Mubes DIY Dorong PBNU Kembali ke Khittah
Main Agenda – Dalam Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berlangsung di Pesantren Bumi Cendekia, Minggu (31 Mei 2026), perhatian utama peserta disatukan pada main agenda khusus, yaitu mengembalikan PBNU ke prinsip khittah NU. Agenda ini dirancang untuk menegaskan kembali komitmen organisasi tersebut terhadap landasan ideologi yang menjadi cikal bakal kelahirannya. Sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, PBNU dianggap perlu memperkuat identitas dan arah kebijakan organisasi agar tetap relevan dalam menghadapi tantangan masa kini.
Peran Khittah dalam Membentuk Identitas PBNU
Khittah NU, sebagai prinsip dasar yang membawa pergerakan Nahdliyyin, dianggap sebagai fondasi penting bagi PBNU. Dalam diskusi, para peserta Mubes menekankan bahwa kembali ke khittah bukan sekadar upaya formal, melainkan bagian dari refleksi kebijakan organisasi dalam menjaga konsistensi dengan nilai-nilai awal. Hal ini juga bertujuan untuk memastikan PBNU tidak terjebak dalam dinamika politik atau ekonomi yang bisa mengubah fokus utama dari isu-isu keagamaan dan sosial.
Main agenda ini dirancang sebagai pembuka diskusi untuk mengingatkan kembali peran PBNU sebagai institusi yang berakar pada pondok pesantren dan berorientasi pada kehidupan masyarakat. Dengan mengembalikan diri ke khittah, diharapkan organisasi ini bisa menunjukkan peran yang lebih aktif dalam mengisi kekosongan kepemimpinan dan mendorong partisipasi masyarakat secara lebih luas.
Isu-Isu yang Dipaparkan dalam Mubes DIY
Mubes DIY menjadi forum yang memungkinkan para peserta menyampaikan berbagai isu yang dianggap kritis bagi PBNU. Selain main agenda kembali ke khittah, topik seperti kepemimpinan yang lebih demokratis, kemandirian organisasi dalam mengelola keuangan dan program, serta peran generasi muda dalam memperkuat basis massa menjadi sorotan utama. Diskusi ini juga menyoroti dinamika internal yang belakangan sempat memicu ketegangan di tingkat pengurus pusat, termasuk pemecatan beberapa anggota dan kontroversi terkait keterlibatan elemen Zionis Israel dalam berbagai kegiatan resmi PBNU.
Kepemimpinan yang dianggap perlu diperbaiki menjadi fokus utama dalam rangkaian pembahasan. Peserta menekankan bahwa kepemimpinan yang transparan dan partisipatif akan membantu PBNU dalam menjaga kepercayaan publik. Selain itu, peran generasi muda dianggap krusial untuk mengisi kekosongan antara anggota senior dan struktur organisasi yang kini terasa kurang responsif terhadap perubahan masyarakat.
Pembahasan mengenai keterlibatan Zionis Israel dalam acara resmi PBNU memicu tanya jawab mengenai sejauh mana organisasi tersebut menjaga konsistensi dengan prinsip keagamaan. Main agenda ini menjadi sarana untuk meninjau ulang hubungan PBNU dengan berbagai pihak, termasuk organisasi luar negeri, agar tidak mengganggu imajinasi masyarakat tentang keberagamaan dan keadilan.
Dewan Penasihat Mubes sekaligus Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Muhammad Machasin, menyatakan bahwa kembali ke khittah adalah upaya untuk memperkuat keberpihakan PBNU pada masyarakat. “PBNU harus menjadi mitra dalam membangun komunitas Nahdliyyin yang mandiri, bukan sekadar menjadi bahan diskusi politik,” tegas Machasin dalam pidatonya.
