahwa TBC bisa menyebar melalui droplet yang dihasilkan saat batuk atau bersin, sehingga menghindari membuang dahak sembarangan adalah langkah penting untuk mencegah penularan.
Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang TBC, Menkes memberikan tips tambahan untuk mengenali gejala yang mungkin terlewat. Salah satu cara efektif adalah memperhatikan durasi batuk, karena TBC umumnya berlangsung lebih dari dua minggu tanpa peningkatan. Jika batuk terjadi lebih dari tiga minggu dan disertai dengan dahak yang berubah warna, maka ini bisa menjadi indikasi awal infeksi. Selain itu, kondisi seperti keringat malam yang berlebihan, demam yang tidak beraturan, atau peningkatan rasa lelah bisa menjadi gejala yang tidak kalah penting untuk diwaspadai. Dengan memahami bahwa gejala TBC bisa dilihat dari warna dahak, serta gejala lain yang melengkapi, masyarakat lebih siap dalam mengambil tindakan segera jika mengalami tanda-tanda penyakit.
Kemenkes juga menjelaskan bahwa TBC tidak hanya mengancam kelompok rentan seperti anak-anak atau lansia, tetapi juga bisa menyerang semua usia. Menurut data terkini, Indonesia masih menjadi negara dengan tingkat kesakitan TBC yang tinggi, dengan sekitar satu juta kasus baru setiap tahunnya. Dengan sekitar dua individu terinfeksi setiap menit dan satu orang meninggal dalam empat menit, TBC tetap menjadi ancaman kesehatan publik yang serius. Menkes menambahkan bahwa perubahan warna dahak bisa menjadi indikator awal yang mendorong masyarakat untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Deteksi dini tidak hanya membantu pengobatan yang lebih efektif, tetapi juga mengurangi risiko penyebaran penyakit ke orang lain.
