News

New Policy: Demo Harga BBM di Komoro Ricuh, 1 Orang Tewas Ditembak

Demo Harga BBM di Komoro Ricuh, 1 Orang Tewas Ditembak

Protes Kenaikan Harga BBM Berujung Bentrokan

New Policy – Menyusul peluncuran New Policy baru oleh pemerintah setempat yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), demo di Kota Komoro, Pulau Anjouan, berubah menjadi bentrokan yang mengakibatkan satu korban tewas dan lima orang lainnya terluka. Insiden ini terjadi pada Sabtu, 17 Mei 2026, saat massa yang memprotes kenaikan harga BBM secara tajam bersitegang dengan aparat kepolisian. Seorang hakim setempat memberikan laporan awal, menyebutkan bahwa kekerasan dimulai saat sekelompok warga mencoba mengambil senjata dari petugas yang sedang membersihkan jalan raya di Mpage.

“Massa memperketat langkah mereka setelah pemerintah menerapkan New Policy yang menyebabkan kenaikan harga BBM mencapai 46 persen dalam seminggu terakhir. Kami terpaksa menggunakan senjata untuk mengendalikan kerumunan yang mulai membahayakan keamanan publik,” jelas perwira kepolisian dalam pernyataan resmi.

Latar Belakang New Policy yang Memicu Protes

Kenaikan harga BBM yang dipicu oleh New Policy tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan pendapatan negara. Kebijakan ini berlaku setelah pemerintah mengumumkan perubahan struktur subsidi BBM yang mengakibatkan harga solar dan premium naik secara signifikan. Peningkatan harga mencapai 46 persen dari harga sebelumnya, yang menimbulkan kekecewaan di kalangan masyarakat. Protes ini tidak hanya terjadi di Komoro, tetapi juga di berbagai wilayah lain di Kepulauan Comoros.

Para peserta demo menyebutkan bahwa New Policy ini merugikan rakyat yang sebagian besar bergantung pada BBM untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka menilai kebijakan tersebut tidak mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat yang sudah rentan. Kenaikan harga juga memicu aksi mogok di sektor transportasi dan usaha kecil, menambah ketegangan yang terjadi di pulau ini.

Konteks Ekonomi Global yang Mempengaruhi New Policy

Menurut informasi dari Kejaksaan Pulau Anjouan, kenaikan harga BBM menjadi salah satu konsekuensi dari New Policy yang mengakui tekanan ekonomi global. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terhadap pasar energi menciptakan ketidakstabilan harga minyak, yang kemudian diadopsi oleh pemerintah Comoros. Hal ini membuat kebijakan kenaikan harga BBM terasa lebih berat bagi masyarakat yang sudah terpuruk.

Beberapa anggota parlemen lokal menyatakan bahwa New Policy ini diharapkan bisa mengurangi defisit anggaran, tetapi kenyataannya justru memicu ketegangan. Dalam pertemuan kabinet, mereka mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM adalah keputusan yang diambil setelah evaluasi terhadap biaya operasional dan pengaruhnya terhadap inflasi. Namun, masyarakat merasa pemerintah tidak memberikan penjelasan yang cukup sebelum kebijakan ini diterapkan.

Perkembangan Situasi dan Tindakan Pemerintah

Pasca-bentrokan, pemerintah Komoro berupaya meredakan situasi dengan mengirimkan tim medis dan polisi ke lokasi. Mereka juga menegaskan bahwa New Policy ini tidak disengaja, dan kebijakan tersebut diperlukan untuk mendukung perekonomian nasional. Namun, kekhawatiran terus berdatangan, terutama dari kelompok masyarakat yang menganggap kenaikan harga BBM adalah penindasan terhadap rakyat.

Sejumlah warga mengatakan bahwa New Policy ini memperparah kesulitan ekonomi mereka, terutama para nelayan dan pedagang kecil. Mereka meminta pemerintah mengambil langkah konkret untuk mengatasi dampak dari kebijakan tersebut. Meski begitu, pemerintah tetap bersikeras bahwa keputusan ini merupakan langkah penting untuk menghadapi krisis ekonomi yang lebih besar.

News Okezone memberikan informasi terkini secara akurat dan andal. Ikuti pembaruan terbaru mengenai berbagai isu politik, sosial, serta peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber terpercaya. Dengan New Policy yang terus memicu reaksi masyarakat, perlu dipantau secara cermat dampaknya terhadap stabilitas politik dan ekonomi di Kepulauan Comoros.

Leave a Comment