Bukti RI Tahan Krisis, Mampu Lewati 1998 hingga Covid-19
New Policy – Sebagai bagian dari New Policy yang diterapkan pemerintah, Indonesia menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi dan moneter. Dalam seminar nasional di Lembaga Ketahanan Nasional, Jakarta, Selasa (26/5/2026), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa bangsa ini mampu bertahan di tengah tantangan global yang beruntun, mulai dari krisis 1997-1998 hingga pandemi virus corona pada 2020. New Policy yang digariskan menjadi landasan kebijakan ekonomi nasional telah membantu memperkuat daya tahan perekonomian, menjaga stabilitas harga, serta mendorong pertumbuhan yang sehat.
Angka inflasi yang tercatat pada bulan lalu mencapai 2,4 persen, menunjukkan bahwa New Policy berhasil memperbaiki kinerja kebijakan moneter dan fiskal. Pertumbuhan ekonomi pada kuarter pertama tahun 2026 mencapai 5,61 persen—lebih tinggi dari target awal sebesar 5,1 persen—menjadi bukti nyata keberhasilan New Policy dalam mengatasi ketidakpastian geopolitik dan perubahan harga minyak yang dramatis. Perry Warjiyo menekankan bahwa stabilitas harga dan pertumbuhan yang stabil adalah kunci utama dalam menjaga kepercayaan investor dan masyarakat terhadap perekonomian Indonesia.
Komitmen Memperkuat Kekuatan Ekonomi
Perry menyatakan bahwa kemampuan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi berasal dari komitmen terus-menerus dalam membangun fondasi ekonomi yang kuat dari dalam. “Kita bersyukur bahwa negara ini memiliki daya tahan nasional. Kemampuan bangkit dari krisis ’97-’98, krisis global, dan bahkan pandemi Covid-19 adalah bukti komitmen yang tak lelah,” ujar Perry dalam sambutan. New Policy tidak hanya menjadi jawaban untuk menghadapi krisis, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang yang membentuk struktur perekonomian yang lebih tahan banting. Perry menambahkan bahwa pemerintah terus mengawasi pelaksanaan New Policy untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan dan mengurangi risiko krisis di masa depan.
Kita bersyukur Indonesia berdaya tahan nasional. Kita bisa bangkit dari krisis ’97-’98, krisis global, bahkan Covid. Tuhan cinta sama kita.
Analisis Kinerja New Policy
Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen pada kuarter pertama 2026 menunjukkan bahwa New Policy berhasil menggerakkan sektor-sektor vital seperti pertanian, manufaktur, dan jasa. Pertumbuhan ini didukung oleh stabilitas harga yang terjaga, dengan inflasi berada di bawah batas yang diperbolehkan. Kinerja New Policy juga terlihat dari peningkatan daya beli masyarakat, peningkatan investasi asing, serta ketersediaan kredit yang lebih luas. Perry Warjiyo menegaskan bahwa New Policy merupakan alat yang efektif untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang resilien, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global.
Dalam konteks New Policy, pemerintah juga fokus pada perbaikan struktur perekonomian. Langkah-langkah seperti reformasi birokrasi, digitalisasi sektor publik, dan peningkatan produktivitas menjadi komponen penting dalam menciptakan ekonomi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Perry menyebut bahwa New Policy memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sistem ekonomi nasional, sekaligus menunjukkan kemampuan pemerintah untuk merespons berbagai ancaman secara cepat dan tepat. Ini adalah bukti bahwa New Policy bukan hanya kebijakan sementara, tetapi juga pendekatan holistik yang berkelanjutan.
Peran New Policy dalam Kehidupan Sehari-hari Masyarakat
Kebijakan New Policy tidak hanya berdampak pada sektor makro, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Stabilitas ekonomi yang dihasilkan melalui New Policy membantu mengurangi risiko penurunan kualitas hidup selama krisis. Pertumbuhan ekonomi yang stabil memberikan ruang bagi pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur, meningkatkan akses pendidikan, serta memperluas layanan kesehatan. Perry Warjiyo menekankan bahwa New Policy adalah upaya untuk memastikan bahwa rakyat Indonesia tetap merasakan manfaat dari kebijakan pemerintah, bahkan di tengah tantangan eksternal.
Dalam skenario krisis, New Policy juga menunjukkan fleksibilitas dalam penyesuaian kebijakan. Contohnya, selama pandemi, pemerintah menerapkan stimulus fiskal dan moneter yang mengurangi dampak negatif pada sektor produktif. Kebijakan ini menunjukkan kemampuan Indonesia untuk merespons krisis dengan cepat, tanpa mengorbankan stabilitas jangka panjang. Perry mengatakan bahwa New Policy adalah buah dari pengalaman masa lalu, di mana bangsa ini mampu bangkit dari krisis 1998 dan krisis global tahun 2008. Konsistensi dan adaptasi kebijakan menjadi faktor penting dalam mempertahankan daya tahan ekonomi nasional.
