Rupiah Menguat di Penutupan Perdagangan Jumat, Capai Rp18.022 per Dolar AS
Partaiberita.com – Pasar valuta asing mencatatkan pergerakan positif pada akhir sesi perdagangan hari ini, Jumat (31/7/2026). Mata uang domestik Indonesia berhasil menguat sebesar 89 poin atau setara dengan 0,59 persen terhadap greenback Amerika Serikat. Level penutupan tercatat berada di angka Rp18.022 per satu dolar AS.
Di sisi kebijakan moneter, Federal Reserve Amerika Serikat memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga tanpa perubahan, sesuai dengan ekspektasi para pelaku pasar. Ketua The Fed, Kevin Warsh, belum memberikan indikasi tegas mengenai arah kebijakan bank sentral tersebut dalam menghadapi tantangan inflasi dan keputusan terkait suku bunga ke depan.
Meskipun keputusan tersebut diambil, proses pengambilan suara tidak sepenuhnya bulat. Setidaknya terdapat tiga anggota pembuat kebijakan yang secara eksplisit mendesak adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut. Hal ini didorong oleh kondisi inflasi yang masih sulit turun atau yang dikenal sebagai sticky inflation. Warsh juga menegaskan kembali komitmen bank sentral terhadap target inflasi tahunan sebesar 2 persen.
Faktor Eksternal dan Ketegangan Timur Tengah
Menurut Ibrahim Assuaibi, analis pasar uang dan komoditas, salah satu pendorong sentimen positif berasal dari faktor eksternal. Harga minyak mentah global cenderung mengalami penurunan, yang merupakan hasil keseimbangan antara meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dengan adanya tanda-tanda peningkatan aktivitas lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
“Selat tersebut yang biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pengiriman global minyak mentah dan gas alam cair telah menjadi pusat perhatian pasar minyak karena sebagian besar wilayahnya terblokade sejak dimulainya perang AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Arab Saudi saat ini berupaya memimpin sebuah koalisi internasional untuk memperkuat kerja sama pertahanan di tiga titik strategis, yaitu Selat Bab El-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Ketiga wilayah ini memegang peranan krusial bagi stabilitas pasokan energi global. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa terdapat 14 negara yang telah menyatakan dukungan terhadap koalisi pertahanan maritim multinasional ini, termasuk Djibouti, Mesir, Pakistan, Sudan, dan Turki.
Kondisi semakin kompleks dengan adanya pengumuman dari kelompok militan Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran. Pada pekan lalu, mereka resmi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Ancaman ini berpotensi mengganggu jalur ekspor minyak negara tersebut melalui Laut Merah, yang berfungsi sebagai rute alternatif selain Selat Hormuz.

