Women

Parenting ala Jennifer Coppen, Pakai Cara Unik saat Hukum Kamari: Taruh di Pantry dan Matiin Lampu

kamari-l51a_large

Jennifer Coppen Pilih Time Out untuk Mengajarkan Disiplin pada Kamari

Partaiberita.com – Jennifer Coppen menerapkan pendekatan tersendiri ketika putrinya, Kamari Sky Wassink, melakukan kesalahan. Ibu satu anak tersebut memilih memberikan konsekuensi tanpa hukuman fisik, dengan menggunakan metode time out di area pantry dan mematikan lampu untuk sementara waktu.

Pendekatan ini menjadi cara Jennifer mengenalkan batasan kepada Kamari. Saat sang anak perlu menenangkan diri atau memahami bahwa tindakannya tidak tepat, pantry digunakan sebagai ruang khusus untuk menjalani waktu jeda tersebut. Jennifer tidak memilih memukul maupun memberikan hukuman yang membuat anak dikurung di kamar mandi.

Berbeda dari Pola Asuh Masa Kecilnya

Gaya parenting yang dijalankan Jennifer tidak sepenuhnya sama dengan pengalaman yang ia terima ketika kecil. Ia mengingat almarhumah ibunya sebagai perempuan berdarah Jawa yang memiliki karakter tegas dan cenderung keras dalam mendidik anak.

Jennifer, yang mewakili generasi lebih muda, merasa lebih nyaman menjalankan pola asuh yang santai dalam keseharian bersama Kamari. Meski demikian, sikap santai itu bukan berarti tidak ada aturan. Ia tetap memberi konsekuensi ketika Kamari melakukan sesuatu yang keliru.

“Agak beda sih parenting-nya. Kalau mama-mama zaman dulu kan lebih galak, lebih strict gitu ya. Kalau aku sih lebih santai dikit sama Kamari lah. Ngasih hukumannya beda, kalau zaman dulu digeprak atau diapain gitu kan,” kata Jennifer Coppen dalam sebuah wawancara, dikutip Senin (21/9/2026).

Pernyataan tersebut menggambarkan perbedaan cara pandang antar generasi dalam menetapkan disiplin di rumah. Jennifer tetap menempatkan aturan sebagai bagian dari pengasuhan, tetapi berusaha menyampaikannya melalui bentuk konsekuensi yang berbeda dari hukuman fisik.

Pantry Menjadi Ruang Jeda

Konsep time out yang dipilih Jennifer dilakukan di ruangan khusus, yakni pantry. Lampu dimatikan ketika Kamari menjalani waktu jeda tersebut. Cara ini menjadi bagian dari upaya Jennifer untuk memberikan respons atas kesalahan anak tanpa melibatkan tindakan kekerasan.

Penggunaan ruang tertentu juga membuat konsekuensi itu memiliki penanda yang jelas bagi anak. Pantry tidak sekadar menjadi bagian rumah, melainkan tempat yang dipakai ketika Kamari perlu berhenti sejenak dari aktivitasnya. Dalam situasi seperti ini, anak diberi kesempatan untuk merasakan bahwa tindakan tertentu memiliki akibat.

Jennifer menekankan bahwa metode tersebut berbeda dari bentuk hukuman yang umum diterapkan pada masa lalu. Ia tidak menggunakan pukulan sebagai sarana mendisiplinkan putrinya. Ia pun tidak menjadikan kamar mandi sebagai tempat untuk mengunci anak ketika melakukan kesalahan.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa disiplin dapat hadir bersamaan dengan kedekatan orang tua dan anak. Bagi Jennifer, memberi batasan bukan berarti harus selalu dilakukan dengan kemarahan atau tindakan keras. Konsekuensi tetap ada, tetapi bentuknya disesuaikan dengan cara pengasuhan yang ingin ia bangun bersama Kamari.

Disiplin Tetap Menjadi Bagian dari Pengasuhan

Dalam kehidupan sehari-hari, pola asuh yang lebih santai kerap disalahartikan sebagai tidak adanya ketegasan. Namun, cerita Jennifer memperlihatkan bahwa kelonggaran dalam interaksi dengan anak tetap dapat berjalan bersama aturan. Ia tidak menghilangkan konsekuensi, melainkan mengubah cara pemberiannya.

Time out dalam konteks yang diterapkan Jennifer menjadi momen berhenti, bukan bentuk perlakuan fisik. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua dapat menunjukkan bahwa perilaku tersebut perlu diperbaiki tanpa menjadikan rasa takut sebagai satu-satunya dasar kepatuhan.

Tentu, setiap keluarga memiliki dinamika dan pilihan pengasuhan yang berbeda. Pengalaman masa kecil, nilai keluarga, serta karakter orang tua dan anak dapat memengaruhi cara disiplin diterapkan. Jennifer sendiri terbuka mengenai perbedaan antara didikan yang pernah ia terima dan pendekatan yang kini ia gunakan sebagai seorang ibu.

Ia memilih untuk tetap memberikan arahan kepada Kamari, sekaligus membangun suasana yang lebih santai. Dengan cara itu, Kamari tetap belajar mengenali batasan dalam keseharian, sementara Jennifer menjalankan perannya sebagai ibu dengan prinsip yang dianggapnya sesuai.

Bagi pembaca, kisah ini dapat menjadi pengingat bahwa mendisiplinkan anak tidak hanya berkaitan dengan menentukan hukuman. Yang juga penting adalah konsistensi orang tua dalam menjelaskan batasan dan memberi konsekuensi atas perilaku yang tidak tepat. Pendekatan Jennifer melalui time out memperlihatkan pilihannya untuk menjaga disiplin tanpa menerapkan hukuman fisik.

Jennifer Coppen pun menunjukkan bahwa perubahan pola asuh dapat terjadi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia tetap mengakui ketegasan yang ada dalam didikan ibunya, tetapi memilih menempuh jalan berbeda saat membesarkan Kamari Sky Wassink.

Frequently Asked Questions

What is Parenting ala Jennifer Coppen Pakai Cara?

Parenting ala Jennifer Coppen Pakai Cara is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Parenting ala Jennifer Coppen Pakai Cara matter?

Parenting ala Jennifer Coppen Pakai Cara matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *