Celebrity

What Happened During: Rano Karno Akui Sempat Tolak Menonton Ghost in the Cell : Saya Ini Penakut

Rano Karno Akui Tolak Menonton Ghost in the Cell Awalnya, Saya Ini Penakut

What Happened During kisah hidup Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menjadi perbincangan menarik setelah ia mengungkapkan pengalaman menonton film Ghost in the Cell. Dalam acara pemutaran film bersama yang diadakan di Metropole XXI, Kompleks Megaria, Jakarta Pusat, pada Minggu (7/6/2026), Rano mengakui bahwa ia sempat memikirkan ulang sebelum menghadiri acara tersebut. Menurutnya, kecemasannya terhadap genre horor memicu pertanyaan apakah ia benar-benar siap menghadapi pengalaman menonton yang bisa menimbulkan rasa takut.

Dalam wawancara, Rano menjelaskan bahwa ia bukan seorang penggemar horor karena sifat pemalu. Ia menunjukkan bahwa film pertama karya sutradara Joko Anwar yang pernah ia tonton adalah Penyerbuan Bukit Duri, yang ia nilai sangat luar biasa. Namun, saat mengetahui Ghost in the Cell akan tayang, ia mengaku ragu karena takut gelap. “What Happened During itu mengingatkan saya pada rasa takut yang selama ini saya hindari,” ujarnya.

Proses Menonton dan Pengalaman Unik

Rano Karno akhirnya memutuskan untuk menonton Ghost in the Cell setelah mendapat rekomendasi dari istrinya, Dewi Indriati. Ia mengatakan bahwa keputusan ini adalah langkah berani yang diambil setelah memikirkan ulang. “What Happened During ini justru mengajari saya bahwa rasa takut bisa menjadi bagian dari pengalaman yang bermakna,” imbuhnya. Dalam acara tersebut, ia tidak hanya menonton film tetapi juga merasakan reaksi penonton lain yang terkadang mengalami kejutan dan ketakutan saat menonton adegan tertentu.

Film Ghost in the Cell menampilkan cerita yang menggabungkan elemen suspense dan thriller, dengan suasana yang menegangkan. Meskipun Rano awalnya enggan, ia mengakui bahwa film ini mampu memperlihatkan kreativitas sutradara Joko Anwar dalam membangun atmosfer yang memperkuat keterlibatan penonton. “What Happened During mengungkapkan bagaimana setiap adegan dirancang dengan tujuan menarik perhatian dan menyentuh emosi penonton,” tambahnya.

Pencapaian Internasional Film Lokal

Setelah menonton, Rano Karno memuji prestasi Ghost in the Cell yang telah mencapai 148 negara untuk distribusi hak film. “What Happened During membuat saya menyadari betapa luar biasanya film-film Indonesia bisa bersaing di panggung global,” katanya. Pencapaian ini juga diperkuat oleh jumlah penonton yang mencapai lebih dari 3,5 juta di box office Indonesia sejak film dirilis pada 16 April 2026. Rano menilai bahwa film ini menjadi bukti bahwa genre horor lokal memiliki potensi besar untuk dikenal.

Di sisi lain, film ini juga memperoleh apresiasi dari berbagai penonton dan kritikus. Sejumlah penggemar mengatakan bahwa Ghost in the Cell mampu menawarkan narasi yang menarik dengan dampak visual yang memukau. Rano Karno sendiri menyebutkan bahwa kehadirannya dalam acara ini tidak hanya untuk menonton film, tetapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap karya-karya lokal yang berkualitas. “What Happened During ini adalah momen penting untuk mengakui peran film horor dalam memperkaya industri perfilman Indonesia,” imbuhnya.

Selain Rano Karno, acara pemutaran film tersebut juga dihadiri oleh beberapa tokoh dan penggemar. Penyanyi Once Mekel, misalnya, mengungkapkan bahwa acara ini bertujuan untuk memperingati kelahiran Bung Karno pada 6 Juni 1901. Ia menyatakan bahwa kehadiran Ghost in the Cell sebagai film horor lokal merupakan bentuk penghargaan terhadap kreativitas dalam memadukan genre yang berbeda. “What Happened During sekaligus menunjukkan bagaimana film-film Indonesia bisa menembus batas genre dan menarik minat masyarakat luas,” tambahnya.

Leave a Comment