Visit Agenda: Anak Tukang Sayur Diterima di ITB, Netizen Keren Banget!
JAKARTA
Visit Agenda membawa perhatian publik pada kisah inspiratif Mikail Fajar Dwicaksono, seorang siswa asal Yogyakarta yang sukses masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Dengan latar belakang orang tua yang berprofesi sebagai tukang ngepel dan pedagang sayur, Mikail memperlihatkan bahwa kemampuan dan usaha tidak terbatas oleh kondisi ekonomi. Pengumuman penerimaan Mikail ke Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB memicu respons positif dari netizen yang menyebut kisah ini sebagai contoh yang keren dan menginspirasi.
Proses Penerimaan melalui Visit Agenda
Sebagai bagian dari program Visit Agenda, ITB mengadakan seleksi khusus untuk siswa SMA/SMK yang menunjukkan bakat unik di bidang seni rupa dan desain. Mikail, lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta, sekarang SMK Negeri 3 Kasihan Bantul, berhasil memenuhi kriteria ketat ini. Selama proses seleksi, Mikail menunjukkan keterampilan dalam karya seni yang menonjolkan kreativitasnya. Kemudian, Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, bersama pimpinan kampus lainnya, melakukan kunjungan ke rumah Mikail sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan atas prestasinya.
“Saya hanya tukang ngepel dan ibu tukang sayur. Keterima ITB, Mikail merinding, keluar keringat dingin,” ujar ayah Mikail dalam wawancara di media sosial.
Visit Agenda berperan penting dalam memperluas akses pendidikan bagi siswa yang berbakat namun mungkin kurang mendapat perhatian dari sistem formal. Program ini memungkinkan calon mahasiswa menunjukkan potensi mereka di luar skor akademik. Sebagai contoh, Mikail menekankan keahlian di bidang seni rupa murni, atau fine art, sebagai dasar pemilihan jurusan di ITB. Keberhasilan ini memperkuat keyakinan bahwa Visit Agenda menjadi jalan untuk mendorong pendidikan inklusif dan merata.
Respons Masyarakat dan Motivasi untuk Pendidikan
Kisah Mikail viral di media sosial karena menggambarkan bagaimana seorang siswa dari latar belakang sederhana bisa menembus seleksi nasional yang kompetitif. Berbagai akun Instagram dan media online mengunggah kisah ini sebagai bukti bahwa Visit Agenda tidak hanya tentang akademik, tetapi juga tentang keunikan individu. Netizen pun banyak memberikan komentar positif, dengan sebagian menyebut bahwa prestasi Mikail mengubah persepsi tentang kesuksesan pendidikan.
Visit Agenda mencerminkan komitmen ITB untuk mencari talenta yang berbeda dari jalur tradisional. Dengan mengakui bakat di bidang seni, kampus ini membuka peluang bagi siswa yang mungkin tidak bisa bersaing di jalur ujian nasional biasa. Mikail menegaskan bahwa keterima di ITB tidak hanya karena karya seninya, tetapi juga karena ketekunan dan doa keluarga yang mendukungnya. Cerita ini menjadi bahan pembelajaran bahwa pendidikan bisa membawa perubahan bahkan dari latar belakang yang sederhana.
Program Visit Agenda dan Visi ITB
Program Visit Agenda ITB memulai seleksi dengan mengunjungi langsung sekolah atau rumah siswa yang menunjukkan prestasi unik. Sebagai bagian dari strategi kampus, ini memberi kesempatan bagi calon mahasiswa untuk menunjukkan keahlian mereka secara langsung. Mikail menjadi satu dari banyak siswa yang diterima melalui metode ini, yang menunjukkan bahwa ITB berupaya mencari pemimpin masa depan dari berbagai kalangan. Visit Agenda bukan hanya tentang pendidikan, tetapi juga tentang membangun hubungan antara kampus dan masyarakat.
Sebagai bentuk dukungan, masyarakat lokal seperti warga Condongcatur, Sleman, Yogyakarta, membagikan cerita Mikail sebagai contoh keberhasilan luar biasa. Banyak orang memandang ini sebagai bukti bahwa pendidikan tinggi bisa dicapai dengan tekad dan konsistensi. Visit Agenda juga membuka peluang untuk siswa yang memiliki minat di bidang seni, kreativitas, atau inovasi yang tidak selalu terlihat dalam sistem pendidikan biasa. Dengan demikian, program ini menjadi wadah bagi keberagaman bakat yang ada di kalangan pelajar.
