News

Announced: Soal Blackout Sumatera, Pakar ITB Nilai Faktor Cuaca Sangat Berpengaruh

Table of Contents
  1. Blackout Sumatera Dianalisis oleh Pakar ITB, Faktor Cuaca Berperan Besar
  2. Penyebab Utama Blackout dan Keterlibatan Cuaca
  3. Langkah yang Diperlukan untuk Mencegah Blackout Masa Depan

Blackout Sumatera Dianalisis oleh Pakar ITB, Faktor Cuaca Berperan Besar

Announced – Bandung – Sebuah insiden pemadaman listrik massal di wilayah Sumatera, yang disebut blackout, kini menjadi perhatian utama para ahli. Dalam analisisnya, Pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Darwanto mengungkap bahwa faktor cuaca berperan besar dalam penyebab kejadian ini. Menurut Djoko, kejadian pemutusan kabel transmisi yang terjadi pada 29 Mei 2026 berpotensi dipicu oleh tekanan mekanis akibat angin kencang, terutama pada titik sambungan kabel atau mid span jointing.

Penyebab Utama Blackout dan Keterlibatan Cuaca

Dalam wawancara dengan media, Djoko Darwanto menyebutkan bahwa kejadian blackout pada Sumatera memang terkait langsung dengan kondisi cuaca. “Kalau melihat pola gangguan yang disampaikan dan titik kerusakannya berada di sambungan kabel, maka faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa ini,” ujarnya, Jumat (29/5/2026). Menurutnya, penyelidikan awal yang dilakukan oleh gabungan Bareskrim, Puslabfor, dan PLN menunjukkan tiga kemungkinan penyebab utama, yaitu stres termal karena cuaca ekstrem, kondisi di area sambungan kabel, serta tekanan mekanis dari angin kencang.

Djoko menegaskan bahwa faktor cuaca tidak hanya berdampak pada kabel transmisi, tetapi juga pada seluruh sistem jaringan listrik. “Cuaca ekstrem, seperti angin kencang dan hujan deras, bisa menyebabkan osilasi kabel yang berulang, hingga akhirnya memicu gangguan serius,” tambahnya. Ia mengatakan bahwa kecepatan angin di ketinggian konduktor transmisi jauh lebih tinggi dibandingkan di permukaan tanah, sehingga memperbesar risiko kerusakan.

Analisis Teknis dan Perbandingan dengan Area Lain

Menurut Djoko, analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami detail penyebab blackout ini. “Kami masih mengeksplorasi pola osilasi dan tekanan yang terjadi pada kabel, terutama di wilayah Sumatera yang rentan terhadap cuaca ekstrem,” jelasnya. Ia juga membandingkan kondisi Sumatera dengan daerah lain di Indonesia yang memiliki risiko serupa, seperti Jawa Barat dan Kalimantan, tetapi menyebut bahwa Sumatera memiliki potensi lebih tinggi karena topografinya yang berbukit dan lembap.

Dalam penjelasannya, Djoko mengingatkan bahwa perusahaan listrik harus memperkuat pengawasan terhadap jaringan transmisi, terutama di area rawan angin. “Banyak orang cenderung menilai cuaca berdasarkan sensasi di permukaan tanah, padahal di ketinggian konduktor, angin bisa cukup kuat untuk menyebabkan kabel bergerak dan saling menarik,” katanya. Kondisi ini dapat memunculkan tekanan berulang pada kabel, sehingga mempercepat proses kerusakan.

Langkah yang Diperlukan untuk Mencegah Blackout Masa Depan

Djoko Darwanto menyarankan beberapa langkah teknis untuk mencegah kejadian serupa. “Perusahaan listrik perlu melakukan penguatan struktur jaringan transmisi, termasuk memperbaiki titik sambungan kabel yang rentan,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan bahan konduktor yang tahan terhadap cuaca ekstrem. Selain itu, Djoko mengatakan bahwa pemantauan real-time kondisi cuaca dan penggunaan sistem prediksi dapat menjadi solusi efektif.

Announced, kejadian blackout ini menjadi pengingat penting bagi pemerintah dan pihak terkait. “Pemadaman listrik yang massal harus diantisipasi dengan baik, terutama di wilayah yang rentan terhadap cuaca ekstrem seperti Sumatera,” ujarnya. Djoko menambahkan bahwa kerja sama antara PLN, Bareskrim, dan Puslabfor akan menjadi kunci dalam menemukan solusi yang tepat. “Dengan Announced analisis yang lebih mendalam, kita bisa meminimalkan dampak negatif pada masyarakat,” pungkasnya.

Leave a Comment