Economy

Ekosistem Ekonomi Hijau di Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Singkong

Foto : Richard Brown - partaiberita.com

Ekosistem Ekonomi Hijau di Sektor Pertanian dan Industri Singkong Lampung

Partaiberita.com – Provinsi Lampung kini menjadi pusat perhatian dalam pengembangan Ekosistem Ekonomi Hijau di Sektor pertanian nasional. Sebagai produsen singkong terbesar di Indonesia, Lampung memiliki kapasitas produksi yang mencapai 7,5 juta ton setiap tahunnya. Angka ini menempatkan provinsi tersebut sebagai tulang punggung industri singkong di seluruh nusantara. Kehadiran industri pengolahan tepung tapioka yang telah mapan semakin memperkuat fondasi ekonomi hijau berbasis komoditas ini.

PT ESGIN Global Partners melalui Yayang Ruzaldy, yang menjabat sebagai Vice President serta Indonesia Regional Head, telah berkomitmen untuk mengembangkan proyek-proyek strategis di wilayah ini. Peran perusahaan tidak terbatas hanya sebagai pengembang proyek karbon, namun juga sebagai investor yang membangun infrastruktur ekonomi hijau secara menyeluruh. Komitmen ini mencakup berbagai inisiatif penting, mulai dari Climate Smart Agriculture, Biochar, hingga Methane Removal Project yang diterapkan pada industri pengolahan tepung tapioka.

“Melalui integrasi investasi, Digital MRV, Artificial Intelligence, blockchain, Green Finance, dan Carbon Market, kami ingin menciptakan model pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat daya saing industri, dan mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia,” ungkap Yayang dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Program pengembangan ini sejalan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement serta Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon. Kedua regulasi tersebut memberikan kerangka hukum yang kuat untuk mendorong pembangunan rendah karbon, perdagangan karbon, dan pembiayaan iklim di Indonesia. Dengan adanya payung hukum ini, investasi hijau dapat mengalir lebih lancar ke berbagai sektor produktif.

Integrasi Teknologi dan Pembiayaan Hijau

Menurut Yayang, kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana investasi hijau mampu menghubungkan sektor pertanian, industri, teknologi, dan pembiayaan dalam satu ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Teknologi Digital MRV memungkinkan pemantauan emisi secara real-time dengan akurasi tinggi. Sementara itu, blockchain memastikan transparansi dalam setiap transaksi karbon. Artificial Intelligence membantu analisis data yang lebih cepat dan tepat untuk pengambilan keputusan strategis.

Sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman, para pihak akan memulai penyusunan Feasibility Study, identifikasi lokasi proyek prioritas, penyusunan dokumen proyek karbon, implementasi Digital MRV, serta pengembangan skema pembiayaan hijau guna mempercepat realisasi investasi. Kerja sama ini diharapkan menjadi model nasional pengembangan green project pada sektor pertanian dan agroindustri yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.

Pengembangan Ekosistem Ekonomi Hijau di Sektor pertanian di Lampung juga memberikan dampak positif langsung kepada petani lokal. Melalui skema carbon credit, petani dapat memperoleh tambahan pendapatan dari aktivitas pertanian yang ramah lingkungan. Teknologi Climate Smart Agriculture membantu meningkatkan produktivitas lahan sambil mengurangi emisi gas rumah kaca. Biochar yang dihasilkan dari limbah pertanian dapat digunakan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi.

Industri pengolahan tepung tapioka juga mendapat manfaat signifikan dari program ini. Methane Removal Project membantu mengurangi emisi metana yang dihasilkan selama proses pengolahan. Dengan demikian, industri ini tidak hanya berkontribusi pada ekonomi lokal, tetapi juga mendukung target penurunan emisi nasional. Posisi Lampung sebagai pelopor implementasi nilai ekonomi karbon di Indonesia semakin kokoh dengan adanya dukungan dari berbagai pemangku kepentingan.

Ke depan, pengembangan ekosistem ini akan terus diperluas ke sektor-sektor lain yang memiliki potensi tinggi. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil menjadi kunci keberhasilan transformasi menuju ekonomi hijau. Dengan pendekatan yang terintegrasi, Lampung dapat menjadi contoh bagi provinsi lain dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam untuk pembangunan berkelanjutan.

Leave a Comment