Erupsi Gunung Dukono, Berikut Identitas Belasan Orang yang Dievakuasi
Latar Belakang dan Lokasi Gunung Dukono
Erupsi Gunung Dukono – Gunung Dukono, yang terletak di Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Jumat, 8 Mei 2026. Erupsi Gunung Dukono ini menjadi salah satu peristiwa alam yang memicu perhatian masyarakat dan pemerintah setempat. Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Utara, erupsi tersebut terjadi di kawasan yang sebelumnya sudah berstatus waspada. Sebagai gunung berapi yang cukup aktif, Dukono sering kali menjadi sumber ancaman bagi penduduk yang tinggal di sekitarnya.
“Gunung Dukono dikenal sebagai salah satu gunung berapi dengan aktivitas vulkanik yang cukup intens, terutama di kawasan sekitar kota Tobelo,”
kata Fehby Alting, Kepala Pelaksana BPBD Maluku Utara. Gunung ini terletak di daerah yang rawan letusan, dan erupsi kali ini memperlihatkan tingkat kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan seismogram, tercatat amplitudo maksimum 34 mm dan durasi 967,56 detik pada erupsi terakhir.
Detil Korban dan Proses Evakuasi
Erupsi Gunung Dukono pada 8 Mei 2026 menimbulkan dampak langsung terhadap warga yang tinggal di area berisiko. Sebanyak 17 individu berhasil dievakuasi, sementara 3 korban meninggal dunia dan 10 orang lainnya masih dalam perawatan di rumah sakit. Data ini diperoleh dari laporan tim penanggulangan bencana yang langsung turun ke lokasi. Evakuasi dilakukan secara cepat untuk meminimalkan risiko tertular abu vulkanik atau terkena material letusan.
“Kami menghimpun semua korban yang terdampak, baik yang terluka maupun yang meninggal, dan memastikan mereka ditempatkan di posko darurat yang aman,”
tambah Fehby. Evakuasi dilakukan dengan bantuan relawan dan anggota TNI serta Polri, yang memastikan rute penjemputan bebas dari bahaya. Dalam beberapa jam, semuanya telah terpanggil ke zona aman, meski sebagian dari korban mengalami luka serius akibat paparan abu.
Status Aktivitas Vulkanik dan Penyebab Erupsi
Kondisi Gunung Dukono saat ini berada di Level II, atau status waspada, sesuai pernyataan dari Badan Geologi. Meski aktivitasnya sempat menurun pada Agustus 2025, kembali meningkat drastis sejak 30 Maret 2026. Erupsi Gunung Dukono ini disebabkan oleh pelepasan gas vulkanik yang memicu tekanan di dalam magma, sehingga menyebabkan letusan yang terjadi secara tiba-tiba. Ketinggian kolom abu mencapai 10.000 meter di atas puncak, dengan arah dominan ke utara.
“Kenaikan aktivitas vulkanik Gunung Dukono dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan potensi letusan yang lebih besar, sehingga pemerintah setempat melakukan penguatan pengawasan terhadap kawasan rawan,”
jelas Fehby. Selain itu, badan meteorologi juga mencatat adanya perubahan pola cuaca akibat partikel abu yang mengganggu sistem atmosfer lokal. Erupsi ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk tetap waspada terhadap ancaman alam lainnya.
Wilayah Terkena dan Dampak Lingkungan
Ambang bahaya erupsi Gunung Dukono kali ini melibatkan beberapa wilayah di sekitar kota Tobelo dan Desa Langke. Permukiman warga, jalan raya, dan pertanian menjadi sasaran utama abu vulkanik yang mengalir ke utara. Hujan abu menyebabkan penurunan kualitas udara, serta memicu penutupan sebagian besar akses jalan oleh material letusan. Dampak ini juga berpengaruh pada lingkungan sekitar, seperti hutan dan sungai yang tercemar oleh partikel abu.
“Korban evakuasi berasal dari berbagai desa di sekitar kawasan Gunung Dukono, termasuk warga yang tinggal di dekat aliran lava dan daerah rawan gempa,”
terang Fehby. Erupsi ini juga mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti pertanian dan transportasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah terus memantau kondisi setempat, serta mengupayakan pembersihan material letusan yang mengendap di permukaan bumi.
Upaya Tanggap Darurat dan Kesiapan Masyarakat
Setelah erupsi Gunung Dukono berlangsung, tim SAR dan lembaga penanggulangan bencana langsung melakukan tindakan darurat. Posko darurat dibuka di kawasan terdekat untuk memantau kondisi korban dan memberikan bantuan medis. Erupsi ini juga memicu peningkatan kewaspadaan di antara masyarakat setempat, yang sebelumnya sudah terbiasa dengan risiko letusan.
“Pemerintah daerah telah menyiapkan skenario terbaik untuk menghadapi erupsi Gunung Dukono, termasuk peralatan pendeteksi aktivitas vulkanik dan alat komunikasi darurat,”
imbuh Fehby. Dengan adanya koordinasi yang baik antar instansi, evakuasi bisa dilakukan secara efisien. Namun, kejadian ini juga mengingatkan masyarakat tentang pentingnya kepatuhan terhadap peringatan dini dari lembaga geologi.
Daftar Korban dan Pengelolaan Setelah Evakuasi
Berikut ini adalah daftar korban terkini dari erupsi Gunung Dukono:
Korban Meninggal: 3 orang (didominasi oleh pendaki dan warga sekitar). Korban Terluka: 10 individu, sebagian besar mengalami luka ringan hingga sedang akibat paparan abu dan guncangan bumi. Korban Dievakuasi: 17 orang, termasuk 7 warga negara asing yang berada di daerah rawan.
“Evakuasi korban terjadi secara berkelompok, dengan penanganan yang terkoordinasi. Kami juga terus memberikan dukungan pangan dan logistik kepada para korban,”
ujar Fehby. Pihak berwenang telah memastikan bahwa semua korban ditempatkan di penginapan sementara atau keluarga warga setempat. Selain itu, tim medis terus bekerja untuk menangani pasien yang masih dirawat, sambil menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.