Latest Update: Regulasi Pemain U-23 Dihapus dari Super League 2026-2027, Ini Perubahan Penting untuk Musim Depan
Latest Update – I.League, operator kompetisi sepakbola Indonesia, mengumumkan bahwa aturan wajib pemain U-23 dalam Super League 2026-2027 resmi dihapus. Pengumuman ini menjadi sorotan utama dalam rapat penyampaian regulasi baru yang diadakan di Kantor I.League, Sudirman, Jakarta, pada Jumat (19/6/2026). Perubahan ini menandai kebijakan krusial yang akan berlaku untuk musim depan, dengan tujuan meningkatkan fleksibilitas dan kualitas pertandingan.
Regulasi U-23 Tidak Lagi Berlaku, Format Kompetisi Tetap Diperbaiki
Sebelumnya, pemain U-23 diwajibkan tampil minimal 45 menit dalam setiap pertandingan sebagai bagian dari kebijakan mendukung pengembangan bakat lokal. Kebijakan tersebut dirasa memberatkan beberapa klub, terutama yang kesulitan memenuhi syarat karena keterbatasan jumlah pemain muda di skuad. Dalam pernyataan resmi, Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, menjelaskan bahwa aturan ini diubah menjadi sistem insentif yang lebih fleksibel.
“Regulasi wajib pemain U-23 tidak dihapus sepenuhnya, tetapi diubah menjadi skema insentif. Klub yang mencapai target menit tertentu, seperti 3.000 menit bermain pemain muda, akan mendapatkan dana tambahan sebagai bentuk apresiasi,” terang Asep Saputra dalam wawancara dengan Okezone. Perubahan ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak pemain U-23 berkembang secara alami, tanpa tekanan berlebihan dari pertandingan liga.
Format Super League Tetap Stabil, Fokus pada Kualitas Tim
Secara struktur, Super League 2026-2027 tetap menggunakan sistem double round robin dengan 18 klub yang sama. Total pertandingan mencapai 306 laga, terdiri dari dua babak berturut-turut untuk memastikan setiap tim bermain melawan lawan sebanyak 18 kali. Meski tidak ada perubahan signifikan pada format kompetisi, kebijakan baru ini memberikan ruang bagi klub untuk memilih pemain muda berdasarkan performa dan kebutuhan tim.
Menurut Asep Saputra, keputusan ini diambil setelah evaluasi mendalam terhadap dinamika pertandingan dan kebutuhan pemain muda. “Kebijakan lama menciptakan tekanan berlebihan, terutama saat klub kesulitan membangun tim yang seimbang antara pengalaman dan keberagaman usia. Dengan sistem insentif, kita bisa memberikan dorongan yang lebih konsisten untuk pengembangan pemain muda,” jelasnya. Hal ini juga memberi keleluasaan bagi klub untuk menyesuaikan strategi pemainan dan pengembangan tim.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada klub, tetapi juga pada para pemain U-23. Mereka kini diberi kesempatan untuk bermain sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan tim, alih-alih dipaksa memenuhi kuota waktu bermain. Meski tidak lagi wajib, klub tetap diharapkan memprioritaskan pemain muda dalam susunan pemain, terutama saat menit bermain yang diberikan meningkat. Dengan sistem insentif, para pemain muda akan lebih termotivasi untuk tampil maksimal, sementara klub bisa mengoptimalkan rotasi pemain.
Latest Update – Kebijakan penghapusan aturan pemain U-23 wajib juga menjadi kabar baik bagi para pemain asing yang selama ini menjadi bagian penting dalam pertandingan. Setiap klub masih diperbolehkan mendaftarkan hingga 11 pemain asing, dengan sembilan wajib masuk dalam susunan pemain dan tujuh bisa tampil dalam satu pertandingan. Pemain asing tetap menjadi penunjang utama, terutama untuk memperkuat kekuatan tim di musim depan.
Perubahan ini juga mencerminkan keinginan I.League untuk menyesuaikan kebijakan dengan kondisi pasar sepakbola nasional yang terus berkembang. Dengan menghilangkan aturan kaku, liga berharap dapat menarik lebih banyak pemain berkualitas dari liga-liga lain, sementara tetap menjaga kompetensi pemain lokal. “Kami ingin menciptakan lingkungan yang lebih adil dan kompetitif, baik untuk pemain muda maupun pemain berpengalaman,” kata Asep Saputra. Ini menandai langkah strategis untuk membangun basis pemain yang lebih kuat dan berkelanjutan.
