News

Tokoh Senior NU Tekankan Pentingnya Netralitas saat Muktamar PBNU

Foto : Daniel Garcia - partaiberita.com

Abdul Hamid Rahayaan Dorong Netralitas NU di Muktamar 2026

Dua Tokoh Dipilih Sebagai Pemimpin NU yang Independen

Partaiberita.com – Abdul Hamid Rahayaan, seorang tokoh senior Nahdlatul Ulama, menyampaikan harapannya agar Muktamar ke-35 organisasi Islam terbesar di Indonesia dapat berjalan dengan lancar dan tetap netral. Ia mengusulkan dua nama yang dinilai memiliki kredibilitas tinggi untuk memimpin NU ke depan. Kedua figur tersebut adalah Kiai Nasaruddin Umar dan Kiai Marsudi Syuhud. Menurut Hamid, keduanya merupakan sosok independen yang telah menunjukkan rekam jejak manajerial matang serta diakui baik di tingkat nasional maupun internasional.

Usulan ini bertujuan untuk membawa NU keluar dari konflik internal dan polemik politik yang selama ini terjadi. Hamid menjelaskan bahwa NU perlu diserahkan kepada orang-orang yang netral dan tidak terikat dengan partai politik dalam mengendalikan organisasi. “Kita tidak ingin NU dibawa ke politik praktis,” tegasnya pada Senin (27/7/2026). Langkah ini diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan NU yang selama ini sering dikaitkan dengan kepentingan politik praktis.

Kiai Nasaruddin Umar: Akademisi dengan Kepemimpinan Moderat

Kiai Nasaruddin Umar dikenal luas sebagai akademisi dan ulama berpandangan sejuk. Ia juga merupakan tokoh dialog antar-umat beragama yang aktif dalam berbagai forum internasional. Kepemimpinannya yang moderat dan bebas dari afiliasi partai politik menjadikannya sosok pengayom yang ideal bagi warga Nahdliyin. Hal ini sesuai dengan harapan Hamid agar NU dapat dikelola oleh pemimpin yang tidak terikat dengan kepentingan politik praktis. Sebagai rektor Universitas Nahdlatul Ulama Jakarta, ia telah membuktikan kemampuannya dalam memimpin institusi pendidikan Islam yang besar.

Kiai Marsudi Syuhud: Tokoh Senior dengan Pengalaman Memimpin

Sementara itu, Kiai Marsudi Syuhud juga menjadi pilihan yang tepat menurut Hamid. Ia merupakan tokoh senior NU yang saat ini menjabat sebagai salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Sebelumnya, ia juga pernah memimpin PBNU sebagai ketuanya. Pengalaman dan kredibilitasnya menjadikan Kiai Marsudi Syuhud sebagai alternatif pemimpin NU yang layak dipertimbangkan. Ia dikenal sebagai sosok yang mampu menjembatani berbagai kepentingan dalam organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.

“Serahkan NU kepada orang-orang yang netral dan tidak terikat dengan partai politik untuk mengendalikan organisasi ini. Kita tidak ingin NU dibawa ke politik praktis,” ujar Abdul Hamid.

Muktamar ke-35 NU Akan Digelar di Jombang

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan menghadiri sekaligus membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Acara ini akan dilaksanakan di Lapangan Untung Suropati Tambakberas, Jombang, pada Kamis, 27 Agustus 2026. Forum musyawarah tertinggi NU ini dijadwalkan berlangsung selama lima hari. Dengan adanya usulan dua tokoh independen, diharapkan NU dapat kembali ke jalur yang benar dan menghindari perpecahan internal. Muktamar ini juga menjadi momen penting untuk mengevaluasi kinerja organisasi selama lima tahun terakhir serta merumuskan arah kebijakan baru bagi NU di masa depan.

Netralitas yang ditekankan oleh Abdul Hamid Rahayaan bukan hanya sekadar prinsip organisasi, tetapi juga merupakan kebutuhan strategis bagi NU untuk tetap relevan di tengah dinamika politik Indonesia. Dengan kepemimpinan yang netral, NU diharapkan dapat menjadi kekuatan moderat yang mampu memberikan kontribusi positif bagi pembangunan nasional tanpa terjerumus dalam konflik politik praktis yang sering terjadi.

Leave a Comment