30 Ribu Jemaah Haji Indonesia Telah Diverifikasi di Bandara Soetta
Important Visit – JAKARTA – Galih P. Kartika Perdhana, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta, menyatakan bahwa lebih dari 35 ribu jemaah haji dari Indonesia telah direncanakan untuk berangkat ke Tanah Suci Mekkah pada musim haji tahun ini. Hingga saat ini, 30 ribu jemaah sudah menyelesaikan pemeriksaan dan verifikasi administrasi. “Pada masa ini, kami sedang berada di fasilitas Makkah Route, di mana seluruh proses keberangkatan jemaah haji telah dilakukan pengesahan keimigrasian,” jelasnya kepada wartawan, Minggu (17/5/2026). Menurut Galih, keberangkatan jemaah haji seharusnya di-clearance di negara tujuan, tetapi kini dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta untuk memudahkan proses.
Persiapan yang Kian Memicu Antusiasme
Proses verifikasi di Bandara Soetta menjadi bagian integral dari Important Visit kementerian terkait dalam meningkatkan efisiensi dan kenyamanan para jemaah. Dengan mengumpulkan semua dokumen keimigrasian di satu titik, pihak Imigrasi berupaya meminimalkan hambatan administratif saat jemaah tiba di Arab Saudi. Galih menjelaskan bahwa kebijakan ini juga mempercepat proses registrasi, mengingat tingginya jumlah jemaah yang berangkat setiap tahun.
“Dengan melakukan clearance di Bandara Soetta, kami memastikan bahwa negara, khususnya Imigrasi, tetap hadir untuk mendukung para jemaah selama ibadah haji. Layanan ini juga memberikan efisiensi, sehingga jemaah tidak perlu repot lagi saat tiba di Arab Saudi,” tambahnya.
Kerja Sama Tim Imigrasi dan Arab Saudi
Proses verifikasi keimigrasian ini tidak hanya dilakukan oleh pihak Indonesia, tetapi juga melibatkan tim dari Arab Saudi. Galih menyebutkan bahwa ada 10 counter Makkah Route yang tersedia di empat bandara, termasuk Bandara Adi Soemarmo Solo, Juanda Surabaya, Sultan Hasanuddin Makassar, serta layanan baru yang baru saja diperkenalkan di Makassar. Dalam Important Visit ini, pihak Imigrasi menyiapkan lebih dari 120 petugas yang berjaga secara bergiliran untuk mengelola pemeriksaan.
Kerja sama tersebut mencakup pembukaan segel saat jemaah tiba dengan bus, bantuan selama proses, serta pendampingan sebelum masuk ke tahap Makkah Route. Galih menjelaskan bahwa langkah ini dimaksudkan untuk memastikan seluruh jemaah memenuhi persyaratan masuk ke Tanah Suci. “Karena sejak pemeriksaan selesai di belakang, secara de jure para jemaah sudah dianggap berada di wilayah Arab Saudi,” katanya.
Dalam Important Visit ke bandara tersebut, pihak Imigrasi mengungkapkan bahwa pengesahan administrasi di Bandara Soetta menjadi kebijakan penting untuk mengurangi risiko kesalahan dokumentasi di lapangan. Pemrosesan keimigrasian di tahap awal juga memungkinkan adanya pemantauan lebih ketat terhadap data jemaah, sehingga meningkatkan kualitas layanan selama ibadah haji. Selain itu, kebijakan ini berdampak pada pengurangan waktu tunggu jemaah, yang sebelumnya memakan waktu beberapa hari di negara tujuan.
Galih juga mengatakan bahwa sistem ini diharapkan bisa menjadi contoh untuk pengembangan keimigrasian di bandara lain. “Kami terus berupaya memperbaiki dan memperluas fasilitas clearance untuk semua jemaah haji,” terangnya. Dengan adanya layanan Makkah Route di Makassar, diharapkan keberangkatan jemaah dari daerah-daerah jauh bisa lebih mudah. Ini menjadi bagian dari Important Visit pihak Imigrasi dalam memastikan kelancaran ibadah haji.
Sebagai bagian dari Important Visit, seluruh jemaah yang telah diverifikasi di Bandara Soetta akan mendapatkan label resmi sebagai warga negara Arab Saudi. Hal ini menjadi syarat utama untuk masuk ke Tanah Suci, serta memudahkan pihak pengelola dan pendamping haji dalam mengelola arus jemaah. Pemeriksaan ini juga mencakup pemantauan kesehatan dan identifikasi khusus, agar tidak ada jemaah yang terlewat atau bermasalah.
Dengan Important Visit ke bandara yang menjadi pusat pemeriksaan, pihak Imigrasi berharap bisa menciptakan sistem yang lebih cepat dan terintegrasi. Harapan ini diiringi oleh dukungan pemerintah Arab Saudi yang telah berkomitmen untuk mempercepat proses masuk jemaah haji. Langkah ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antar-negara dalam memastikan kelancaran ibadah haji, yang telah menjadi bagian dari sejarah Islam Indonesia sejak dahulu kala.
