Economy

Cerita Misbakhun Pertanyakan Fitch dan Moody’s Turunkan Outlook RI Usai Purbaya Jadi Menkeu

Misbakhun Pertanyakan Fitch dan Moody’s Turunkan Outlook RI Usai Purbaya Jadi Menkeu

Cerita Misbakhun Pertanyakan Fitch dan Moody – Di tengah isu perubahan outlook kredit Indonesia yang diumumkan oleh Fitch dan Moody’s, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mengungkapkan keraguan terhadap keputusan tersebut setelah Purbaya Yudhi Sadewa resmi menjabat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani. Misbakhun mengatakan, keputusan penurunan outlook oleh kedua lembaga pemeringkat internasional ini tidak sepenuhnya selaras dengan kinerja ekonomi Indonesia yang menurutnya tetap stabil dan berpotensi tinggi.

Misbakhun menyampaikan, “Kita meyakinkan lembaga-lembaga rating, apa sebenarnya yang menjadi alasan mereka mengubah outlook RI? Jika Menteri Keuangan tetap sama, apakah mereka akan mengubah outlooknya? Ini menjadi pertanyaan yang perlu dijawab dengan jelas,” ujarnya dalam acara Investor Relations Forum di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (11/5/2026).

Perubahan Outlook Dipengaruhi Sentimen Eksternal

Dalam wawancara, Misbakhun menekankan bahwa perubahan outlook kredit yang diumumkan oleh Fitch dan Moody’s lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar global, bukan kondisi ekonomi domestik. Ia mengatakan, meski Indonesia masih menjaga pertumbuhan ekonomi yang solid, lembaga pemeringkat justru mempertimbangkan faktor-faktor eksternal seperti kebijakan luar negeri, fluktuasi harga komoditas, dan risiko politik.

Kendati outlook kreditnya dinyatakan negatif, peringkat utang Indonesia tetap dipertahankan. Moody’s Ratings, misalnya, memberikan peringkat Baa2 sementara Fitch Ratings menetapkan BBB. Misbakhun menilai, penurunan outlook ini lebih bersifat sementara dan tidak mencerminkan keseluruhan kekuatan ekonomi Indonesia.

Kinerja Ekonomi Indonesia Tidak Terpengaruh

Menurut Misbakhun, kinerja ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I-2026 menunjukkan pertumbuhan yang positif, mencapai 5,61 persen. Angka ini, katanya, sejalan dengan target pertumbuhan jangka panjang sekitar 5 persen yang telah direncanakan sebelumnya. Ia juga menyoroti bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan pemerintahan sebelumnya masih berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi.

Dalam menjawab kritik atas keputusan Fitch dan Moody’s, Misbakhun meminta lembaga pemeringkat untuk lebih memperhatikan data-data ekonomi yang sebenarnya. “Kita harus mengevaluasi apakah keputusan mereka didasarkan pada fakta atau asumsi yang kurang tepat,” tegasnya. Ia menambahkan, bahwa Indonesia sebagai anggota G20 memiliki kekuatan struktural yang memadai untuk menjaga daya tahan ekonomi dalam menghadapi tantangan global.

Di sisi lain, banyak ahli ekonomi mengkritik keputusan Fitch dan Moody’s karena penurunan outlook terjadi di tengah berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan kinerja yang baik. Misbakhun menyoroti bahwa penurunan outlook ini dapat memengaruhi persepsi investor dan mengurangi kepercayaan terhadap kemampuan Indonesia dalam menyelesaikan isu-isu ekonomi.

Banyak analis menganggap keputusan kedua lembaga pemeringkat tersebut lebih bersifat reaksi terhadap perubahan kebijakan dalam pemerintahan baru. Purbaya Yudhi Sadewa, sebagai Menteri Keuangan yang baru menjabat, memiliki strategi berbeda dibandingkan mantan menteri Sri Mulyani. Namun, Misbakhun berharap pemerintah dapat menjelaskan secara rinci mengapa perubahan kebijakan ini dianggap berdampak negatif oleh lembaga pemeringkat.

Leave a Comment