New Policy: Pramono Siapkan Sarana Prasarana Gerakan Pilah Sampah di Permukiman
New Policy – Sebagai bagian dari New Policy yang diumumkan minggu lalu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung aktif memastikan keberhasilan program pemilahan sampah dari sumber. Kunjungan ke Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, pada hari Senin (11/5/2026), menjadi wujud komitmen pemerintah untuk menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung pengelolaan sampah secara mandiri. Di lokasi ini, ia meninjau langkah-langkah pemanfaatan sampah organik yang sudah berjalan, sebagai bentuk implementasi New Policy untuk menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan partisipasi warga dalam kegiatan penanganan sampah.
Peningkatan Infrastruktur Seiring New Policy
Menurut Pramono, New Policy ini memerlukan kesiapan infrastruktur yang memadai di setiap permukiman. “Meski gerakan pilah sampah resmi diluncurkan pada hari Minggu (10/5/2026), beberapa wilayah masih membutuhkan penambahan fasilitas seperti tempat pengumpulan dan pengolahan sampah organik,” terangnya. Pemerintah DKI Jakarta, kata Pramono, sedang berupaya mempercepat pengadaan sarana prasarana seperti tempat sampah terpisah, komposter, dan pengeringan sampah untuk memastikan program ini berjalan maksimal. Ia juga menyebutkan bahwa New Policy ini tidak hanya tentang peraturan, tetapi juga edukasi dan dorongan dari semua pihak terkait.
Dalam pidato di Pasar Kramat Jati, Pramono menekankan pentingnya New Policy dalam menciptakan sistem sampah yang berkelanjutan. “Kami ingin masyarakat aktif mengelola sampah di lingkungan sekitar, bukan hanya membuangnya sembarangan,” ujarnya. Ia berharap dengan adanya New Policy, kebiasaan pilah sampah bisa diubah menjadi kebiasaan rutin yang menunjang pengurangan limbah dan peningkatan kualitas hidup warga. Selain itu, program ini juga bertujuan memperkuat kerja sama antara pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat.
Kolaborasi Pemilahan Sampah dengan Pihak Swasta
Pasar Kramat Jati, yang menghasilkan sekitar 5 ton sampah organik per hari, menjadi contoh nyata New Policy yang dijalankan DKI Jakarta. Pramono menjelaskan bahwa sampah tersebut akan diolah menjadi produk bernilai seperti pupuk atau bahan baku daur ulang melalui kerja sama dengan perusahaan swasta dan Pupuk Indonesia. “Tujuan utama New Policy adalah mengubah sampah menjadi sumber daya ekonomi lokal, bukan hanya membuangnya ke tempat pembuangan akhir,” tambahnya. Ia juga menyebutkan bahwa kerja sama ini akan menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam mengelola sampah secara efektif.
Gerakan pilah sampah berdasarkan New Policy memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk warga, pengelola pasar, dan pemilik usaha. Pramono mengatakan bahwa komunikasi intensif telah dilakukan guna memastikan partisipasi masif dari seluruh lapisan masyarakat. “New Policy ini tidak bisa dijalankan tanpa kebersamaan dari semua pihak,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah akan terus mengawasi progres program ini, termasuk mengevaluasi kesesuaian dengan target keberlanjutan lingkungan.
“New Policy ini adalah langkah strategis untuk menunjukkan komitmen terhadap pengelolaan sampah yang lebih baik. Kami berharap dalam waktu dekat, semua permukiman akan memiliki sarana pendukung yang lengkap, sehingga kegiatan pilah sampah bisa berjalan optimal,” jelas Pramono.
Sebagai bagian dari New Policy, pemerintah DKI Jakarta juga menyiapkan pendidikan lingkungan dan pelatihan bagi warga permukiman. Program ini bertujuan mempercepat perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah organik dan anorganik. “Selain infrastruktur, kita perlu memberikan pemahaman tentang manfaat pemilahan sampah,” ucapnya. Pramono menambahkan bahwa New Policy akan terus di-upgrade dengan adanya inovasi baru, seperti penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam pengolahan sampah. Ia juga meminta masyarakat tidak ragu untuk memberikan masukan dalam menyelesaikan tantangan keberlanjutan sampah.