News

Muzani Kutip Falsafah Jawa: Menang Tanpa Ngasorake

ketua_mpr_ri-JvE9_large
Foto : Michael Garcia - partaiberita.com
Table of Contents
  1. Muzani Kutip Falsafah Jawa: Menang Tanpa Ngasorake dalam Persatuan Bangsa
  2. Related Reading

Muzani Kutip Falsafah Jawa: Menang Tanpa Ngasorake dalam Persatuan Bangsa

Partaiberita.com – JAKARTA – Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, kembali menegaskan pentingnya menjaga persatuan bangsa melalui falsafah Jawa yang luhur. Dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026, Muzani Kutip Falsafah Jawa yang berbunyi “menang tanpa ngasorake”. Pernyataan ini menjadi pengingat kuat bagi seluruh elemen bangsa untuk tidak hanya menang secara politik atau hukum, tetapi juga menang dengan cara yang tidak merendahkan pihak lain.

Muzani menekankan bahwa persatuan tidak cukup hanya digaungkan melalui slogan-slogan belaka. Persatuan harus terus dirawat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui empat pilar utama, yaitu keadilan, keteladanan, dialog, dan rasa saling percaya. Keempat elemen ini menjadi fondasi kokoh bagi terciptanya harmoni sosial di tengah keberagaman Indonesia.

“Persatuan harus dirawat dari hari ke hari melalui keadilan, keteladanan, dialog, dan rasa saling percaya. Karena itu, menjaga persatuan berarti menjaga keadilan,” kata Muzani dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026, Jumat (14/8/2026).

Menjaga Ruang untuk Perbedaan Pendapat

Muzani juga menyoroti pentingnya menjaga ruang untuk perbedaan pendapat. Ia mengingatkan agar kritik tidak dimanfaatkan untuk memecah persatuan. Di sisi lain, persatuan juga tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam atau meredam kritik. “Kritik tidak boleh digunakan untuk merobek persatuan, sebaliknya, persatuan juga tidak boleh digunakan untuk meredam perbedaan pendapat,” lanjutnya.

Falsafah Jawa tentang “menang tanpa ngasorake” memiliki relevansi yang kuat dalam konteks politik Indonesia saat ini. Muzani Kutip Falsafah Jawa ini sebagai cerminan dari sikap kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada kemenangan, tetapi juga pada bagaimana kemenangan tersebut diterima oleh semua pihak. Dalam tradisi Jawa, kemenangan yang disertai dengan kerendahan hati akan membawa keberkahan dan stabilitas jangka panjang.

Implementasi falsafah ini dalam kehidupan berbangsa memerlukan komitmen dari seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari para pemimpin politik, aparatur negara, hingga masyarakat sipil, semuanya memiliki peran dalam menjaga agar setiap kemenangan tidak menjadi sumber perpecahan. Muzani berharap agar semangat “menang tanpa ngasorake” dapat menjadi panduan dalam setiap proses demokrasi Indonesia.

FAQ: Muzani Kutip Falsafah Jawa

Apa makna “menang tanpa ngasorake” menurut Muzani? Menang tanpa ngasorake berarti meraih kemenangan tanpa merendahkan atau menghinakan pihak lain. Ini mencerminkan kemenangan yang membawa keberkahan dan tidak menimbulkan kebencian.

Kapan Muzani menyampaikan pernyataan ini? Muzani menyampaikan pernyataan tersebut pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 yang berlangsung pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Empat pilar apa saja yang disebut Muzani untuk menjaga persatuan? Empat pilar tersebut adalah keadilan, keteladanan, dialog, dan rasa saling percaya. Keempatnya harus berjalan beriringan untuk menciptakan persatuan yang kokoh.

Bagaimana hubungan antara kritik dan persatuan menurut Muzani? Menurut Muzani, kritik tidak boleh digunakan untuk merobek persatuan, dan persatuan juga tidak boleh digunakan untuk meredam perbedaan pendapat. Keduanya harus berjalan seimbang.

Leave a Comment