Muslim

Momen Menkomdigi Meutya Hafid Lempar Jumrah di Hari Tasyrik

Momen Menkomdigi Meutya Hafid Lempar Jumrah di Hari Tasyrik

Momen Menkomdigi Meutya Hafid Lempar Jumrah – Pada hari pertama tasyrik, 28 Mei 2026, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkomdigi) Meutya Viada Hafid melibatkan diri dalam ritual melempar jumrah, sebuah momen penting dalam ibadah haji. Meutya, yang hadir bersama suaminya, Noer Fajrieansyah, mengikuti prosesi yang dilakukan oleh jemaah haji Indonesia di Mina. Ini menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya selama berada di Tanah Suci, sekaligus menunjukkan komitmennya untuk merasakan langsung proses ibadah yang dijalani oleh rakyatnya. Momen tersebut tidak hanya memperkaya pengalaman pribadinya, tetapi juga memberi kesempatan kepada jemaah untuk berinteraksi dengan tokoh pemerintah, termasuk Menkomdigi.

Proses Melempar Jumrah dalam Ibadah Haji

Ritual melempar jumrah adalah bagian dari tasyrik, yang terdiri dari tiga hari setelah Idul Adha. Proses ini dilakukan oleh jemaah haji di Mina sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan, sesuai dengan ajaran Islam. Meutya turut melibatkan diri dalam tahap ini, dengan penuh antusiasme dan perhatian. Meski telah menyelesaikan wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijah, ia tetap aktif dalam menjalani setiap tahap ritual, termasuk menginap di Muzdalifah sebelum memasuki Mina. Momen melempar jumrah menjadi puncak perjalanan ibadahnya, di mana ia berkesempatan berinteraksi lebih dekat dengan jemaah haji dari berbagai latar belakang.

Dalam kegiatan tersebut, Meutya menunjukkan semangat dan ketertarikannya pada tradisi keagamaan. Jemaah yang hadir merasa senang karena bisa bertemu dengan menteri yang aktif berpartisipasi. Tidak hanya berbicara, Meutya juga berpartisipasi dalam aktivitas fisik, termasuk melempar batu ke jumrah ula, wusta, dan aqabah. Proses ini memperkuat kesan bahwa ibadah haji bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang kebersamaan dan pengalaman langsung dengan kehidupan spiritual. Momen Menkomdigi Meutya Hafid Lempar Jumrah ini menjadi bahan pembicaraan hangat di media sosial, menunjukkan kepeduliannya terhadap ibadah umat Muslim.

Signifikansi Momen Melempar Jumrah bagi Jemaah Haji

Melempar jumrah adalah tahap kunci dalam ibadah haji yang memiliki makna mendalam. Ritual ini dilakukan dengan harapan mengusir setan yang mengganggu kesucian. Sebagai Menkomdigi, Meutya menyempatkan diri untuk melibatkan diri secara aktif, menunjukkan bahwa ia tidak hanya sebagai pengambil kebijakan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan ibadah jemaah. Proses ini memperlihatkan bahwa kehadiran tokoh pemerintah bisa menjadi motivasi bagi jemaah untuk lebih semangat menjalani ibadah. Momen Menkomdigi Meutya Hafid Lempar Jumrah menjadi ajang promosi keagamaan, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap peran pemerintah dalam mengakomodasi jemaah haji.

Selama tasyrik, jemaah haji Indonesia terus beraktivitas, antara lain melakukan shalat dan berdoa. Meutya berada di tengah-tengah mereka, membagikan semangat dan doa. Diskusi dengan jemaah berlangsung hangat, di mana ia mendengarkan cerita dan keluhan mereka. Momen ini memberi kesempatan untuk membangun kedekatan antara pemerintah dan rakyat, yang menjadi bagian dari upaya memperkuat iman dan ketaatan. Dengan kehadirannya, Meutya tidak hanya menikmati keindahan ibadah haji, tetapi juga memberikan semangat kepada jemaah yang sedang menjalani perjalanan spiritual. Momen Menkomdigi Meutya Hafid Lempar Jumrah ini menjadi salah satu kenangan tak terlupakan bagi banyak jemaah.

“Semoga semua Bapak, Ibu yang hadir hari ini bisa mendapatkan keberkahan dan penuh kebahagiaan. Insyaallah jadi haji mabrur,” ujar Meutya, Kamis (28/5/2026). Kalimat ini tidak hanya menjadi doa pribadinya, tetapi juga pesan yang ditujukan kepada seluruh jemaah. Dengan pernyataan sederhana ini, Meutya menunjukkan empatinya terhadap pengalaman umat Muslim. Jemaah yang hadir bersemangat merespons, baik dengan antusiasme melempar batu maupun mengucapkan aminkan doa Menkomdigi. Momen ini memperlihatkan bahwa kehadiran tokoh publik bisa menjadi pengingat spiritual bagi jemaah.

Berikutnya, Meutya berinteraksi dengan jurnalis dan influencer yang turut mengikuti perjalanan hajj. Banyak di antaranya menyempatkan diri bertanya tentang pengalaman ibadah dan pembelajaran yang didapat. Momen Menkomdigi Meutya Hafid Lempar Jumrah juga dijadikan sebagai ajang dokumentasi, dimana ia membagikan foto-foto dan video dari prosesi tersebut. Kehadirannya menambah rasa kehangatan dalam suasana yang sibuk, sekaligus memastikan bahwa jemaah merasa didukung oleh pemerintah. Dengan berpartisipasi dalam melempar jumrah, Meutya memperlihatkan bahwa ia tidak pernah menjauh dari praktik keagamaan, meski dalam tugas pemerintahan.

Kehadiran Menkomdigi Meutya Hafid di Mina memberikan dampak positif bagi jemaah. Banyak dari mereka merasa beruntung karena bisa bertemu tokoh negara yang aktif mengikuti perjalanan spiritual mereka. Momen ini juga menjadi peluang untuk memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat, menunjukkan bahwa kebijakan dan perhatian pemerintah tidak hanya terbatas pada sektor digital, tetapi juga pada keagamaan. Dengan berpartisipasi dalam ritual, Meutya memperlihatkan komitmennya terhadap keberagamaan, sekaligus memastikan bahwa kehadirannya menjadi momen edukasi bagi jemaah yang ingin mengetahui lebih banyak tentang ritual haji. Momen Menkomdigi Meutya Hafid Lempar Jumrah ini menjadi bukti bahwa kegiatan spiritual bisa menjadi bagian dari pengalaman kehidupan seorang tokoh publik.

Leave a Comment