Economy

BSI Kucurkan Rp16 Triliun untuk Pembiayaan Hijau, Ini Sektor yang Dibiayai

Foto : Betty Davis - partaiberita.com

BSI Tingkatkan Pembiayaan Hijau Menuju Rp16 Triliun, Fokus pada Energi Terbarukan dan Pengelolaan Sampah

Partaiberita.com – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) terus memperkuat komitmen dalam implementasi prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) melalui perluasan pembiayaan hijau. Hingga pertengahan tahun 2026, total nilai pembiayaan hijau yang telah disalurkan perusahaan mencapai angka Rp16 triliun. Dana tersebut diarahkan ke berbagai proyek strategis, termasuk pengembangan energi baru terbarukan serta sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien.

Posisi Pembiayaan Hijau dalam Portofolio BSI

Wakil Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta, menjelaskan bahwa pembiayaan hijau merupakan komponen penting dari portofolio pembiayaan berkelanjutan perusahaan. Saat ini, total pembiayaan berkelanjutan BSI telah mencapai Rp75,3 triliun atau setara dengan 23 persen dari keseluruhan portofolio pembiayaan perseroan per Mei 2026.

Dari Rp75,3 triliun itu, Rp16 triliunnya merupakan green financing, seperti untuk energi baru terbarukan, kemudian juga pengurangan sampah dan sebagainya. Sementara Rp59,1 triliun merupakan social financing.

Pernyataan tersebut disampaikan Bob Tyasika Ananta dalam acara IDX Channel ESG Conference 2026 yang diselenggarakan di Main Hall Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 23 Juli 2026.

Komitmen Ekspansi Selektif Tanpa Greenwashing

Meskipun saat ini porsi pembiayaan berkelanjutan BSI masih didominasi oleh pembiayaan sosial, perusahaan berkomitmen untuk terus meningkatkan proporsi pembiayaan hijau. Langkah ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan pendanaan bagi proyek-proyek ramah lingkungan di Indonesia.

Bob menegaskan bahwa ekspansi pembiayaan hijau dilakukan secara selektif dengan mengedepankan tata kelola yang ketat. Tujuannya adalah untuk mencegah praktik greenwashing yang dapat merugikan kredibilitas perusahaan. Sebelum menyalurkan pembiayaan, BSI terlebih dahulu menetapkan kerangka kerja, risk appetite, serta kebijakan pembiayaan sektoral sebagai fondasi yang kuat.

Leave a Comment