Cuaca Panas Ekstrem, Kemenhaj: 67 Jamaah Haji Dirawat di RS Arab Saudi
JAKARTA
Cuaca Panas Ekstrem – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengungkapkan bahwa 67 jamaah haji dari Indonesia masih menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi. Kondisi cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan peserta ibadah. Sebagai antisipasi, Kemenhaj memberikan himbauan agar jamaah tetap waspada sebelum memasuki tahap puncak ibadah.
“Puncak haji membutuhkan persiapan fisik, ketenangan mental, dan kemampuan mengatur kegiatan,” jelas Ichsan Marsha, juru bicara Kemenhaj, pada Minggu (10/5/2026). “Jamaah dianjurkan tidak memaksakan diri melakukan tugas yang tidak mendesak, terutama di luar area hotel pada siang hari.”
Suhu di Kota Makkah dan Madinah yang mencapai antara 38 hingga 44 derajat Celsius memerlukan strategi pengelolaan energi yang lebih cermat. Ibadah wajib menjadi prioritas utama, sementara kegiatan tambahan sebaiknya dihindari saat kondisi tubuh terganggu. Peserta haji juga diminta mengikuti instruksi petugas dan mengurangi risiko lelah.
Dalam upaya menjaga stamina, Kemenhaj menyarankan jamaah untuk tetap mengonsumsi cairan, memperbanyak minum air putih, makan teratur, serta memakai pelindung seperti payung atau topi. Alas kaki yang nyaman juga dianjurkan untuk menghindari terkilir. Jika merasa lelah, segera beristirahat agar tidak memicu komplikasi kesehatan.
“Bagi jamaah lansia, disabilitas, maupun yang memiliki penyakit penyerta, selalu berkoordinasi dengan ketua regu atau petugas kesehatan. Jangan ragu melapor jika mengalami gejala seperti pusing, sesak napas, nyeri dada, demam, atau batuk berat,” tambah Ichsan.
Menurutnya, kesehatan menjadi aspek kunci dalam menghadapi fase puncak haji. Hingga saat ini, layanan kesehatan dilaporkan beroperasi optimal. Kemenhaj juga berharap para jamaah yang sedang sakit dapat segera pulih dan melanjutkan ibadah dengan baik.
Ichsan menegaskan bahwa petugas kesehatan terus memantau dan mendampingi jamaah di berbagai titik layanan. Namun, ia menyoroti bahwa kedisiplinan peserta dalam mengenali kondisi tubuhnya sendiri sangat menentukan keberhasilan pengelolaan kesehatan.