Edukasi

Apa Arti Londo Ireng yang Viral di Media sosial? Ini Asal-usulnya

Foto : Jessica Martinez - partaiberita.com

Londo Ireng: Makna dan Sejarah Istilah yang Kembali Viral

Partaiberita.com – Istilah Londo Ireng kini kembali mencuri perhatian warganet Indonesia. Hal ini terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto menyematkan kata tersebut dalam orasinya yang penuh makna. Pidato tersebut disampaikan pada peringatan Hari Jadi ke-28 PKB di Jakarta, tepatnya tanggal 23 Juli 2026. Kehadiran istilah lama ini memicu banyak pertanyaan dari masyarakat tentang makna dan latar belakang sejarahnya. Banyak yang penasaran dengan asal-usul istilah yang memiliki akar sejarah panjang ini.

Apa Itu Londo Ireng?

Dalam kosakata Jawa, kata londo merujuk pada bangsa Belanda, sementara ireng berarti warna hitam. Pada era kolonial, masyarakat Belanda umumnya memiliki kulit pucat dan rambut terang. Namun, ada kelompok tertentu yang mendapat julukan Londo Ireng. Mereka adalah orang-orang berkulit gelap yang bekerja membantu administrasi pemerintahan Hindia Belanda. Istilah ini mencerminkan keragaman dalam masyarakat kolonial yang sering kali terlupakan.

Berdasarkan catatan Military History, istilah ini berasal dari Zwarte Hollanders. Kelompok ini terdiri dari prajurit asal Afrika yang direkrut untuk bergabung dengan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger atau KNIL. Proses perekrutan dimulai setelah Belanda mengalami kekalahan signifikan dalam Perang Jawa. Konflik besar yang dipimpin Pangeran Diponegoro berlangsung antara tahun 1825 hingga 1830. Kekalahan ini memaksa Belanda mencari alternatif pasukan baru.

Perang Jawa menguras kekuatan militer dan keuangan pemerintah kolonial secara drastis. Akibatnya, Belanda mencari sumber pasukan baru dari luar Jawa.

Sejak tahun 1831 hingga 1870, pemerintah kolonial mendatangkan tentara dari berbagai daerah di Afrika. Mereka ditempatkan untuk memperkuat KNIL di Hindia Belanda. Para prajurit Afrika ini mengenakan seragam yang identik dengan pakaian tentara Belanda. Mereka juga terlibat dalam berbagai operasi militer di seluruh wilayah Hindia Belanda. Kehadiran mereka menambah warna dalam sejarah Indonesia yang sering kali tidak banyak diketahui publik.

Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan istilah Londo Ireng untuk menyebut pihak yang dinilai lebih mementingkan negara lain daripada kepentingan Indonesia. Penggunaan kata ini menunjukkan bagaimana istilah kolonial masih relevan hingga saat ini untuk menggambarkan fenomena tertentu dalam masyarakat. Istilah ini menjadi metafora yang kuat untuk menggambarkan loyalitas yang terbagi.

Sejarah Londo Ireng juga mencerminkan bagaimana kolonialisme membawa perubahan besar dalam struktur masyarakat Indonesia. Prajurit Afrika yang datang ke Nusantara tidak hanya menjadi bagian dari kekuatan militer, tetapi juga berkontribusi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Mereka berinteraksi dengan penduduk pribumi dan membentuk komunitas tersendiri di berbagai daerah. Warisan sejarah ini masih bisa ditemukan dalam berbagai aspek budaya Indonesia hingga kini.

Kembali viralnya istilah Londo Ireng menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin tertarik dengan sejarah dan asal-usul istilah-istilah yang digunakan sehari-hari. Media sosial menjadi platform yang efektif untuk menyebarkan pengetahuan tentang hal-hal yang sering kali terabaikan. Banyak generasi muda yang menemukan bahwa istilah-istilah lama masih memiliki relevansi dengan kondisi sosial politik saat ini. Hal ini membuktikan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar mati, melainkan terus hidup dalam bahasa dan budaya kita.

Leave a Comment