Tragis! Anak Bunuh Ibu Kandung dengan Cobek
Pekalongan, Jawa Tengah
Tragis Anak Bunuh Ibu Kandung – Kejadian mengerikan terjadi di Jalan Gotong Royong, Pekalongan, pada Senin pagi (11 Mei 2026), saat seorang ibu berusia 66 tahun, Tarsimi, ditemukan dalam kondisi terluka parah oleh anak kandungnya sendiri. Pelaku, M Sidik Permana (25 tahun), diduga menggunakan cobek batu untuk menyerang korban hingga kepala pecah. Insiden ini memicu kehebohan di lingkungan sekitar dan menambah penyesalan atas kematian korban.
Kasat Reskrim Polres Pekalongan Kota, AKP Setiyanto, menjelaskan bahwa korban meninggal dunia setelah menerima luka serius di bagian kepala akibat benturan keras dengan cobek. Korban dilarikan ke Rumah Sakit Siti Khotidjah dan menjalani perawatan selama dua jam sebelum akhirnya tidak dapat dipulihkan. Alat kekerasan yang digunakan, cobek, ditemukan di lokasi kejadian dan menjadi bukti utama dalam penyelidikan.
“Kami menerima laporan pada Senin pagi dan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi,” kata AKP Setiyanto. “Pihak keluarga juga diperiksa untuk memperjelas alur kejadian dan motif pelaku.”
Menurut sumber di lingkungan sekitar, pelaku diduga mengalami gangguan kejiwaan sebelum melakukan tindakan kekerasan. Warga menyebut bahwa M Sidik Permana kerap menunjukkan emosi tidak terkendali dalam beberapa bulan terakhir, terutama saat berbincang dengan keluarga. Meski demikian, penyidik masih memeriksa alasan di balik aksi brutal tersebut, termasuk apakah ada konflik antara pelaku dan korban sebelumnya.
Proses Investigasi
Pihak kepolisian sedang intensif menyelidiki latar belakang pelaku dan hubungannya dengan korban. Dalam proses olah TKP, tim investigasi menemukan bekas tumpahan darah di lantai rumah serta beberapa saksi yang melihat kejadian tersebut. Salah satu saksi, Ibu Nani (58 tahun), mengatakan bahwa pelaku tiba-tiba menyerang korban tanpa ada peringatan sebelumnya.
“Pak Sidik langsung menghantam kepala Ibu Tarsimi dengan cobek, lalu berlari ke luar rumah. Suara teriakan korban terdengar jelas, tapi semua terjadi dalam hitungan detik,” ujar Ibu Nani. Pihak keluarga memutuskan untuk menolak proses autopsi, sementara pelaku masih menjalani pemeriksaan psikologis di Rumah Sakit Djunaid untuk menentukan apakah ia memiliki gangguan mental.
Korban dan Pelaku
Tarsimi, korban, diketahui memiliki dua anak yang tinggal bersama di rumahnya. Anak pertama, Siti Aminah (28 tahun), menjadi saksi mata kejadian dan langsung melaporkan peristiwa tersebut ke polisi. Siti Aminah menyatakan bahwa hubungan antara pelaku dan korban tidak selalu buruk, tetapi terdapat ketegangan kecil dalam beberapa minggu terakhir.
Menurut informasi yang dihimpun, pelaku M Sidik Permana kerap melontarkan kata-kata kasar terhadap ibunya, terutama saat korban menegur cara ia menghabiskan waktu. “Sering kali Ibu menegur Pak Sidik karena sering keluar malam-malam dan tidak pulang sampai pagi,” ungkap Siti Aminah. Pernyataan ini menjadi petunjuk awal bahwa pelaku mungkin terdorong oleh emosi yang tidak terkendali saat kejadian.
Pelaku dan Motif Pembunuhan
Setelah menjalani pemeriksaan psikologis, pelaku masih dalam status observasi untuk menentukan tingkat keparahan gangguan kejiwaannya. Kasat Reskrim mengatakan bahwa tim medis menilai pelaku memiliki gejala kemungkinan gangguan bipolar atau depresi berat. “Kami masih menunggu hasil evaluasi untuk menentukan apakah ia akan dihukum dengan pidana mati atau penjara,” jelas AKP Setiyanto.
Keluarga korban menyatakan kekecewaan atas kematian Tarsimi, yang menjadi tulang punggung keluarga. “Ibu Tarsimi selalu sabar dan tidak pernah menyampaikan kekecewaan kecil kepada kami,” kata adik korban, Andi Prasetyo (30 tahun). Kejadian ini menjadi bencana bagi keluarga, terutama setelah perawatan medis terhadap korban berlangsung selama dua jam tanpa hasil yang memuaskan.
Kecelakaan ini juga menarik perhatian masyarakat setempat, yang menggelar acara pemakaman korban secara sederhana di hari berikutnya. Para tetangga mengungkapkan rasa sedih atas kejadian tersebut, sementara pihak kepolisian berjanji akan melanjutkan penyelidikan hingga ditemukan kebenaran utuh. “Kami berharap bisa menemukan penyebab pasti dari kekerasan ini,” imbuh AKP Setiyanto.