Jangan FOMO Lari Jarak Jauh Tanpa Latihan Rutin – Dokter Ungkap Risikonya!
Partaiberita.com – Dalam era digital yang serba cepat, tren gaya hidup sehat semakin diminati oleh masyarakat. Namun, banyak orang terjebak dalam sikap FOMO (Fear Of Missing Out), yaitu ketakutan akan ketinggalan dalam kegiatan yang sedang populer. Salah satu contoh adalah lari jarak jauh, yang sering kali menjadi pilihan untuk menunjukkan komitmen terhadap kesehatan. Meski terdengar positif, kebiasaan ini bisa berujung pada risiko serius jika dilakukan tanpa persiapan yang cukup. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Bobby Arfhan Anwar menyoroti bahwa lari jarak jauh secara langsung bisa membahayakan kesehatan, terutama bagi mereka yang belum memiliki dasar latihan yang kuat. “Jangan FOMO lari jarak jauh tanpa latihan rutin. Ini bisa menyebabkan masalah yang lebih serius,” tegasnya dalam podcast yang diunggah di YouTube Raditya Dika.
Adaptasi Fisik Perlu Waktu
Jantung, sebagai organ utama yang terlibat dalam aktivitas lari, membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan beban kerja yang meningkat. Jika seseorang langsung melakukan lari jarak jauh tanpa latihan bertahap, risiko cedera atau komplikasi kardiovaskular bisa meningkat drastis. Ini karena sistem kardiovaskular belum siap untuk menangani intensitas yang begitu tinggi. “FOMO sering kali membuat orang langsung memaksakan diri, padahal tubuh butuh adaptasi bertahap,” papar dr. Bobby, dikutip Minggu (18/7/2026). Menurutnya, proses adaptasi ini berlangsung melalui peningkatan daya tahan jantung, kapasitas paru-paru, dan stamina otot secara perlahan.
“Lari jarak jauh yang terburu-buru bisa menyebabkan stres berlebihan pada jantung dan pembuluh darah. Ini berpotensi memicu tekanan darah tinggi, denyut jantung tidak teratur, atau bahkan gangguan jantung akut,” jelas dr. Bobby dalam sesi diskusinya.
Latihan rutin sebelum memasuki lari jarak jauh, seperti jalan kaki, bersepeda, atau berenang, dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung secara bertahap. Proses ini memungkinkan tubuh membangun kapasitas aerobik dan meningkatkan efisiensi aliran darah. Tanpa persiapan, tubuh bisa terjebak dalam kondisi overexertion, di mana kerja otot dan jantung melebihi kemampuan maksimum mereka. Akibatnya, risiko seperti cedera otot, stres tulang, atau bahkan penyumbatan pembuluh darah meningkat.
Penyebab Cedera pada Awal Latihan
Dokter Bobby juga menjelaskan bahwa cedera pada awal latihan lari jarak jauh umumnya terjadi karena kelelahan otot yang tidak terkendali. Beberapa jenis cedera yang sering terjadi meliputi stres fraktur, nyeri otot, dan masalah kaki seperti tendon Achilles atau pergelangan kaki yang lemah. “Jika Anda tidak mengawali dengan intensitas rendah, otot-otot kaki dan pergelangan akan kelelahan secara berlebihan,” tambahnya. Selain itu, kurangnya pemanasan dan pendinginan juga memperbesar risiko cedera akut.
Latihan yang terburu-buru sering kali mengabaikan aspek-aspek penting seperti peregangan dan pemulihan. Menurut dr. Bobby, ini bisa menyebabkan kelebihan beban pada sistem muskuloskeletal, yang berdampak negatif pada kesehatan secara keseluruhan. “Jangan FOMO lari jarak jauh hanya karena ingin terlihat kuat. Fokus pada konsistensi dan kualitas latihan jauh lebih penting daripada kecepatan,” saran dokter tersebut. Ia juga menekankan bahwa latihan berlebihan dalam waktu singkat bisa memicu kondisi seperti myalgia atau keracunan oksigen.
Menurut penelitian dari World Health Organization, 70% dari individu yang baru memulai lari jarak jauh mengalami cedera dalam minggu pertama. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman tentang mekanisme adaptasi tubuh. Untuk menghindari risiko ini, dr. Bobby menyarankan agar seseorang memulai dengan jarak pendek, seperti 1-2 km, dan secara bertahap meningkatkan volume latihan hingga mencapai target. “Lari jarak jauh adalah bagian dari gaya hidup sehat, tapi harus dilakukan dengan bijak,” tegasnya.
Strategi Latihan yang Efektif
Menurut dr. Bobby, ada beberapa strategi yang bisa membantu mengurangi risiko cedera selama memulai lari jarak jauh. Pertama, lakukan pemanasan sebelumnya selama 10-15 menit untuk mempersiapkan tubuh. Kedua, pastikan latihan dilakukan secara konsisten, tetapi tidak terlalu intens. “Jangan FOMO lari jarak jauh dalam satu hari saja. Latihan rutin sehari-hari lebih baik daripada lari maraton dalam semalam,” katanya. Ketiga, jangan lupa untuk melakukan pendinginan setelah latihan untuk mengurangi risiko pengerasan otot.
Latihan bertahap juga membantu dalam mengoptimalkan hasil. Misalnya, dengan memulai dari jarak pendek dan memperpanjang jarak secara bertahap, tubuh bisa beradaptasi secara alami. Selain itu, mengatur jadwal latihan agar tidak terlalu padat juga penting. “Pemulihan adalah bagian dari latihan yang harus diperhatikan,” kata dokter tersebut. Menurutnya, istirahat yang cukup memungkinkan otot dan jantung memulihkan diri, sehingga bisa terus berkembang tanpa kelelahan berlebihan.
Salah satu contoh kebiasaan yang berisiko adalah orang yang langsung lari 5 km atau lebih tanpa latihan dasar. Ini bisa menyebabkan kelelahan otot yang ekstrem, sehingga meningkatkan risiko cedera. “Latihan rutin tidak hanya memperkuat otot, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan tubuh dan mengurangi risiko penyakit jantung,” tambahnya. Dengan menerapkan latihan bertahap, seseorang tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga meminimalkan risiko kesehatan jangka panjang.
