Jelang Puncak Haji: Kemenhaj Ingatkan Jamaah Lansia dan Kelompok Risiko Tinggi Jaga Kondisi
Jelang puncak haji, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memberikan peringatan penting kepada jamaah lansia serta kelompok yang rentan terhadap kondisi kesehatan. Peringatan ini diberikan guna memastikan seluruh jamaah dapat menjalani rangkaian ibadah haji dengan aman dan optimal. Fase puncak ibadah, yaitu Armuzna, menjadi momen kritis di mana kebugaran fisik dan mental harus terjaga sepanjang proses.
Penjagaan Kesehatan Sebelum Memasuki Armuzna
Persiapan kesehatan harus dimulai jauh sebelum jamaah tiba di Tanah Suci. Selain itu, penting untuk menjaga kebugaran secara bertahap sebelum memasuki fase Armuzna. Jamaah lansia, khususnya, disarankan melakukan latihan ringan seperti jalan kaki pendek atau senam untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, mengatur jadwal istirahat yang cukup dan memastikan asupan nutrisi serta cairan tubuh tetap terpenuhi menjadi faktor kunci.
“Jamaah lansia dan kelompok berisiko tinggi harus memperhatikan kondisi tubuh mereka secara lebih intens. Mereka perlu beradaptasi secara perlahan dengan aktivitas fisik yang akan dilakukan selama puncak haji,” kata Maria Assegaff, juru bicara Kemenhaj, dalam konferensi pers Jumat (15/5/2026). Dalam kegiatan ini, efisiensi dalam pengaturan kegiatan harian dan pengenalan lingkungan sebelum tiba di Arab Saudi sangat membantu dalam mengurangi risiko kelelahan atau gangguan kesehatan.
Strategi Pemantauan Kesehatan selama Proses Haji
Menurut Maria, selama menjalani ibadah haji, jamaah harus tetap memantau kesehatan mereka. Ini mencakup pengawasan terhadap gejala seperti lemas, pusing, dan sesak napas yang mungkin muncul akibat cuaca ekstrem di Arab Saudi. Jamaah juga dianjurkan mengonsumsi makanan yang bergizi serta minum air secara teratur guna mencegah dehidrasi. Penyesuaian pola makan sebelum dan selama keberangkatan menjadi bagian dari persiapan yang harus dilakukan secara cermat.
“Kesiapan dini sangat berpengaruh terhadap kelancaran ibadah haji. Penyesuaian ritme aktivitas dan penggunaan alat bantu jika diperlukan harus disiapkan sebelum proses Armuzna dimulai,” tambah Maria. Ia juga menekankan perlunya koordinasi dengan petugas kesehatan atau anggota kloter jika kondisi jamaah menunjukkan penurunan stamina.
Jelang puncak haji, Kemenhaj memastikan semua kloter dilengkapi dengan fasilitas kesehatan yang memadai. Hal ini termasuk perlengkapan obat-obatan, air minum, dan alat pelindung untuk menghadapi cuaca panas yang menjadi tantangan utama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Selain itu, para jamaah diimbau untuk mengikuti arahan petugas secara konsisten dan tidak mengabaikan tanda-tanda kelelahan berlebihan. Persiapan fisik dan mental yang baik akan menjadi fondasi untuk menghadapi rangkaian ibadah yang intens.
