News

Key Strategy: Pasar Kramat Jati Hasilkan 5 Ton Sampah per Hari, Pramono Siapkan Pengolahan Jadi Pupuk

Key Strategy: Pasar Kramat Jati Menghasilkan 5 Ton Sampah Harian, Pramono Siapkan Transformasi Jadi Pupuk

Key Strategy – Menjadi bagian dari key strategy Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pengelolaan sampah di Pasar Kramat Jati kini ditingkatkan dengan pendekatan lebih inovatif. Di tempat ini, setiap hari terkumpul sekitar 5 ton sampah organik yang berasal dari kegiatan pedagang dan pengunjung. Melalui key strategy ini, Pramono berharap sampah yang sebelumnya hanya menjadi beban lingkungan bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku pupuk organik. Upaya ini merupakan langkah strategis dalam mengurangi volume limbah yang diangkut ke Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, yang kini hanya menerima sampah residu.

Pendekatan Kolaboratif untuk Pengolahan Sampah

Key strategy yang diusung Pramono melibatkan kerja sama antara pemerintah dengan sektor swasta, termasuk perusahaan-perusahaan pengolahan limbah. Sistem pemilahan sampah di Pasar Kramat Jati dirancang agar masyarakat dan pedagang secara aktif terlibat dalam proses daur ulang. Sampah organik yang terpisah nanti akan diproses menjadi pupuk, sementara sampah anorganik dikirimkan ke tempat pengolahan lain. “Dengan key strategy ini, kita bisa mengubah limbah menjadi sumber daya ekonomi lokal,” terang Pramono saat berkunjung ke lokasi pengelolaan.

“Program key strategy ini tidak hanya mengurangi beban pengiriman sampah ke Bantargebang, tetapi juga mendukung konsep ekonomi sirkular,” kata Pramono kepada wartawan, Senin (11/5/2026). Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan perusahaan Pupuk Indonesia untuk memastikan hasil olahan sampah bisa digunakan secara optimal dalam pertanian dan kebutuhan lingkungan lainnya.

Langkah Strategis untuk Menyelaraskan Keberlanjutan Lingkungan

Transformasi sampah menjadi pupuk di Pasar Kramat Jati adalah bagian dari key strategy yang dirancang untuk mengurangi dampak negatif limbah terhadap lingkungan. Selain itu, Pramono juga ingin membangun kesadaran masyarakat terkait pentingnya memilah sampah sejak sumber. Dengan menanamkan kebiasaan daur ulang sejak awal, diharapkan lahir sistem pengelolaan yang lebih efektif dan berkelanjutan. “Sampah yang terkumpul di pasar bisa menjadi solusi berkelanjutan, bukan masalah,” ujarnya.

Pengolahan sampah organik di Pasar Kramat Jati juga diharapkan meningkatkan ekonomi lokal. Bahan baku pupuk yang dihasilkan bisa digunakan oleh petani sekitar atau dijual ke pasar ekonomi sirkular. Pramono menjelaskan bahwa key strategy ini dirancang agar setiap komponen limbah memiliki nilai ekonomi dan lingkungan. “Ini adalah strategi jangka panjang untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya,” tambahnya.

Di samping itu, key strategy ini juga berdampak pada keberlanjutan lingkungan kota. Dengan mengurangi jumlah sampah yang ditumpuk di TPST Bantargebang, Jakarta dapat mengurangi polusi udara dan air yang disebabkan oleh pembakaran serta pengendapan limbah. Pramono menekankan bahwa key strategy ini perlu didukung oleh kebijakan pemerintah dan partisipasi masyarakat. “Kita perlu memastikan sistem ini berjalan terus-menerus dan tidak hanya menjadi proyek jangka pendek,” pungkasnya.

Leave a Comment