Rupiah Anjlok Rp18.000, RI-Filipina Sepakati Skema Barter untuk Hindari Dolar AS
Rupiah Anjlok Rp18 000 – Mata uang Rupiah mengalami penurunan tajam mencapai Rp18.000 per dolar AS, memicu upaya kerja sama perdagangan dengan Filipina melalui skema barter. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa negara-negara seperti Indonesia dan Filipina sedang berupaya memperkuat ekspor barang lokal serta mengurangi ketergantungan pada mata uang asing, khususnya dolar AS. Strategi ini diharapkan dapat memberikan solusi jangka panjang terhadap tekanan nilai tukar Rupiah yang terus mengalami penurunan, sehingga menghindari dampak negatif terhadap perdagangan bilateral.
Penyebab dan Dampak Depresiasi Rupiah
Kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap Rupiah menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia. Seiring dengan tekanan ekonomi global, inflasi dalam negeri, dan masalah neraca perdagangan, Rupiah terus mengalami tekanan. Depresiasi mata uang ini membuat impor lebih murah dan ekspor lebih mahal, sehingga mengganggu keseimbangan perdagangan. Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa situasi ini mendorong pemerintah untuk mencari alternatif transaksi yang lebih stabil, seperti skema barter, untuk mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
Menurut Budi, kerja sama barter antara Indonesia dan Filipina menjadi solusi yang cerdas. “Kami sudah berdiskusi dalam beberapa pertemuan dan menemukan kesepakatan untuk menggunakan skema barter sebagai alat untuk menguatkan ekspor,” ujarnya. Skema ini diharapkan dapat meningkatkan kuantitas barang yang diekspor, sementara mengurangi biaya impor, sehingga membantu mengimbangi defisit neraca perdagangan.
“Ya nanti tanggal 12 (Juni), kami (akan) bertemu dengan pengusaha Filipina. Jadi waktu kemarin waktu momen acara ASEAN, kami bertemu salah satu pengusaha dan mereka impor barang Indonesia selama ini,” kata Mendag Budi saat ditemui di kantor Kemendag, Kamis (4/6/2026).
Langkah Konkret dalam Implementasi Skema Barter
Persetujuan skema barter antara Indonesia dan Filipina dilakukan melalui komunikasi intensif dalam rangkaian pertemuan bilateral. Mendag Budi menyebutkan bahwa pengusaha Filipina telah terlibat dalam diskusi untuk menentukan jenis komoditas yang akan ditukar. Dalam konteks ini, ekspor produk Indonesia seperti bahan baku pertanian, minyak bumi, dan barang elektronik menjadi fokus utama. Sementara itu, barang impor dari Filipina seperti bahan bahan kimia, pangan, dan produk manufaktur akan ditukar secara langsung, tanpa melibatkan dolar AS sebagai alat tukar.
Skema barter ini juga dirancang untuk meningkatkan volume perdagangan kedua negara. Dengan menghindari dolar AS, kedua negara berharap dapat menciptakan kestabilan harga dan mengurangi risiko inflasi. Budi menambahkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat perdagangan di kawasan ASEAN, sekaligus mengurangi ketergantungan pada mata uang asing. “Kerja sama ini akan menjadi model bagi negara-negara lain dalam menghadapi tekanan nilai tukar,” imbuhnya.
Dalam jangka panjang, skema barter diharapkan bisa memberikan dampak positif terhadap perekonomian kedua negara. Depresiasi Rupiah yang terus terjadi memaksa Indonesia mengimpor barang dengan biaya lebih tinggi, sementara ekspor mengalami tekanan karena nilai tukar yang tidak menguntungkan. Dengan adanya kesepakatan ini, nilai ekspor akan lebih stabil, dan pengusaha lokal dapat mendapatkan keuntungan lebih besar dari transaksi perdagangan internasional.
