Economy

Pengusaha Mal Waspadai Lonjakan Harga Barang, Dipicu Kenaikan Biaya Energi dan Logistik

Foto : Nancy Gonzalez - partaiberita.com

APPBI Perkirakan Lonjakan Harga Ritel di Kuartal IV 2026

Partaiberita.com – Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memproyeksikan adanya peningkatan harga pada sejumlah produk ritel selama kuartal keempat tahun 2026. Faktor pendorong utamanya meliputi naiknya biaya energi, logistik, dan bahan baku, ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang menekan biaya produksi, khususnya untuk komoditas impor.

Waktu yang Tepat untuk Persiapan Stok

Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, menyampaikan bahwa potensi kenaikan harga akan mulai dirasakan menjelang musim belanja akhir tahun. Kuartal IV menjadi momen krusial bagi para peritel untuk mengumpulkan stok besar guna menyambut Natal dan Tahun Baru, yang kemudian diikuti oleh Imlek, Ramadan, dan Idulfitri di awal 2027.

“Kuartal IV merupakan awal dari peak season kedua setelah Ramadan dan Idulfitri. Para peritel harus menyiapkan stok jauh-jauh hari untuk menghadapi Natal, Tahun Baru, Imlek, hingga Ramadan. Barang-barang tersebut diproduksi dengan biaya yang sudah meningkat karena harga energi, logistik, dan bahan baku naik,” ujar Alphonzus saat ditemui di Kemendag, Kamis (30/7/2026).

Dampak Bertahap pada Kuartal III dan IV

Menurut Alphonzus, kenaikan harga belum akan terlihat signifikan pada kuartal III. Hal ini karena sebagian besar pelaku ritel masih menjual stok lama yang diproduksi dengan biaya lebih rendah.

“Saya kira kuartal III teman-teman ritel masih memiliki stok lama, sehingga dampaknya belum terlalu terasa. Potensi kenaikan harga lebih besar terjadi pada kuartal IV ketika stok baru mulai masuk ke pasar,” katanya.

Impact Luas pada Berbagai Kategori Produk

Kenaikan biaya produksi diprediksi akan memengaruhi hampir seluruh kategori produk. Baik produk impor maupun yang diproduksi di dalam negeri terkena dampak dari naiknya biaya logistik dan energi.

“Kalau barang impor tentu lebih terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Tetapi produk dalam negeri juga akan mengalami tekanan karena biaya energi, logistik, dan bahan bakunya meningkat. Jadi hampir semua kategori produk berpotensi mengalami kenaikan harga,” ujarnya.

Leave a Comment