KAI Targetkan Akuisisi INKA Rampung November 2026 sebagai Bagian dari New Policy
New Policy – Perusahaan kereta api nasional, PT Kereta Api Indonesia (Persero), telah mengumumkan rencana besar untuk menyelesaikan akuisisi PT Industri Kereta Api (INKA) pada bulan November 2026. Langkah ini merupakan bagian dari New Policy yang bertujuan memperkuat struktur industri perkeretaapian dalam negeri serta meningkatkan efisiensi dan kapasitas distribusi jasa transportasi. Dengan mewujudkan integrasi antara KAI dan INKA, pihaknya berharap mampu menciptakan ekosistem transportasi yang lebih solid dan berkelanjutan.
Strategi New Policy KAI: Langkah Membangun Infrastruktur Transportasi
Peluncuran New Policy ini menunjukkan komitmen KAI untuk memperbaiki sistem transportasi nasional melalui penguasaan modal dan teknologi. Dalam sebuah wawancara, Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menyatakan bahwa akuisisi INKA akan menjadi pilar utama dari strategi perusahaan dalam tiga tahun ke depan. “Kami ingin menyelesaikan proses penandatanganan akuisisi INKA pada akhir 2026, sehingga New Policy dapat diterapkan secara utuh di tahun 2027, termasuk kolaborasi dengan mitra teknologi dan pengembangan layanan perawatan infrastruktur,” jelas Gede, Jumat (5/6/2026).
“Dalam roadmap kami, penandatanganan akuisisi INKA di November 2026 akan menjadi awal dari implementasi New Policy yang lebih luas. Kami yakin, dengan konsolidasi ini, KAI bisa lebih responsif dalam memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat,”
Adopsi New Policy oleh KAI bukan hanya tentang penggabungan perusahaan, tetapi juga transformasi layanan dan operasional. KAI menargetkan pendapatan hingga Rp33,9 triliun dalam lima tahun setelah akuisisi selesai. Tujuan ini dirancang untuk meningkatkan pengembangan jaringan rel dan layanan penumpang, sekaligus menciptakan nilai tambah melalui inovasi teknologi. Dengan memperkuat kemitraan dan integrasi, KAI berharap bisa menyaingi perusahaan transportasi lain di tingkat nasional dan internasional.
Proses akuisisi INKA memerlukan persiapan matang yang melibatkan evaluasi menyeluruh dari berbagai aspek, termasuk struktur modal, operasional, dan kapasitas SDM. Direktur Utama KAI, Didik Suhariyanto, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan pihak INKA untuk memastikan pelaksanaan New Policy berjalan lancar. “Kami percaya bahwa integrasi ini akan membawa dampak positif bagi keseluruhan industri, mulai dari pengoperasian kereta api hingga pengembangan teknologi transportasi modern,” ujarnya.
Salah satu prioritas New Policy adalah meningkatkan kualitas layanan dengan mengadopsi sistem manajemen yang lebih efektif. Dengan menggabungkan sumber daya dan kapasitas INKA, KAI diharapkan bisa mempercepat proses pembangunan jalur rel baru, meningkatkan ketersediaan kereta api, serta menjamin kenyamanan pengguna. Selain itu, strategi ini juga bertujuan mengurangi biaya operasional secara signifikan melalui efisiensi dan standardisasi operasional. “New Policy bukan sekadar perubahan struktur, tapi juga transformasi budaya kerja dan pendekatan bisnis yang lebih progresif,” tambah Didik.
Sebagai bagian dari New Policy, KAI juga fokus pada pengembangan bisnis layanan perawatan. Integrasi dengan INKA akan memungkinkan pihaknya mengelola jasa perawatan kereta api secara lebih kompetitif. Selain itu, penggabungan ini diharapkan mendorong pengembangan produk dan layanan baru, seperti sistem pengaturan kereta api berbasis teknologi. Dengan memperkuat kemampuan teknologi, KAI berpotensi menjadi pelaku utama dalam industri transportasi yang lebih modern dan berkelanjutan.
