BMKG: Gempa M6,7 Palu Bukan Disebabkan Aktivitas Palu-Koro
Analis Lengkap BMKG soal Gempa Dahsyat – BMKG melakukan analisis lengkap terkait gempa dahsyat berkekuatan M6,7 yang mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tengah. Analis Lengkap BMKG soal Gempa menyebutkan bahwa gempa tersebut tidak berasal dari aktivitas Sesar Palu-Koro, yang dikenal sebagai sesar legendaris. Sebaliknya, BMKG menegaskan bahwa penyebab utamanya adalah aktivitas Sesar Sausu, yang berada di lokasi berbeda. Hasil pemetaan dan data seismik menunjukkan bahwa gempa ini terjadi akibat pergerakan normal fault, bukan aktivitas sesar aktif di wilayah Palu-Koro.
Analisis Sesar Sausu dan Mekanisme Gempa
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya membantu memastikan bahwa gempa M6,7 Palu berasal dari Sesar Sausu. “Mekanisme sumber gempa menunjukkan pergerakan turun atau normal fault, yang berbeda dari mekanisme gempa yang diakibatkan oleh Sesar Palu-Koro,” kata Wijayanto. Ia menambahkan bahwa Sesar Sausu berada di wilayah Sulawesi Tengah, lebih ke utara dari Palu-Koro. Menurutnya, keberadaan beberapa sesar aktif di Palu seperti Sesar Ampana dan Sesar Palu-Koro tidak selalu berarti menghasilkan gempa besar, karena aktivitas sesar di sekitar bisa menyebabkan gempa-gempa kecil.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, juga mengkonfirmasi bahwa Sesar Sausu yang menjadi penyebab gempa M6,7 tidak memicu pembentukan sesar baru. “Aktivitas sesar ini hanya berdampak lokal, dan tidak ada indikasi bahwa akan memicu gempa lebih besar di masa depan,” ujarnya. Dalam analisis mekanisme sumber, BMKG mengatakan bahwa pergerakan normal fault terjadi ketika blok batuan di satu sisi sesar bergerak ke bawah terhadap blok lainnya. Hal ini berbeda dengan mekanisme gempa yang diakibatkan oleh sesar aktif di daerah Palu-Koro, yang biasanya berupa pergerakan geser.
Sejarah dan Kehadiran Sesar Palu-Koro
Menurut BMKG, Sesar Palu-Koro memang salah satu dari sesar aktif yang paling terkenal di wilayah Indonesia, terutama di sekitar Palu. Sesar ini dikenal karena pernah menjadi penyebab gempa besar sebelumnya, seperti gempa M7,0 tahun 2018 yang mengakibatkan tsunami. Meski demikian, dalam analisis gempa terkini, BMKG menegaskan bahwa Sesar Palu-Koro tidak menjadi penyebab utama gempa M6,7. “Gempa M6,7 ini berada di daerah yang berbeda, sehingga tidak ada hubungan langsung dengan kegiatan Palu-Koro,” jelas Nelly Florida Riama.
Wijayanto menambahkan bahwa meskipun ada banyak sesar aktif di Palu, seperti Sesar Ampana dan Sesar Palu-Koro, keberadaannya tidak selalu memicu gempa besar. “Gempa besar biasanya terjadi ketika terdapat pergeseran besar antar blok batuan, sementara gempa yang terjadi hari ini lebih bersifat lokal,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa Sesar Sausu, yang berada di daerah yang berbeda, justru menjadi fokus analisis dalam hal ini karena lokasinya dan kedalaman hiposenternya menunjukkan aktivitas yang berbeda dari Sesar Palu-Koro.
Dalam keterangannya, BMKG menyampaikan bahwa hasil analisis mekanisme sumber gempa M6,7 menunjukkan bahwa pergerakan normal fault terjadi di Sesar Sausu. Sesar ini berada di bagian utara Palu, dan memang sudah lama diketahui sebagai sumber gempa aktif. “BMKG terus memantau aktivitas sesar tersebut, dan hingga kini tidak ada tanda-tanda bahwa Sesar Sausu akan memicu gempa berkekuatan besar dalam waktu dekat,” kata Wijayanto. Dengan demikian, gempa M6,7 ini dianggap sebagai salah satu dari serangkaian gempa yang terjadi karena aktivitas sesar lokal.
Pemetaan Gempa Susulan dan Potensi Kerusakan
BMKG juga memberikan penjelasan tentang potensi gempa susulan setelah peristiwa M6,7 Palu. “Kita akan terus memantau distribusi gempa susulan dan mencoba memetakan secara spasial apakah arahnya akan menyebar ke daerah lain atau tetap fokus di Sesar Sausu,” kata Wijayanto. Ia menjelaskan bahwa gempa susulan biasanya terjadi karena aktivitas sesar yang masih berlangsung, dan BMKG akan mengawasi pola pergerakan tersebut untuk memberikan informasi yang akurat kepada publik.
Dalam analisis, BMKG menemukan bahwa gempa M6,7 Palu menyebabkan kerusakan signifikan di sekitar daerah episenter. Beberapa bangunan rusak akibat guncungan tersebut, meskipun intensitasnya tidak sebesar gempa tahun 2018. Wijayanto menyebutkan bahwa BMKG telah mengumpulkan data dari jaringan seismik nasional dan data dari satelit untuk memastikan keakuratan analisis. “Dengan data yang dikumpulkan, kita dapat memprediksi apakah ada potensi gempa susulan atau tidak,” jelasnya. Dengan demikian, analisis BMKG terhadap gempa M6,7 Palu membantu masyarakat memahami akar masalah gempa dan mengurangi risiko terhadap kejadian susulan yang mungkin terjadi.
