Cerita Sedih Jorge Martin: Dua Kali Gagal Jadi Pembalap Tim Pabrikan Ducati
Key Issue – Jorge Martin kembali mengungkapkan kesedihannya setelah dua kali gagal bergabung dengan tim pabrikan Ducati Lenovo. Ia mengungkapkan bahwa kontrak dalam dunia balap tidak selalu menjadi jaminan kesuksesan, terutama di ajang MotoGP. Martin memulai perjalanan ke MotoGP pada 2021, bergabung dengan Pramac Racing, tim yang tergabung dalam liga pabrikan Ducati Corse. Meski kesedihan mengiringinya, ia tetap berusaha memperbaiki performa untuk mendapatkan peluang lebih besar di masa depan.
Proses Seleksi yang Mengubah Nasib
Dalam musim pertamanya, Martin berhasil menunjukkan potensinya dengan memenangkan balapan MotoGP Styria 2021. Hasil ini menjadi alasan Ducati memutuskan untuk menawarkan kontrak ke level tim pabrikan pada 2023. Namun, dalam proses seleksi, ia kalah dari Enea Bastianini. “Pada 2022, saya sudah menandatangani kontrak untuk 2023 menjadi pembalap tim pabrikan. Tapi, di titik tertentu, mereka menyatakan, ‘Kami tidak menginginkanmu, kamu tidak akan ke sana, kami akan merekrut pembalap lain,’” ujarnya, dikutip dari Crash, Jumat (19/6/2026).
Pembalap berusia 24 tahun ini merasa kecewa, tetapi ia mencoba menjaga semangat. Kontrak yang diberikan Ducati tetap menjadi kesempatan berharga, meski tidak sebesar yang diharapkan. Martin mengatakan, setelah kegagalan pada 2023, ia kembali berjuang dengan berada di Pramac Racing, tim yang menggunakan motor Ducati Desmosedici GP. “Saya menerima syarat kontrak baru karena masih puas berada di tim ini. Meski tidak bisa naik ke level pabrikan, motor yang digunakan tetap memiliki spesifikasi tinggi,” tambahnya.
Kontrak Tidak Menjamin Kepastian
Pada 2025, Martin kembali menghadapi tantangan serupa. Ia melalui proses seleksi untuk mengisi slot pembalap tim pabrikan Ducati, tetapi kembali gagal. Kesedihan ini memperkuat pandangan bahwa kontrak dalam MotoGP tidak cukup menjadi jaminan karier. “Saya merasa kontrak adalah langkah penting, tapi tidak menjamin kesuksesan,” ujarnya. Dalam situasi ini, ia memilih tetap fokus pada pencapaian di Pramac Racing, meski situasi memaksa ia untuk beradaptasi dengan situasi yang tidak menguntungkan.
Martin menegaskan bahwa kegagalan dalam memperoleh kontrak Ducati adalah bagian dari perjalanan seorang pembalap. Ia menyadari bahwa persaingan di MotoGP sangat ketat, terutama untuk slot tim pabrikan. Meski mengalami dua kali kekecewaan, ia tetap optimis. “Key Issue ini mengajarkan saya bahwa kontrak bukan satu-satunya hal yang menentukan. Faktor seperti konsistensi, kemampuan adaptasi, dan performa di lintasan tetap menjadi penentu utama,” jelasnya. Ini menunjukkan bagaimana Martin memahami tantangan di dunia balap tingkat tinggi.
Di sisi lain, Martin juga berbicara tentang peran tim pabrikan dalam keberhasilan pembalap. Ia mengakui bahwa dukungan teknis dan sumber daya yang dimiliki tim besar seperti Ducati memberikan keunggulan signifikan. Namun, ia tidak ingin menyerah. “Key Issue ini bukan akhir dari segalanya. Saya masih punya ambisi untuk bisa meraih kesempatan tersebut, tapi saya juga bersyukur dengan yang saya miliki saat ini,” tambahnya. Semangat ini menjadi sumber motivasi bagi dirinya dalam menghadapi musim berikutnya.
Ducati sendiri menjadi salah satu pabrikan terbesar di MotoGP, dan slot pembalapnya selalu menjadi incaran banyak rider. Dalam kompetisi ini, Martin bukanlah satu-satunya yang mengalami kesulitan. Beberapa pembalap lain juga mengalami kegagalan serupa dalam meraih kontrak. Ini menunjukkan bahwa selain kemampuan di lintasan, faktor seperti hubungan personal, kebijakan tim, dan keberhasilan musim sebelumnya juga memengaruhi keputusan perekrutan.
