Prabowo Dorong Peningkatan E20: Indonesia Bisa Ikuti Jejak India dan Brasil?
Latest Program – JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan komitmennya untuk mempercepat program E20, yang bertujuan meningkatkan produksi bioetanol dalam negeri. Ia menegaskan bahwa keberhasilan negara-negara seperti India dan Brasil dalam mengembangkan bahan bakar berbasis etanol menjadi inspirasi untuk Indonesia, yang juga memiliki potensi besar dalam sektor energi terbarukan. Dalam pidatonya di acara Panen Raya Serentak di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Prabowo menyampaikan bahwa momentum ini bisa dimanfaatkan untuk mendorong kemajuan energi nasional, termasuk implementasi Latest Program yang berfokus pada pengurangan ketergantungan pada energi fosil.
Langkah Strategis Menuju E20
Program E20, yang merupakan bagian dari Latest Program, bertujuan untuk meningkatkan campuran etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) hingga 20 persen. Prabowo menekankan bahwa Indonesia telah mencapai sejumlah pencapaian penting, seperti kembali mengembangkan blok gas terbesar di kawasan Asia Tenggara setelah 28 tahun tidak bergerak. Dalam kesempatan tersebut, ia juga memaparkan bahwa pihaknya berencana membangun antara 30 hingga 50 pabrik etanol baru, sebagai langkah konkrit untuk menambah kapasitas produksi nasional. “Kita sukses menghidupkan kembali blok gas, dan kini mampu menghasilkan solar dari kelapa sawit,” ujarnya, dikutip Sabtu (18/7/2026).
“Kita kemarin berhasil mulai produksi, mulai pembangunan blok gas, salah satu yang terbesar di kawasan kita, setelah 28 tahun mangkrak, kita hidupkan. Sebelumnya, kita berhasil menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan B50. Kita sekarang menghasilkan solar dari kelapa sawit,”
Menurut Prabowo, proyek E20 bukan hanya sekadar isu energi, tetapi juga bagian dari upaya menumbuhkan sektor ekonomi berkelanjutan. Ia menyoroti bahwa program ini bisa memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian, terutama melalui pengurangan impor solar yang sebelumnya menjadi beban anggaran negara. Dengan mengembangkan bahan bakar berbasis bioetanol, Indonesia diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah pertanian, serta mendukung transisi energi yang lebih ramah lingkungan.
Perbandingan dengan Negara-Negara Lain
Dalam Latest Program, Prabowo menyebutkan bahwa negara-negara seperti India dan Brasil telah menunjukkan kemajuan pesat dalam penerapan energi terbarukan. India, misalnya, telah berhasil mengurangi ketergantungan pada BBM impor melalui kebijakan yang mendukung produksi etanol dari bahan lokal. Sementara Brasil, dengan program Proalcool, sudah mengimplementasikan campuran etanol hingga 28 persen di mobil-mobilnya. Prabowo menilai bahwa Indonesia memiliki keunggulan geografis dan sumber daya pertanian untuk mengejar target serupa.
Prabowo juga menyoroti bahwa sektor energi di Indonesia tidak hanya bisa terus berkembang, tetapi juga harus menjadi salah satu pilar utama Latest Program dalam membangun ekonomi yang resilien dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa E20 bukan hanya tentang efisiensi bahan bakar, tetapi juga tentang mengurangi emisi karbon dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mampu menciptakan solusi energi paling inovatif di Asia Tenggara.
Kendala dan Strategi Pengembangan
Walau mengakui kemajuan, Prabowo juga mengungkapkan tantangan yang masih dihadapi Indonesia dalam mewujudkan E20. Salah satu kendala utamanya adalah keterbatasan infrastruktur dan kapasitas produksi bahan baku etanol. “Meski kita berhasil menciptakan B50 dan solar dari kelapa sawit, pengembangan E20 masih memerlukan dukungan dari seluruh sektor,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa Latest Program akan mencakup kolaborasi dengan sektor swasta, peningkatan investasi, serta penerapan kebijakan yang lebih komprehensif untuk memastikan ekosistem bioetanol berjalan efisien.
Dalam rangka Latest Program, pemerintah berencana mengambil langkah-langkah konkret seperti memberikan insentif kepada produsen bioetanol, mengoptimalkan penggunaan lahan pertanian untuk produksi bahan baku, dan mendorong kerja sama internasional. Prabowo juga memastikan bahwa program ini akan menjadi bagian dari agenda nasional jangka panjang, dengan target menurunkan emisi gas rumah kaca seiring peningkatan penggunaan energi terbarukan.
