Mossad Berusaha Rekrut Eks Presiden Iran Ahmadinejad dalam Operasi Perubahan Rezim
Main Agenda – Dalam laporan terbaru, diberitakan bahwa Mossad, badan intelijen Israel, mencoba melakukan operasi rekrutmen terhadap mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sebagai bagian dari upaya mengganti rezim Iran. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, baru saja meninggal, dan sejumlah sumber mengungkap bahwa Ahmadinejad kini sedang berada di bawah perlindungan rumah aman yang diduga disiapkan oleh intelijen Israel. Informasi ini menunjukkan bahwa Mossad berupaya memanfaatkan keadaan politik pasca-kematian Khamenei untuk memengaruhi arah kebijakan Iran.
Latar Belakang Operasi Mossad
Kemunculan Ahmadinejad di depan umum dalam upacara pemakaman Khamenei pada Minggu (14/7/2026) memicu tindak lanjut dari laporan intelijen. Sejak akhir Februari, saat perang antara AS-Israel dan Iran memanas, Mossad memperkuat upaya untuk merekrut Ahmadinejad. Agen-agen Israel diduga menyusun strategi untuk membawa mantan pemimpin Iran ke dalam lingkaran penguasaan mereka, dengan harapan ia bisa menjadi pengganti Khamenei yang lebih menguntungkan bagi kepentingan Israel.
“Mossad menghabiskan berbulan-bulan membina hubungan dengan Mahmoud Ahmadinejad sejak ia tinggalkan Teheran, sebagai bagian dari rencana jangka panjang untuk menjadikannya pemimpin baru Iran,” tulis The New York Times dalam laporannya pada Senin (13/7/2026).
Dalam upaya ini, Mossad dianggap mengatur pertemuan rahasia dengan Ahmadinejad di Budapest, ibu kota Hongaria, pada tahun 2024 dan 2025. Pertemuan tersebut diselenggarakan di bawah dalih konferensi akademis, menurut sumber dari Amerika, Israel, dan Iran. Mantan Kepala Mossad, David Barnea, termasuk dalam para pejabat yang berpartisipasi dalam pertemuan ini, yang dianggap sebagai langkah kunci dalam membangun jaringan pengaruh di Iran.
Dampak pada Dinamika Politik Iran
Kontak rahasia antara Mossad dan Ahmadinejad terus berlangsung, meski rencana untuk mengangkatnya sebagai pemimpin Iran belum berhasil. Langkah-langkah ini mencerminkan keinginan Israel untuk memengaruhi jalannya kebijakan luar negeri dan internal Iran melalui jaringan intelijen yang terus berkembang. Dengan memperkuat hubungan dengan Ahmadinejad, Mossad diharapkan bisa menciptakan ketidakstabilan dalam pemerintahan Iran, terutama dalam konteks persaingan antara partai-partai politik dan kelompok pro-arus baru.
Kebijakan keamanan Iran terutama terpengaruh oleh upaya ini, karena pemimpin baru yang diusung Mossad dianggap bisa mengubah prioritas negara. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Ahmadinejad memiliki hubungan diplomatik yang kompleks dengan Israel sebelum meninggalkan jabatannya. Hal ini memberikan peluang bagi Mossad untuk menguasai wewenang politik yang ia tinggalkan, terutama dalam situasi krisis seperti saat ini.
Sebagai bagian dari operasi perubahan rezim, Mossad juga diperkirakan menargetkan tokoh-tokoh lain di Iran yang memiliki pengaruh politik. Upaya ini menggambarkan strategi yang lebih luas, yaitu memecah kekuatan rezim Iran dari dalam dengan memanfaatkan kesempatan kekosongan kepemimpinan. Meski begitu, keberhasilan rencana tersebut bergantung pada kesiapan dan kesetiaan Ahmadinejad terhadap kepentingan Israel.
