Dampak Tarif Impor Baru AS Terhadap Nilai Tukar Rupiah
Partaiberita.com – Mata uang Indonesia mengalami tekanan jual yang cukup signifikan pada sesi perdagangan hari ini. Kurs rupiah tercatat turun sebesar 27 poin, menyentuh level Rp17.963 per satu dolar AS saat penutupan perdagangan. Penurunan ini didorong oleh beberapa faktor internal maupun eksternal yang terjadi secara bersamaan, menciptakan sentimen negatif di pasar valuta asing domestik.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat terkemuka di bidang ekonomi, valuta asing, dan komoditas, menjelaskan bahwa kondisi pasar uang global masih sangat dipengaruhi oleh kebijakan proteksionis yang diterapkan berbagai negara. Langkah Presiden Donald Trump memberlakukan tarif impor baru terhadap 60 negara mitra dagang menjadi perhatian utama pelaku pasar keuangan Indonesia.
Faktor Eksternal dan Geopolitik Energi
AS resmi memberlakukan tarif impor baru 10% dan 12,5% terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, usai berakhirnya tarif sementara selama 150 hari.
Selain kebijakan perdagangan internasional, dinamika geopolitik energi juga berkontribusi signifikan pada pelemahan rupiah. Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan tajam seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, gangguan rantai pasokan di wilayah Laut Hitam turut memperparah situasi ekonomi global saat ini.
Eskalasi konflik militer semakin terasa setelah kelompok Houthi menyerang dua kapal tanker milik Arab Saudi di perairan Laut Merah. Tindakan tersebut memicu respons tegas dari Donald Trump yang memberikan ancaman terhadap Iran. Sementara itu, Kazakhstan memutuskan untuk mengurangi output minyaknya setelah terminal di Laut Hitam terkena serangan drone dari Ukraina.
Eskalasi militer juga meningkat setelah Houthi menyerang dua tanker Saudi di Laut Merah yang direspons ancaman Trump terhadap Iran, sementara Kazakhstan memangkas produksi minyak akibat serangan drone Ukraina ke terminal Laut Hitam.
Dari sisi domestik, defisit neraca perdagangan Indonesia menjadi salah satu pemicu tambahan bagi pelemahan mata uang Garuda. Kombinasi antara sentimen proteksionisme global, memanasnya geopolitik energi, hingga kondisi perdagangan dalam negeri menciptakan tekanan yang cukup kuat terhadap nilai tukar rupiah.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa penetapan tarif baru ini bertujuan sebagai instrumen strategis dalam kebijakan perdagangan. Langkah tersebut mendorong negara-negara mitra untuk memperketat larangan terhadap produk yang diduga berasal dari praktik kerja paksa di berbagai negara, sekaligus memperkuat posisi ekonomi AS di kancah internasional.

