News

ABG Hanyut di Kali Ciliwung saat Ambil Kail Pancing

ABG Hanyut di Kali Ciliwung saat Ambil Kail Pancing

ABG Hanyut di Kali Ciliwung saat – Kota Depok menjadi titik perhatian publik setelah seorang anak berusia 14 tahun, Afik Rabani Ramadhan, hanyut di Sungai Ciliwung akibat kejadian saat memancing. Insiden ini terjadi pada Minggu 17 Mei 2026, sekitar pukul 17.10 WIB, dan menimbulkan kekhawatiran besar bagi keluarga serta warga setempat. Peristiwa hanyutan ini menyoroti pentingnya kesadaran akan bahaya aliran air di sungai-sungai yang sering digunakan untuk aktivitas rekreasi.

Detik-detik Kecelakaan dan Upaya Penyelamatan

Afik, bersama temannya, sedang bermain memancing di aliran Sungai Ciliwung saat kejadian terjadi. Saat itu, kail pancing miliknya terjebak di tengah arus yang cukup deras. Ia berusaha mengambil kail tersebut, tetapi akibat kecepatan arus yang tinggi, korban terpeleset dan terbawa oleh aliran air. Berita tentang ABG hanyut di Kali Ciliwung segera menyebar, memicu respons cepat dari Tim SAR gabungan. Mereka langsung melakukan pencarian di wilayah Kecamatan Pancoran Mas, Jawa Barat, untuk menemukan korban.

“Tim SAR telah kami mobilisasi sejak pagi hari untuk mencari korban,” kata Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, Senin (18/5/2026).

Pencarian dilakukan secara menyeluruh, melibatkan perahu karet dan alat-alat penyelamatan modern. Tim SAR bergerak hingga jarak 12 kilometer dari titik tenggelam, sementara tim darat menyisir sepanjang tepi sungai dalam radius 2,5 kilometer. Upaya ini dilakukan untuk memastikan tidak ada kehilangan korban di area yang lebih luas. Selain itu, warga sekitar turut membantu dengan memberi informasi dan mengikuti proses pencarian.

Analisis Risiko dan Langkah Pencegahan

Insiden ABG hanyut di Kali Ciliwung juga menjadi momentum untuk mengevaluasi risiko memancing di sungai. Sungai Ciliwung, yang mengalir melalui Jakarta dan sekitarnya, dikenal memiliki arus yang tidak stabil, terutama setelah hujan deras atau saat musim hujan. Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota Depok, aliran sungai tersebut terkadang mencapai kecepatan 2–3 meter per detik, sehingga berpotensi membahayakan pemancing yang tidak memperhatikan kondisi sekitar.

Kelompok SAR juga menegaskan bahwa kejadian ini mengingatkan masyarakat untuk selalu memperhatikan lingkungan sekitar saat beraktivitas di dekat air. Menurut para penyelamat, pencegahan lebih efektif daripada upaya penyelamatan setelah kejadian. Mereka menyarankan untuk mengenakan pelampung, memantau cuaca, dan tidak memancing di area yang rawan tumpahan atau batu-batu besar. Langkah-langkah ini bisa mengurangi risiko serupa di masa depan.

Sebagai bagian dari penanganan, polisi juga turut mengamankan lokasi kejadian dan mengumpulkan bukti-bukti terkait. Dengan dukungan dari warga dan media, upaya pencarian terus berlanjut hingga hari Selasa, 19 Mei 2026, ketika korban ditemukan dalam kondisi terapung-apung di aliran sungai. Dalam proses penyelamatan, tim SAR menggunakan drone untuk memetakan area yang sulit dijangkau, serta mobilisasi unit khusus yang berpengalaman.

Leave a Comment